Headlines News :

Minggu, 29 September 2013

Arti Asmaul Husna

ASMAUL HUSNA

1) Al-‘Aziz (no 8) Artinya Yang Maha Berkuasa.
Dialah yang Maha perkasa yang tak ada satu pun kekuatan dapat mengalakan-nya.
Tak ada kekuatan di alam semesta ini yang mampu menghalangi kehendak-Nya. Kata Al- Aziz sering muncul didalam kitab suci Al-quran pada ayat – ayat yang berhubungan dengan hukuman. Walupun kekuatan Allah mengalakan segalahnya seperti hal nya pemenang sejati, namun dia menanggukan hukuman. Dia tidak tergesa- gesa menghukum orang yang selalu berbuat maksiat dan dosa.
Orang yang menjalani hidupnya dengan mematuhi perintah Allah, menjadi kuat dan tak terkalahkan, namun tidak menggunakan kekuatannya itu dan tidak pendendam, mencerminkan keindahan nama Al-‘Aziz. Kita dapat menemukan jejak-jejak Al-‘Aziz di dalam diri kita sendiri, jika kita mampu menundukkan hawa nafsu dan hasrat jasmaniah kita, dan memenuhi kebutuhan yang halal dengan cara-cara yang bersih, jujur, dan halal. Jika kita tetap berada dalam batas-batas kebijaksanaan dan pandangan yang jernih terhadap semua pemikiran dan perbuatan kita, niscaya akan kita lihat bagian dari sifat-sifat Allah Al-‘Aziz.
Abd Al-Aziz adalah orang yang diselamatkan Allah dari segala serangan dan selalu beroleh kemenangan atas semua kekuatan yang memusuhinya.
Jika seseorang yang dibutuhkn oleh orang lain membaca Ya Aziz Selama empat puluh hari setelah selesai sholat subuh, tentu dia tidak memerlukan bantuan orang lain dan mampu nembantu orang lain
2) Al-Ghaffar (no 12 ) Artinya Yang Maha Pengampun.
Allah telah memperlihatkan kebaikan dan keindahan, dan meyembuyikan keburukan yang dilakukan terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri, bersama dengan usaha merubah hal yang buruk, atau setidak tidaknya, mnyembuyikanya.
Allah-lah yang menerima tobat dan memberi maaf. Jika kita membuat dosa dengan merusak keserasian yang terdapat di diri kita atau sekeliling kita, yang mungkin saja merupakan dosa paling besar, tetapi kita sadar memohon dan meminta pertolongan Allah untuk kita mengulangi perbuatan semacam itu, jika kita memohon dengan meneteskan air mata karna malu dan meminta ampunan Allah Al-Ghaffar, niskaya Alla akan mengampuni kita… dan bakan mungkin mengubah dosa kita menjadi amal yang baik.
Orang yang berbuat dosa tak ubahnya seperti orang miskin yang jatuh ke dalam pembuangan air. Apakah yang pertama kali harus dilakukannya? Dalam keadaan semacam itu, dia tidak mendapatkan orang lain, dan tidak dapat berdiri sendiri. Kecuali jika dia gila, tidak dapat menyadari keadaan dirinya yang menjijikan, tentu dia akan segera mandi dan dia membersikan diri. Sabun dan air membersikan batin adalah tobat. Celakalah orang yang tidak melihat dan merasakan bau busuk didalam batinya.
Tobat adalah antara pribadi setiap orang dengan Allah; tak perlu ada orang lain yang mendengarkannya. Bahkan tobat tak perlu diucapkan. Allah mengetahui apa yang terlintas di dalam hati kita. Akan tetapi, tobat juga harus disertai dengan niat yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa. Tanda diterimanya tobat kita, dan dimaafkan oleh Allah Al-Ghaffar adalah bahwa dia tidak akan mengizinkan kita untuk mengulangi perbuatan dosa itu lagi.
Abd Al-Ghaffar adalah orang yang diberi sifat pemaaf, yang menutupi dan menyembunyikan kesalahan orang lain, memiliki rasa belas kasihan untuk tidak menganggap kesalahan sebagai kesalahan. Orang seperti itu mengamalkan cara ini kepada orang-orang yang telah diampuni Allah Yang Maha Pengampun. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang memaafkan dan menutupi kesalahan orang lain, niscaya Allah akan mengampuninya dan menyembunyikan dosanya pada hari kiamat.”
Jika seseorang memiliki hati yang bersifat penyayang terhadap kekurangan orang yang ada di sekelilingnya, dan dia membaca ya Ghaffar sebanyak 100 kali setelah shalat jum’at, niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya pada minggu sebelumnya.
Ketika amarah menyala di dalam hati seseorang, kemudian orang itu ingat dan membaca ya Ghaffar, maka amarah itu akan reda.
3) Al-Fattah (no 18) Artinya Yang Maha Pembuka
Dialah pembuka dan pemberi jalan keluar, yang membuka semua yang terkunci, terikat, dan sulit. Ada beberapa hal yang tertutup bagi kita. Ada beberapa keadaan dan persoalan yang terikat pada sebuah simpul. Ada hal-hal yang sulit yang tidak dapat kita ketahui atau kita lewati. Sebagaian diantaranya merupakan hal-hal yang bersifat material: profesi, pekerjaan, perolehan, kekayaan, tempat dan kawan-kawan yang tak kita miliki. Ada hati yang terikat oleh belenggu kesedihan, pikiran yang terbelenggu oleh keraguan atau persoalan-persoalan yang tak dapat diatasi.
Allah Al-Fattah membuka semuanya. Tak ada yang tak tersedia bagi hamba kekasih Allah, yang untuknya Al-Fattah membukakan semua pintu. Tak ada kekuatan yang dapat terus menerus mengunci pintu itu. Akan tetapi jika Allah tidak membuka pintu rahmatnya, maka tak ada kekuatan yang bisa membuka pintu tersebut. Dia memiliki kunci perbendaharaan rahasia suci, yaitu hati manusia, yang sesungguhnya merupakan rumah Allah.
Berdirilah di gerbang rahmat Allah dan ketuklah pintu Al-Fattah. Cepat atau lambat tentu Dia akan membukanya, terus meneruslah berdo’a dan carilah segala sesuatu dari Allah, engkau miskin, Dialah Yang Maha Kaya. Engkau memiliki kebutuhan, Dialah orang yang memenuhi kebutuhan itu. Engkau berada dalam kegelapan, Dialah cahaya. insyaAllah, engkau akan melihat Al-Wahhab ketika Dia membuka pintu itu.
Bukalah olehmu sendiri pintu kasih sayang dan kebaikan hatimu” tolonglah orang-orang yang lebih lemah, agar engkau terselamatkan dari kedzaliman orang yang lebih kuat dari dirimu. Tolonglah orang yang jatuh, agar engkau ditolong juga jika engkau jatuh. Yang terpenting, janganlah engkau menyakiti siapapun, karena hal seperti itu mengunci pintu kasih sayang dan rahmat.
Abd Al-Fattah adalah orang yang melalui usaha telah mengangkat dirinya sendiri ketingkat kesempurnaan, yang dengan pengetahuan dan pengalamannya dia dapat memecahkan persoalan duniawi maupun spiritualnya sendiri dan juga persoalan orang lain. Kemudian Allah memberinya kunci rahasia segala ilmu. Dia membuka belenggu yang kuat, rahasia yang tersembunyi, hati yang sempit, karunia yang tertahan. Bagi orang yang benar-benar ingin membersihkan dirinya dari khayalan, kejahatan, egoisme, amarah, dan kotoran yang lain, disarankan agar setelah shalat shubuh menekan tangan kanannya di atas hatinya seraya membaca Al-Fattah sebanyak 70 kali.
4) Al-Qabidh dan Al-Basit (20+21) Artinya Yang Maha Menyempitkan dan Melapangkan
Dialah yang menyempitkan, dan Dia yang melapangkan. Semua eksistensi berada dalam genggaman kekuasaan Allah. Dia dapat menutupkan tangannya dan mencegah kesejahteraan, kebahagiaan, keluarga, anak-anak, dan kesenangan sehingga tidak sampai kepada kita. Yang kaya menjadi miskin, yang sehat menjadi sakit, yang bahagia menjadi sedih, hati yang senang menjadi sedih, pikirang yang jernih menjadi tertekan, semua ini adalah perwujudan sifat Allah Al-Qabidh.
Kemudian Dia membukakan tangan-Nya dan memberikan kelimpahan, kesenangan, kelapangan dan kemudahan. Inilah perwujudan sifat-Nya Al-Basith.
Allah mengetahui segala sesuatu, Dialah Yang Maha Penyayang, Dialah Hakim, Dialah Yang Membimbing hidup makhluk-Nya. Dialah Kehendak. Kehidupan di Planet ini adalah ujian bagi kita, tetapi Allah tidak akan menguji hamba-hamba-Nya diluar kemampuan mereka. Dia memberikan kepada kita cobaan yang diketahui-Nya dapat kita atasi.
Ketika berada dalam kesempitan, jiwa dan ragamu akan menderita, tetapi esensimu akan mengimbangi keadaan itu dengan kesabaran, yang merupakan sahabat iman.
Allah mencintai orang-orang yang sabar (Ali Imran: 146)
Hikmah dari saat berada dalam kesempitan (Qabidh) itu, yang mungkin saja menjadi sarana untuk menguatkan imanmu, akan membawamu lebih dekat kepada Penciptamu, membuatmu menjadi kekasih-Nya.
Janganlah engkau terlena oleh masa-masa kesenangan dan kelapangan (basith), ketika semua itu terjadi, dengan melupakan Allah di dalam kesenangan dan kebahagiaanmu, dengan menjadi sombong karena mengira bahwa dirimu lah penyebab keberhasilan dan keamananmu. Pada saat itu, kita harus ingat kepada sahabat iman yang lain, yaitu bersyukur (syukur).
Adab, perilaku yang baik merupakan sarana yang dengannya kita dapat menghadapi dan memecahkan persoalan yang mungkin timbul dalam keadaan sempit (qabidh) dan lapang (basith) Ia dapat mencegah kita dari terperosok ke dalam kesesatan, kebingungan, keragu-raguan pada saat depresi, Qabh, dan terlalu bergembira pada saat senang, Basth.
Menjaga keadaan agar seimbang dengan mengetahui bahwa “semua kebaikan dan keburukan berasal dari Allah”, dan bahwa hikmah yang baik yang tak kita ketahui, ada di tangan Allah. Apapun yang terjadi, tambatkan hatimu kepada ajaran dan keridhoan Allah dan teruslah melaksanakan kewajibanmu sebagai hamba Allah yang baik.
Orang yang beriman seperti itu, yang seimbang dan bersungguh-sungguh, tentu akan mendapatkan pertolongan, keridhoan, dan kecintaan Allah.
Abd Al-Qabid adalah orang yang menutupi dirinya sendiri untuk mencegah masuknya pengaruh-pengaruh buruk, dan yang membantu orang lain untuk melakukan hal serupa. Pada saat yang sama, dia tahu bahwa tidaklah baik mengekang egonya dan ego orang lain terlalu ketat, sebab Allah adalah hakim yang paling baik dan mengetahui yang terbaik. Jika seseorang terlalu ketat mengendalikan egonya, maka sama saja dia mencoba mengendalikan takdirnya. Abd Al-Qabid berpegang pada tangan Allah dan seketat yang dikehendaki Allah, Al-Qabd.
Ya Qabidh, adalah dzikir malaikat maut, Izrail. Barang siapa di dzalimi disarankan membaca Ya Qabidh sebanyak 903 kali, maka si dzalim maupun kedzaliman itu akhirnya akan hancur, atau orang itu dilindungi dari keduanya.
Abd Al-Basith, memberikan usaha dengan cuma-cuma dan dari apa yang dimilikinya sesuai dengan kehendak Allah, menghadirkan kebahagiaan di hati para hamba Allah. Dia dermawan pada lahirnya dan dermawan pada bathinnya. Di dalam dirinya juga terdapat rahasia Al-Bathin. Dia membawa apa yang terdapat di dalam batinnya dan di dalam batin orang lain kepermukaan, tetapi dalam melakukan hal itu dan perbuatan yang lain dia tidak bertentangan dengan syari’ah ketentuan-ketentuan Allah.
Ya basith, adalah dzikir malaikat peniup sangkakala, Isrofil. Barang siapa terbiasa membaca nama ini niscaya ia akan beroleh kedamaian di dalam hatinya, terbebas dari stress dan berbagai persoalan, penghasilannya bertambah, dicintai dan dihargai, dan dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain.
5) Al-’Adl (29) Artinya Yang Maha Adil
Keadilan-Nya bersifat mutlak. Keadilan adalah lawan kedzaliman. Kedzaliman menyebabkan penderitaan, kerusakan, dan rasa sakit hati, sedangkan keadilan menjamin kedamaian, keseimbangan, keteraturan, dan keselarasan. Allah Yang Maha Adil adalah musuh orang-orang dzalim: Dia membenci orang-orang yang mendukung kaum dzalim maupun sahabat, simpatisan, dan rekan-rekan mereka. Di dalam Islam, apapun bentuk kedzaliman diharamkan. Adil adalah kemuliaan dan pertanda kebaikan seorang muslim.
Dua hal yang berlawanan ini – keadilan dan kedzaliman – mempunyai implikasi yang luas dan lebih penting daripada hanya sekedar akibat-akibat moral dan social belaka. Keduanya setara dengan keselarasan lawan ketidakselarasan, keteraturan lawan kekacauan, benar lawan salah. Jika mengungkapkan kedermawanannya seseorang memberikan kepada orang kaya, memberikan pedang kepada para ilmuwan, dan memberikan guru buku kepada tentara, maka dalam hal tertentu dianggap dzalim, karena pedang hanya cocok bagi tentara, buku bagi para ilmuwan dan si miskinlah yang membutuhkan uang. Akan tetapi, jika Allah membuat hal yang sama maka tindakannya itu adil, karena Dia melihat segala yang mendahulu dan yang kemudian, yang dhahir dan yang bathin. Dialah yang Maha Mengetahui, yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, keadilan yang mutlak. Dia menciptakan sebagian indah dan sebagian yang lain jelek, sebagian kuat dan yang lainnya lemah. Lalu Dia membuat yang indah menjadi jelek, yang kuat menjadi lemah, yang kaya menjadi miskin, yang bijaksana menjadi bodoh, yang sehat menjadi sakit. Semuanya benar.
Tampak bagi sebagian kita adalah tidak adil bahwa ada orang yang lumpuh, buta, tuli, kelaparan, gila, dan bahwa ada anak muda yang mati.
Allah adalah pencipta segala keindahan dan keburukan, kebaikan dan kejahatan. Dalam hal ini ada rahasia yang sulit dimengerti. Tapi setidak-tidaknya, kita memahami bahwa sering kali orang harus mengenal lawan kata dari sesuatu untuk memahaminya. Orang yang tidak pernah merasakan kesedihan, tidak akan mengenal kebahagiaan. Jika tidak ada yang buruk, kita tidak akan mengenal keindahan. Baik dan buruk sama pentingnya. Allah menunjukkan yang satu dengan yang lain, yang benar dengan yang salah, dan menunjukkan kepada kita akibat dari masing-masingnya. Dia memperlihatkan pahala sebagai lawan kata dari siksaan. Lalu diperselisihkan-Nya kita untuk menggunakan penilaian kita sendiri. Sesuai dengan takdir-Nya, masing-masing mendapatkan keselamatan dalam penderitaan dan rasa sakit, atau kutukan dalam kekayaan. Allah mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk-Nya. Hanya Allah yang mengetahui nasib kita. Perwujudan dari nasib itu adalah keadilan-Nya.
Abd Al-Adl adalah orang yang pertama-tama memberlakukan terhadap dirinya sendiri apa yang ingin diberlakukannya kepada orang lain. Perbuatannya tak pernah didasarkan atas rasa marah, dendam, atau kepentingan diri sendiri: perbuatan itu tak pernah merugikan orang lain. Dia bertindak dan berbuat sesuai dengan hukum Allah. Tetapi orang seperti itu mengetahui bahwa keadilan Tuhan tidaklah seperti yang dibayangkan manusia. Dia memberikan hak-hak mereka sesuai dengan hak yang mereka miliki.
Orang harus berbuat adil dalam memperlakukan orang lain, walaupun dia bermusuhan dengan mereka. Jika orang seperti itu menulis nama ini di atas sepotong roti dan memakannya pada malam jum’at, niscaya musuhnya itu akan melihat kebenaran dan tunduk kepadanya, insyaAllah.
6) Al-Ghafur (34) Artinya Yang Maha Pengampun
Dialah Yang Maha Pengampun. Salah satu aspek dari sifat pengampun adalah menyembunyikan dan memperlakukan kesalahan-kesalahan kita seakan-akan tidak pernah ada. Allah memperlihatkan kemurahan itu melalui seluruh dimensi dari nama ini. Ada tiga pengertian dari sifat pengampun Allah, tiga sifat ketuhanan yang terpisah tetapi saling berkaitan satu sama lain, yaitu: Al-Ghaffar, Al-Ghafir dan Al-Ghafur.
Al-Ghafir adalah sifatnya sifat yang menyembunyikan aib hamba-hamba-Nya agar mereka dapat hidup berdampingan saling mempercayai, dan dapat bekerjasama, mencintai sesama dan saling menghormati satu sama lain. Sebaliknya, jika Allah Al-Ghafir tidak menyembunyikan kesalahan-kesalahan kita, pendapat-pendapat kita yang merugikan, pikiran jahat, dan perasaan benci, niscaya setiap orang akan saling menjauhi satu sama lain, tentu tidak akan ada masyarakat atau keluarga.
Selanjutnya, Allah Al-Ghafur menyembunyikan kesalahan-kesalahan kita di alam arwah dan malaikat persis seperti yang dilakukannya di dalam alam manusia. Para malaikat melihat hal-hal yang tak dapat kita lihat di dunia ini. Allah menyembunyikan kesalahan-kesalahan kita dari mereka agar kita tidak menjadi malu di akhirat. Melalui nama ini, kita akan mendapatkan penghargaan dan kedekatan yang sama dari roh-roh dan para malaikat yang dari mereka dosa kita disembunyikan oleh Allah Al-Ghafur, yang ampunan-Nya telah mengizinkan kita berada di tengah-tengah orang lain.
Nama Allah Al-Ghaffar merupakan nama yang paling sempurna dalam ampunan. Orang yang kesalahan-kesalahannya disembunyikan dari orang lain berarti dilindungi dari rasa malu di depan mereka, namun dia tetap merasa malu pada dirinya sendiri. Setiap orang merasakan penderitaan karena perbuatan-perbuatannya. Dengan rahmat-Nya Allah Al-Ghaffar menyembunyikan kesalahan seseorang bahkan dari dirinya sendiri dan membuatnya menjadi lupa dengan tujuan untuk meringankan penderitaannya.
Ingatlah Al-Ghafir, tirai penutup kesalahan-kesalahan kita dari penglihatan orang lain; Al-Ghafur yang menyimpan pengetahuan mengenai kesalahan-kesalahan kita bahkan dari malaikat sekalipun; dan Al-Ghafar yang melapangkan hati kita dari penderitaan karena terus menerus mengingat kesalahan-kesalahan kita. Terhadap kasih sayang itu tidakkah kita harus bersyukur? Tidakkah kita harus mengakui dosa-dosa kita, bertobat seraya menangis, memohon ampunan-Nya.
Abd Al-Ghafur adalah orang yang memaafkan kesalahan dan menyembunyikan kekurangan.
Jika seseorang merasa berdosa dan oleh karenanya merasa berat di dalam hatinya, dengan membaca ya Ghafur sebanyak 100 kali setelah shalat jum’at penderitaannya akan hilang. Dan jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuni dosa itu.
7) Al-Qayyum (63) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
Allah ada dengan sendirinya yang kepada-Nya keberadaan segala yang lain bergantung.
Banyak ulama bersepakat bahwa Al-Hayyu Al-Qayyum, Yang Maha Hidup, yang ada dengan sendirinya, merupakan nama terbesar, yang memiliki kekuatan, jika dibaca oleh orang-orang yang di dalam dirinya nama ini menjelma, dapat membangkitkan orang mati. Rasulullah saw bersabda bahwa Nabi Isa as membaca nama ini ketika ia menghidupkan kembali orang mati. Ketika Nabi Musa as membelah dua laut merah, para pengikutnya bertanya kepadanya bagaimana dia berdo’a kepada Tuhannya. Dia berkata bahwa dia membaca Ahiyyan ya Hayy, Syarahiyyan ya Qayyum.
Hadhrah Ali ra meriwayatkan bahwa selama perang badar, ketika dia memeriksa Rasulullah dia menghadapi beliau sedang bersujud memohon Allah, ya Hayyu ya Qayyum atas kemenangan yang Allah berikan kepadanya. Allah bereksistensi dengan sendirinya. Eksistensinya tidak bergantung pada selain dirinya sendiri, dan Dia Maha Tinggi dari eksistensi yang lain. Dialah Yang Memberikan apa yang diperlukan bagi eksistensi segala sesuatu. Dia telah menciptakan sebab-sebab bagi eksistensinya segala sesuatu hingga waktu yang telah ditentukan. Semuanya bereksistensi karena Dia.
jika manusia dapat melihat wujud kita, kehidupan kita, tubuh kita bergantung pada jiwa kita. Kita dapat sedikit memahami kebergantungan segala yang bereksistensi kepada Yang Maha Ada dengan sendirinya. Jiwa mengatur keseluruhan wujud kita. Ketika jiwa meninggalkan raga, meski ragu tersebut tampaknya sama, tetapi dia tidak bernafas tidak melihat, tidak mendengar, tidak bergerak dan akhirnya hancur, karena yang mengatur dan yang menentukan adalah jiwa.
Jiwalah yang bertanggung jawab atas kehidupan, eksistensi, keteraturan dan keserasian di dalam seluruh makhluk. Sang makhluk – ilmu, keindahan, kekuatan, nyawanya hingga sel yang terakhir, atom yang terakhir – setiap saat membutuhkan jiwa, jika jiwa meninggalkannya maka kesemua sifat itu pun hilang.
Abd al-Qayyum adalah orang yang menyaksikan semua bereksistensi karena Allah, dan menjadi alat bagi manifestasi Al-Qayyum dengan memenuhi kebutuhan orang lain atas nama Allah.
Jika orang yang menghabiskan banyak waktunya yang berharga untuk tidur, maka sebelum tertidur hendaknya ia membaca alif lam mim, Allahu la ilaaha illa huw al- Hayy al-Qayyum, (“Alif, Lam, Mim, Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Ada dengan sendirinya”, Q.S Al-Baqarah: 255), maka kantuknya akan hilang.
Di pihak lain, jika orang yang menderita insomnia (penyakit sulit tidur) membaca wa tahsabuhum aiqhadzan wa hum ruqud (“ Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur”, Q.S Al-Kahfi: 18).

8) Al-Batin (76) Artinya Yang Tersembunyi
Allah Maha Tersembunyi, eksistensi-Nya tampak dan sekaligus pula tersembunyi, Dia tampak karena tanda-tanda eksistensi-Nya dapat dilihat bahkan oleh orang buta, namun Dzat-Nya tetap tersembunyi dari kita, jika ada sebuah karya-seni tentulah ada seorang seniman yang menciptakannya. Jika ada makhluk pastilah ada pencipta. Jika engkau ada maka diapun ada. Tetapi benar-benar mengenal sang pencipta adalah mustahil bagi makhluk karena pengetahuan, perkiraan, pemahaman si makhluk bersifat terbatas. Oleh karena itu, pemahaman mereka meliki keterbatasan. Allah Yang Maha Tinggi adalah kekal, tidak terbatas, tanpa awal atau akhir. Pengetahuan dan kekauatan-Nya tidak pernah habis. Memperkirakan eksistensi yang fana dan bersifat terbatas untuk memahami dan meliputi sebuah konsep yang kekal dan tidak terbatas adalah mustahil, bukankah mustahil memasukkan laut kepada sebuah ember? Meskipun air yang berada ember itu berasal dari laut, tetapi ia bukanlah laut, ia berasal dari laut. Manifestasi sifat-sifat Allah di dalam makhluk-Nya laksana seember air: bukan dia, Tapi berasal dari Dia. Dzat-Nya yang tersembunyi laksana laut yang kedalaman dan luasnya tidak terbatas, tidak dapat diduga.
Secara praktis, mengenal hakikat segala sesuatu, terlepas dari betapapun kecilnya – mengenalnya dalam totalitas, lahir dan bathin, yang berarti memasuki semua rahasianya, merupakan hal-hal yang mustahil. Ilmu pengetahuan, dengan kemajuan yang telah dicapainya hari ini, dan pada apa yang kita bayangkan akan terjadi esok, selalu berakhir dan selamanya akan berakhir dalam kelemahan dan rasa takjub. Dibandingkan dengan segala sesuatu yang diciptakan, kita adalah yang paling dekat kepada diri kita sendiri. Apakah manusia telah dapat mengenal dan memahami dirinya sendiri?
Itulah mengapa Rasulullah saw memerintahkan kita untuk merenungkan sifat-sifat Allah dan melarang kita berfikir lebih jauh dari itu. Hanya Allah yang mengetahui Dzat-Nya. Kita tidak mempunyai kemampuan untuk memikirkannya. Orang-orang yang telah memeksakan pikiran mereka untuk pergi lebih jauh telah kehilangan kecerdasan atau terjerumus ke dalam jurang kekafiran.
Untuk membuka hati seseorang agar menerima manifestasi nama Tuhan ini, keadaan bathin dan penampilan lahirnya seorang mukmin haruslah sama. Dia harus menjauhi perbuatan dosa, apakah dosa itu terlihat oleh orang lain maupun tidak, dan pada saat yang sama ia harus menjauhkan diri dari berupaya menemukan dosa orang lain.
Orang munafik laksana ruangan yang sudah digunakan. Bagian luarnya tampak bersih tetapi bagian dalamnya kotor. Rasulullah bersabda, “Allah tidak melihat kepada paras lahirmu, Dia melihat kepada perbuatanmu yang tersembunyi dan kepada hatimu”,
Abd Al-Bathin adalah hamba yang baik yang kepadanya Allah memberikan pengetahuan mengenai hati, yang batinnya suci, yang di dalamnya spiritualitas mengungguli wujud material. Bagi orang seperti itu, hijab telah dibuka, rahasia menjadi nyata, masa depan dapat diketahui. Mereka menjadi perantara untuk mengajak umat manusia agar membersihkan alam batin mereka dengan cahaya ilahi, seraya mendorong mereka untuk mencapai kesempurnaan spiritual. Allah adalah Yang Maha Tersembunyi, Yang Memperlihatkan sifat-Nya Al-Bathin kepada Nabi Adam as dan tidak hanya mengajarkan kepadanya menifestasi sifat-sifat-Nya melainkan juga makna batin dari sifat-sifat tersebut. Kecuali Adam, bahkan para malaikat pun mengenal Allah hanya melalui manifestasi sifat-sifat-Nya. Itulah perbedaan antara Adam dan para malaikat dalam derajat kesempurnaan iman. Itulah mengapa Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud di hadapan Adam, dan mengapa Adam menjadi guru bagi para malaikat itu.
Jika kaum beriman membiasakan diri membaca nama ini sebanyak 33 kali sehari maka alam bathin mereka akan menjadi terang, mata hati mereka akan terbuka, mereka akan mulai melihat hakikat yang sebenarnya dan memahami makna segala sesuatu, atas izin Allah. Maka akan diperoleh kedamaian, ucapan mereka akan menjadi manis dan bermanfaat. Mereka akan dicintai dan dihormati oleh orang lain.
9) Ar-Ra’uf (83) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang
Allah lah Yang Maha Memberi Ampunan.
Dia talah menciptakan semuanya dengan tangan kekuasaan-Nya, dan Dia dapat memusnahkan semuanya, karna dia tidak membutuhkan makhluk-Nya. Kekuasan dan kemerdekaan ini tidak menghalangi kemampuan-Nya untuk melihat segalahnya, termasuk perbuatan maksiat dan ingkar pada sebagian makhluk-Nya. Sebaliknya, kenyataan bahwa Dia memilih untuk memaaf kan meski Dia dapat melihat dosa-dosa kita, meski Dia adil, mesti Dia dapat menghukum, membuktikan bahwa kasih sayang dan ampunan-Nya tidak terbatas.
Tetapi orang yang tidak beriman, yang keangkuhan tidak ada batasanya, yang percaya bahwa kita memperoleh kehidupan dengan diri kita sendiri dan menjadi penentu nasib kita sendiri, dapat mencerminkan sikap hewan dan tumbuhan. Mereka tidak memiliki bahasa, pemahaman, atau akal. Bagaimanakah mereka merawat keturunan mereka? Bagaimanakah burung membuat sarang? Kenapa mereka menyimpang dari arah tertentu yang mengancurkan mereka, padahal manusia melakukannya? Apakah rahasia pabrik yang didalamnya ulat sutra membagun kepongpongnya dan mengasilkan pakeyan yang sangat indah dan lembut, atau lebih kecil yang membagun sarangnya dan mengasilkan makanan yang paling manis?
Itu semua merupakan tanda ampunan, kasi sayang, dan kemurahan yang ada di sekelilingmun. Tetapi bagi manusia, manfestasi ampunan Allah itu lebih besar. “… menciptakan segala sesuatu karena engkau dan engkau karena Dia.” Dia meciptakanmu sebagai makhluk yang paling baik dan sempurna, sebagai khalifah-Nya untuk memerintah, membimbing dan menggunakan kerajaan-Nya. Dia telah memberimu alat untuk berpikir, berbicara, membaca dan menulis. Dia telah mengajarkanmu apa yang terbaik bagimu, apa yang buruk bagimu, yang benar dan yang salah, yang halal dan yang haram. Jika engkau mencoba menghitung karunia dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya engkau tidak akan dapat menghitungnya. Bagi orang yang beriman dan yang tidak beriman, kemurahan, kasih sayang, dan ampunan-Nya tidak terbatas.
Orang yang di dalam dirinya tercermin ampunan Allah adalh orang yang ingat akan dosa-dosanya dan menyadari bahwa semua karunia Allah ini datang bukan karena mereka. Dia berusaha untuk melayani makhluk Allah dengan pikiran, raga, dan hartanya.
10) Al-Nafi’ (92) Artinya Yang Memberi Manfaat
Allah adalah pencipta kebaikan.
Allalh telah menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya yang paling baik dalam memberikan kepada kita karunia yang membuat kita unik dan unggul diantara seluruh makhluk yang lain. Karunia tertinggi yang diberikan-Nya kepada manusia adalah akal, hati nurani, dan iman. Itu semua adalah sarana yang diajarkan-Nya kepada kita untuk membedakan dan memilih apa yang terbaik bagi diri kita sendiri. Manusia juga unik karena memiliki kehendak satu – satunya di dalam alam semesta, selain Allah. Kehendak kita yang kecil hanya dapat dikalahkan oleh kehendak oleh Allah yang lebih besar. Keterbatasan ini mengandung arti bahwa kita tidaklah bebas dan dibiarkan dengan kehendak kita sendiri.
Allah telah memberikan kita kebebasan hanya agar kita dapat memutuskan apakah kita akan tunduk kepada kehendak Allah, memerintah atas nama-Nya, menjadi makhluk yang terbaik dan memiliki yang terbaik di antara makhluk, ataukah kita akan durhaka menyebabkan kejatuhan diri kita sendiri, dan ditolak dari rahmat Allah seperti halnya Iblis. Kemampuan kita untuk memilih antara kebaikan dan kejahatan bukanlah ujian dari Allah untuk menyaksikan bagaimana hamba-Nya bersikap. Allah telah menciptakan takdir kita sebelum diciptakan kita: oleh karena itu, Dia sudah mengetahui apa yang kita kerjakan. Hanya orang yang beriman kepada takdir yang akan dilindungi dari-nya.
Kasih sayang Allah terus-menerus kepada kita, seperti kebaikan yang telah diciptakan-Nya. Kehendak kita tidak dapat membawa apapun yang terjadi hak orang lain kepada kita, atau mencegah apapuh nasib yang sampai kepada kita. Kita juga tidak dapat memilih apa yang lebih kita sukai, karena seringkali apa yang kita pilih tergelincir dari tangan kita, sedangkan apa yang tidak pernah kita inginkan malah mengejar-ngejar kita.
‘ABD. AL-NAFI’ adalah orang yang melihat dan menerima kebaikan yang telah allah ciptakan dan diwajibkan untuk membagikan karunia Allah, yang terbesar adalah ilmu dan iman, kepada orang yang memang pantas menerimanya. Dia seperti Nabi Hidir, jiwa pernah hadir dalam bentuk materi, yang menolong orang-orang beriman yang membutuhkan, dan mengikuti jalan maupun teladannya. Membaca nama ini akan dihilangkan kesedihan, dan stress. Orang yang ingat untuk membaca nama ini dalam hati ketika sedang melakukan hubungan badan akan mendapatkan bahwa pasangannya menjadi lebih responsive.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMAKASIH

 
Support : Creating Website | Fais | Tbi.Jmb
Copyright © 2011. Moh. Faishol Amir Tbi - All Rights Reserved
by Creating Website Published by Faishol AM
Proudly powered by Blogger