Headlines News :
Logo Design by FlamingText.com

SA'ATUL AN

TARIKHUL AN

ARCHIVE

Tarjim

POST

Tampilkan postingan dengan label Toko Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toko Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 September 2013

Bani Abbasiyah

BAB II
PEMBAHASAN


A. Periodesasi Masa Abbasiyah
Para sejarahwan mengklasifikasi periode Abbasiyah berbeda-beda. Al-Khudri, Guru Besar Ilmu Sejarah dari Universitas Mesir (Egyptian University) membagi ke dalam lima masa, yaitu:
1. Masa kuat-kuasa dan bekerja membangun, berjalan 100 tahun lamanya, dari 132 s.d. 232 H.;
2. Masa berkuasanya panglima-panglima Turki, berjalan 100 tahun lamanya, dari 232 s.d. 334 H.;
3. Masa berkuasanya Bani Buyah (Buwayhid), berjalan 100 tahun lamanya, dari 334 s.d. 447 H.;
4. Masa berkuasanya Bani Saljuk (Seljukiyak), berjalan 100 tahun lamanya, dari 447 s.d. 530 H.;
5. Masa gerak balik kekuasaan politik Khalifah-Khalifah Abbasiyah dengan merajalelanya para panglima perang, selama 125 tahun, dari 530 H. sampai musnahnya Abbasiyah di bawah serbuan Jengiz Khan dan putranya Hulagu Khan dari Tartar pada tahun 656 H.
Menurut B.G. Stryzewki membagi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah menjadi lima periode, yaitu:
1. Periode pertama (132 H./750 M. s.d. 232 H./847 M.), disebut periode pengaruh Persia Pertama;
2. Periode kedua (232 H./847 M. s.d. 334 H./945 M.), disebut periode pengaruh Turki Pertama;
3. Periode ketiga (334 H./945 M. s.d. 447 H./1105 M.), masa kekuasaan Dinasti Buwaihi dalam pemerintahan Khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga pengaruh Persia Kedua;
4. Periode keempat (447 H./1105 M. s.d. 590 H./1195 M.), masa kekuasaan Dinasti Saljuk yang biasa disebut dengan masa pengaruh Turki Kedua;
5. Periode kelima (590 H./1194 M. s.d. 656 H./1258 M.), masa Khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di Baghdad.
Kedua pola periodesasi di atas, pada dasarnya sama dan tidak signifikan. Untuk memudahkan pembahasan, periode Abbasiyah dibagi menjadi empat tahap, yaitu pendirian, kemajuan, kemunduran, dan kehancuran.

B. Pendirian Bani Abbas (750-857 M. – 132-232 H.)
Babak ketiga dalam drama besar politik Islam dibuka oleh Abul Al-Abbas (750-754) yang berperan sebagai pelopor. Irak menjadi panggung besar drama itu. Dalam khotbah penobatannya, yang disampaikan setahun sebelumnya di masjid Kufah, Khalifah Abbasiyah pertama itu menyebut dirinya As-Saffih, penumpah darah, yang kemudian menjadi julukannya. Julukan itu merupakan pertanda buruk karena dinasti yang baru muncul ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih mengutamakan kekuatan dalam menjalankan kebijaksanaannya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, di sisi singgasana Khalifah tergelar karpet yang digunakan sebagai tempat eksekusi. As-Saffah menjadi pendiri dinasti Arab Islam ketiga –setelah Khulafa Ur-Rasyidun dan Dinasti Umayah– yang sangat besar dan berusia lama. Dari 750 M. hingga 1258 M., penerus Abu Al-Abbas memegang pemerintahan, meskipun mereka tidak selalu berkuasa. Orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung konsep sejati keKhalifahan, yaitu gagasan negara teokrasi, yang menggantikan pemerintahan sekuler (mulk) Dinasti Umayah. Sebagai ciri khas keagamaan dalam istana kerajaannya, Khalifah dan pada Shalat Jum’at, Khalifah mengenakan jubah (burdah) yang pernah dikenakan oleh saudara sepupunya, Nabi Muhammad. Akan tetapi, masa pemerintahannya, begitu singkat. As-Saffah meninggal (754-775 M.) karena penyakit cacar air ketika berusia 30-an.
Saudara yang penerusnya, Abu Ja’far (754-775), yang mendapat julukan Al-Mansur adalah Khalifah terbesar Dinasti Abbasiyah. Meskipun bukan seorang muslim yang saleh, dialah sebenarnya, bukan As-Saffah, yang benar-benar membangun dinasti baru itu. Seluruh Khalifah yang berjumlah 35 orang berasal dari garis keturunannya.
Masa kejayaan Abbasiyah terletak pada Khalifah setelah As-Saffah. Penulis mengutip Philiph K. Hitty, bahwa masa keemasan (Golden Prime)Abbasiyah terletak pada 10 Khalifah. Hal berbeda dengan Badri Yatim, yang memasukkan 7 Khalifah sebagai masa kejayaan Abbasiyah, Jaih Mubarok memasukkan 8 Khalifah sebagai masa kejayaan Abbasiyah. Begitu pula, Harun Nasution, hanya memasukkan 6 Khalifah ke dalam katergori sebagai Khalifah yang memajukan Abbasiyah.
Kesepuluh Khalifah tersebut; As-Saffah (750); Al-Manshur (754); Al-Mahdi (775); Al-Hadi (785); Ar-Rasyid (786); Al-Amin (809); Al-Makmun (813); Al-Mu’tashim (833); Al-Watsiq (842); dan Al-Mutawakkil (847).
Dinasti Abbasiyah, seperti halnya dinasti lain dalam sejarah Islam, mencapai masa kejayaan politik dan intelektual mereka segera setelah didirikan. Ke_Khalifahan Baghdad yang didirikan oleh As-Saffah dan Al-Manshur mencapai masa keemasannya antara masa Khalifah ketiga, Al-Mahdi dan Khalifah kesembilan, Al-Watsiq, dan lebih khusus lagi pada masa Harun Ar-Rasyid dan anaknya, Al-Makmun. Karena kehebatan dua Khalifah itulah Dinasti Abbasiyah memiliki kesan baik dalam ingatan publik, dan menjadi dinasti paling terkenal dalam sejarah Islam. Diktum yang dikutip oleh seorang penulis antologi, Ats-Tsa’labi (w. 1038) bahwa dari para Khalifah Abbasiyah. “sang pembuka” adalah Al-Manshur, “sang penengah” adalah Al-Makmun, dan “sang penutup” adalah Al-Mu’tadhid (892-902) adalah benar.




C. Kemajuan Masa Abbasiyah
Masa ini adalah masa keemasan atau masa kejayaan umat Islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban. Kemajuan itu hampir mencakup semua aspek kehidupan:
a. Administratif pemerintahan dan biro-bironya;
b. Sistem organisasi militer;
c. Administrasi wilayah pemerintahan;
d. Pertanian, perdagangan, dan industri;
e. Islamisasi pemerintahan;
f. Kajian dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, geografi, hostoriografi, filsafat Islam, teologi, hukum (fiqh), dan etika Islam, sastra, seni, dan penerjemahan;
g. Pendidikan, kesenian, arsitektur, meliputi pendidikan dasar (kuttab), menengah, dan perguruan tinggi; perpustakaan dan toko buku, media tulis, seni rupa, seni musik, dan arsitek.
Rincian berbagai kemajuan tersebut dapat dilihat dari temuan Philip K. Hitti sebagai berikut.

1. Biro Pemerintahan Abbasiyah
Dalam menjalankan sistem teknis pemerintahan, Dinasti Abbasiyah memiliki kantor pengawas (dewan az-zimani) yang pertama kali diperkenalkan oleh Al-Mahdi; dewan korespondensi atau kantor arsip (dewan at-tawqi) yang menangani semua surat resmi, dokumen politik serta instruksi dan ketetapan Khalifah; dewan penyelidik keluhan; departemen kepolisian dan pos. Dewan penyelidik keluhan (dewan an-nazhar fi al-mazhalini) adalah sejenis pengadilan tingkat banding, atau pengadilan tinggi untuk menangani kasus-kasus yang diputuskan secara keliru pada departemen administratif dan politik. Cikal bakal dewan ini dapat dilacak pada masa Dinasti Umayah, karena Al-Mawardi meriwayatkan bahwa Abd. Al-Malik adalah Khalifah pertama yang menyediakan satu hari khusus untuk mendengar secara langsung permohonan dan keluhan rakyatnya. Umar II meneruskan praktik tersebut. Praktek itu kemudian diperkenalkan oleh Al-Mahdi ke dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah, penggantinya Al-Hadi, Harun, Al-Makmun dan Khalifah selanjutnya menerima keluhan itu dalam sebuah dengar publik; Al-Muhtadi (869-870) adalah Khalifah terakhir yang memelihara kebiasaan tersebut. Raja Normandia, Roger II, (1130-1154) memperkenalkan lembaga tersebut ke Sisilia, yang kemudian mengakar di daratan Eropa.

2. Sistem Militer
Sistem militer terorganisasi dengan baik, berdisiplin tinggi, serta mendapat pelatihan dan pengajaran secara reguler. Pasukan pengawal Khalifah (hams) mungkin merupakan satu-satunya pasukan tetap yang masing-masing mengepalai sekelompok pasukan. Selain mereka ada juga pasukan bayaran dan sukarelawan, serta sejumlah pasukan dari berbagai suku dan distrik. Pasukan tetap (jund) yang bertugas aktif disebut murtaziqah (pasukan yang dibayar secara berskala oleh pemerintah). Unit pasukan lainnya disebut muta-thawwi’¬ah (sukarelawan), yang hanya menerima gaji ketika bertugas. Kelompok sukarelawan ini direkrut dari orang badui, petani, dan orang kota. Pasukan pengawal istana memperoleh bayaran lebih tinggi, bersenjata lengkap, dan berseragam. Pada masa-masa awal pemerintahan Khalifah Dinasti Abbasiyah, rata-rata gaji pasukan infanteri, disamping gaji dan santunan rutin sekitar 960 dirham pertahun, pasukan kalaveri menerima dua kali lipat dari itu.

3. Wilayah Pemerintahan
Pembagian wilayah kerajaan Umayah ke dalam provinsi yang dipimpin oleh seorang Gubernur (tunggal amir atau ‘amil) sama dengan pola pemerintahan pada kekuasaan Byzantium dan Persia. Pembagian ini tidak mengalami perubahan berarti pada masa Dinasti Abbasiyah. Provinsi Dinasti Abbasiyah mengalami perubahan dari masa ke masa, dan klasifikasi politik juga tidak selalu terkait dengan klasifikasi geografis, seperti yang terekam dalam karya Al-Ishthakhri, Ibnu Hawqal, Ibn Al-Faqih, dan karya-karya sejenis. Berikut ini merupakan provinsi utama pada masa awal ke_Khalifahan Baghdad: 1) Afrika di sebelah barat Gurun Libya bersama dengan Sisilia; 2) Mesir; 3) Suriah dan Palestina, yang terkadang dipisahkan; 4) hijaz dan Yamamah (Arab tengah); 5) Yaman dan Arab Selatan; 6) Bahrain dan Oman; 7) Sawad atau Irak (Mesopotamia bawah), dengan kota utamanya setelah Baghdad, yaitu Kufah dan Wash; 8) Jazirah (yaitu kawasan Assyiria Kuno, bukan semenanjung Arab) dengan Ibukota Mosul; 9) Azerbaijan, dengan kota-kota besarnya, seperti Ardabil, Tibriz, dan Maraghah; 10) Jibal (perbukitan, Media Kuno), kemudian dikenal dengan Irak Ajami (iraknya orang Persia), dengan kota utamanya adalah Ramadan.

4. Perdagangan dan Industri
Sejak masa Khalifah kedua Abbasiyah, Al-Manshur, sumber Arab paling awal yang menyinggung tentang hubungan Maritim Arab dan Persia dengan India dan Cina berasal dari laporan perjalanan Sulaiman At-Tajir dan para pedagang Muslim lainnya pada abad ke-3 Hijriah. Tulang punggung perdagangan ini adalah sutra, kontribusi terbesar orang Cina kepada dunia barat. Biasanya jalur perdagangan yang disebut “jalan sutra”, menyusuri Samarkand dan Turkistan Cina, sebuah wilayah yang kini tidak banyak dilalui dibanding wilayah-wilayah dunia lainnya yang sudah dihuni dan berperadaban. Barang-barang dagangan biasanya diangkut secara estafet; hanya sedikit Khalifah yang menempuh sendiri perjalanan sejauh itu. Akan tetapi hubungan diplomatik telah dibangun sebelum orang Arab terjun ke dunia perdagangan, diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas, penakluk Persia, menjadi duta yang dikirim Nabi ke Cina, “Makam” Sa’d masih bisa ditemukan di Kanton. Tulisan-tulisan tertentu pada Monumen Cina lama tentang agama Islam di Cina jelas merupakan tulisan palsu yang dibuat oleh para tokoh agama. Pada ke-8 telah dilakukan pertukaran duta. Dalam catatan Cina abad itu, kata amir al-mukiminin diucapkan dengan hami mo mo ni oleh Abu Al-Abbas, Khalifah dinasti Abbasiyah pertama, A bo lo ba; dan Harun, A lun. Pada masa Khalifah-Khalifah itu terdapat sejumlah orang Islam yang menetap di Cina. Pada mulanya, orang Islam itu dikenal dengan sebutan Ta syih dan kemudian Hui Hui (pengikut Muhammad). Di sebelah barat, para pedagang Islam telah mencapai Maroko dan Spanyol. Seribu tahun sebelum de Lesseps, Khalifah Harun mengemukakan gagasan tentang menggali kanal di sepanjang Its-mus di Suez. Namun perdagangan di Mediterania Arab tidak pernah mencapai kemajuan yang berarti. Laut Hitam juga tidak mendukung perdagangan Maritim, meskipun pada abad ke-10 telah dilakukan perdagangan singkat melaui jalur darat ke Utara dengan orang yang tinggal di kawasan Valda. Namun karena jaraknya yang dekat dengan pusat kota Persia dan kota-kota makmur di Samarkand dan Bukhara, laut Kaspia menjadi titik pertemuan dagang yang favorit. Para pedagang muslim membawa kurma, gula, kapas, dan kain wol juga peralatan dari baja dan gelas.
Pada masa Abbasiyah, orang-orang justru mampu mengimpor barang dagangan, seperti rempah-rempah, kapur harus, dan sutra dari kawasan Asia yang lebih jauh, juga mengimpor gading, kayu eboni, dan budak kulit hitam dari Afrika. Gambaran tentang jumlah keuntungan yang diperoleh Rothschild dan rockefeller pada abad tersebut mungkin juga telah diraih oleh seorang penjual permata dari Baghdad, Ibn Al-Jashshash, yang tetap kaya meskipun Al-Muqhtadhir telah menyita hartanya sebesar 16 juta dinar, dan menjadi keluarga pertama yang dikenal sebagai pengusaha permata. Para pengusaha dari Bashrah yang membawa daganganya dengan kapal laut ke berbagai negeri yang jauh, masing-masing membawa muatan bernilai lebih dari satu juta dirham. Seorang pemilik penggilingan di Bashrah dan Baghdad yang tidak berpendidikan mampu berderma untuk orang miskin sebesar seratus dinar per hari, dan kemudian diangkat oleh A-Mu’tashim menjadi wazirnya.
Tingkat aktifitas perdagangan semacam itu didukung pula oleh pengembangan industri rumah tangga dan pertanian yang maju. Industri kerajinan tangan menjamur di berbagai pelosok kerajaan. Daerah Asia barat menjadi pusat industri karpet, sutra, kapas dan kain wol, satin dan brokat (dibaj), sofa, dari bahasa Arab (suffah) dan kain pembungkus bantal, juga perlengkapan dapur dan rumah tangga lainnya. Mesin penganyam Persia dan Irak membuat karpet berkulitas tinggi. Ibu Al-Musta’in memiliki karpet yang dipesan khusus seharga 130 juta dirham dengan corak berbagai jenis burung dari emas yang dihiasi batu rubi dan batu-batuan indah lainnya. Sebuah pusat industri di Baghdad yang namanya diambil dari nama seorang pangeran Umayah, Attab memberi merek kainnya dengan nama ‘attabi yang pertama kali dibuat disana pada abad ke-12. Kain tersebut ditiru oleh pengrajin Arab di Spanyol, dan terkenal di Prancis, Italia dan negara Eropa lainnya dengan nama tabi. Istilah tersebut kemudian berubah menjadi tabby, yang merujuk pada seekor kucing yang unik dan berwarna. Kufah memproduksi kain sutra atau separuh sutra untuk penutup kepala yang masih digunakan hingga sekarang dengan nama kuftyah. Tawwaj, Fasa dan kota-kota lainnya di Paris memiliki sejumlah pabrik kelas satu yang membuat karpet, sulaman, brokat, dan gaun panjang untuk kalangan atas. Barang-barang semacam itu dikenal sebagai Thiraz (dari bahasa Persia) yang memuat nama atau kode sultan.

5. Perkembangan Bidang Pertanian
Bidang pertanian maju pesat pada awal pemerintahan Dinasti Abbasiyah karena pusat pemerintahannya berada di daerah yang sangat subur, di tepian sungai yang dikenal dengan nama Swad. Pertanian merupakan sumber utama pemasukan negara dan pengolahan tanah hampir sepenuhnya dikerjakan oleh penduduk asli, yang statusnya mengalami peningkatan pada masa rezim baru. Lahan-lahan pertanian yang terlantar, dan desa-desa yang hancur di berbagai wilayah kerajaan diperbaiki dan dibangun kembali secara bertahap. Daerah rendah di daerah Tigris-Efrat, yang merupakan daerah terkaya setelah Mesir, dan dipandang sebagai surga Aden, mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Mereka membuka kembali saluran irigasi yang lama dari sungai Efrat, dan membuat saluran irigasi yang baru sehingga membentuk sebuah “jaringan yang sempurna”.
Ada 113 kanal besar pertama, yang disebut Nahr Isa setelah digali kembali oleh keluarga Al-Manshur, menghubungkan alirang sungai Efrat di Anbar sebelah barat laut dengan sungai Tigris di Baghdad. Salah satu cabang utama nahr Isa adalah Sharah. Kanal terbesar kedua adalah Nahr Sharshar yang bertemu dengan sungai Tigris di daerah Madain. Kanal ketiga adalah Nahr Al-Malik (“sungai raja”), yang tersmbung ke sungai Tigris di bawah Madain. Di bawah dua sungai itu terdapat Nahr Kutsa dan Sharah besar, yang mengairi sejumlah saluran. Kanal lainnya Dujayl (sungai yang lebih kecil dari Diljah, Tigris), yang awalnya menghubungkan Tigris dan Efrat, semakin dangkal pada abad ke-10, dan nama itu kemudian menjadi nama kanal baru berbentuk oval, yang merupakan cabang dari sungai Tigris di bawah Kadisiyah dan membuat beberapa cabang lain sebelum akhirnya bertemu kembali dengan sungai Tigris. Kanal lainnya yang kurang penting adalah Nahr Ash-Shilah yang di gali di wash oleh Al-Mahdi.
Para ahli geografi Arab menyebutkan beberapa Khalifah yang “menggali” atau “membuka” saluran, yang dalam kebanyakan kasus, sebenarnya hanya menggali dan membuka kembali kanal-kanal yang pernah ada sebelumnya sejak masa Babilonia. Di Irak dan Mesir, yang dilakukan adalah mengaktifkan kembali jaringan kanal lama. Bahkan, sebelum Perang Dunia Pertama, Sir William Willcock yang ditugaskan oleh pemerintah Utsmani untuk mengkaji persoalan irigasi di Irak, merekomendasikan untuk membuka lagi aliran sungai yang lama, dari pada membangun kanal-kanal yang baru.
Tanaman asli Irak terdiri atas gandum, padi, kurma, wijen, kapas, dan rami. Daerah yang sangat subur berada di bantaran tepian sungai ke selatan, Sawad, yang menumbuhkan berbagai jenis buah dan sayuran, yang tumbuh di daerah panas maupun dingin. Kacang, jeruk, terong, tebu, dan beragam bunga, seperti bunga mawar dan violet juga tumbuh subur.

6. Islamisasi Masyarakat
Sebanyak 5.000 orang Kristen Banu Tanukh di dekat Aleppo mengikuti perintah Khalifah Al-Mahdi untuk masuk Islam. Proses konversi secara normal berjalan lebih gradual, damai dan bersifat pasti. Kebanyakan konversi yang dilakukan oleh penduduk taklukan didorong oleh motif kepentingan individu, agar terhidar dari pajak dan sejumlah aturan lain yang membatasi, agar mendapat prestise sosial dan pengaruh politik, serta menikmati kebebasan yang lebih besar. Penduduk Persia baru beralih ke agama Islam pada abad ketiga setelah wilayah itu dikuasai Islam. Sebelumnya mereka menganut Zoroaster.

7. Bidang Kedokteran
Dari penulisan Ibnu Maskawayh, kita mendapatkan sebuah risalah sistematik berbahasa Arab paling tua tentang Optalmologi. Belakangan ini sebuah buku berjudul Al-‘Asyr Maqalat fi Al-‘Ayn (Sepuluh Risalah tentang Mata) yang dianggap sebagai karya muridnya Hunayn ibn Ishaq, telah diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai buku teks tentang optalmologi paling awal yang kita miliki. Minat orang Arab terhadap ilmu kedokteran diilhami oleh Hadits Nabi yang membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kelompok: teologi dan kedokteran. Dengan demikian, seorang dokter sekaligus merupakan seorang teolog.
Ali ibn Al-Abbas (Haly Abbas, w. 994), yang awalnya menganut ajaran Zoroaster, sebagaimana terlihat dari namanya, Al-Majusi, dikenal sedbagai penulis buku Al-Kitab Al-Maliki (buku raja, Liber Regius), yang ia tulis untuk raja Buwaihi, Adhud Ad-Dawlah Fanna Khusraw, yang memerintah antara 949 hingga 983. karya ini yang disebut juga Kamil Ash-Shind’ah Ath-Thibbiyyah, sebuah “kamus penting yang meliputi pengetahuan dan praktik kedokteran”.
Nama paling terkenal dalam catatan kedokteran setelah Ar-Razi adalah ibnu Sina (Avicenna, yang masuk ke bahasa Latin melalui bahas Ibrani, Aven Sina, 980-1037, yang disebut oleh orang Arab sebagai Asy-Syaikh Ar-Ra’is, “pemimpin” (orang terpelajar) dan “pangeran” (para pejabat). Ar-Razi lebih menguasai kedokteran dari pada Ibnu Sina, sedangkan Ibnu Sina lebih menguasai filsafat dari pada Ar-Razi. Dalam diri seorang dokter, filsof, dan penyair inilah, ilmu pengetahuan Arab mencapai titik puncaknya dan berinkarnasi.
Diantara karya-karya ilmiahnya, dua buku yang paling unggul adalah Kitab Asy-Syifa’ (buku tentang penyembuhan), sebuah buku ensiklopedia filsafat yang didasarkan atas tradisi Aristotelian yang telah dipengaruhi oleh neo-Platonisme dan teologi Islam, serta Al-Qanun fi Ath-Thibb, yang merupakan kodifikasi pemikiran kedokteran Yunani-Arab. Teks berbahasa Arab dari buku Al-Qanun diterbitkan di Roma pada 1593, dan kemudian menjadi salah satu buku berbahasa Arab tertua yang pernah diterbitkan. Diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona pada abad ke-12, buku tersebut, dengan semua kandungan ensiklopedinya, susunan yang sistematis dan penuturannya yang filosofis, segera menempati posisi penting dalam literatur kedokteran masa itu, menggantikan karya-kaya Galen, Ar-Razi, dan Al-Majusi, serta menjadi buku teks pendidikan kedokteran di sekolah-sekolah Eropa.

8. Pendidikan, Perpustakaan, dan Toko Buku
Lembaga pendidikan Islam pertama untuk pengajaran yang lebih tinggi tingkatannya adalah Bait Al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) yang didirikan oleh Al-Makmun (830 M.) di Baghdad, ibukota negara. Selain berfungsi sebagai biro penerjemahan, lembaga ini juga dikenal sebagai pusat kajian akademis dan perpustakaan umum, serta memiliki sebuah observatorium. Pada saat itu, observatorium- observatorium yang banyak bermunculan juga berfungsi sebagai pusat-pusat pembelajaran astronomi. Fungsi lembaga itu persis sama dengan rumah sakit, yang pada awal kemunculannya sekaligus berfungsi sebagai pusat pendidikan kedokteran. Akan tetapi, akademi Islam pertama yang menyediakan berbagai kebutuhan fisik untuk mahasiswanya, dan menjadi model bagi pembangunan akademi-akademi lainnya adalah Nizhamiyah yang didirikan pada tahun 1065-1067 oleh Nizham Al-Mulk, seorang menteri dari Persia pada ke_Khalifahan Bani Saljuk, Sultan Alp Arslan, dan Maliksyah, yang juga merupakan penyokong Umar Al-Khayyam. Dinasti Saljuk, sebagaimana Dinasti Buwaihiyyah dan sultan-sultan non-Arab lainnya yang mengemban kekuasaan besar atas kehidupan umat Islam, bersaing satu sama lain dalam hal pengembangan seni dan pendidikan yang lebih tinggi.
Perpustakaan (khizanat al-kutub) dibangun di Syiraz oleh penguasa Buwaihi, Adud Ad-Dawlah (977-982) yang semua buku-bukunya disusun di atas lemari-lemari, didafar dalam katalog, dan diatur dengan baik oleh staff administrator yang bekerja secara bergiliran. Pada abad yang sama, kota Bashrah memiliki perpustakaan yang di dalamnya para sarjana bekerja dan mendapatkan upah dari pendiri perpustakaan. Dan kota Rayy terdapat sebuah tempat yang disebut Rumah Buku. Dikatakan bahwa tempat itu menyimpan ribuan manuskrip yang diangkut oleh lebih dari empat ratus ekor unta. Seluruh naskah itu kemudian didaftar dalam sepuluh jilid katalog.
Selain perpustakaan, gambaran tentang budaya baca pada periode ini bisa dilihat dari banyaknya toko buku. Toko-toko itu, yang juga berfungsi sebagai agen pendidikan, mulai muncul sejak awal ke_Khalifahan Abbasiyah. Al-Ya’qub meriwayatkan bahwa pada masanya (sekitar 891) ibukota negara diramaikan oleh lebih dari seratus toko buku yang berderet di satu ruas jalan yang sama. Sebagian toko tersebut, sebagaimana toko-toko yang muncul di Damaskus dan Kairo.

D. Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Faktor-faktor Penyebab Kemunduran
a. Faktor Intern
1) Kemewahan hidup di kalangan penguasa
Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap Khalifah cenderung ingin lebih mewah daripada pendahulunya. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki untuk mengambil alih kendali pemerintahan.
2) Perebutan kekuasaan antara keluarga Bani Abbassiyah
Perebutan kekuasaan dimulai sejak masa Al-Makmun dengan Al-Amin. Ditambah dengan masuknya unsur Turki dan Parsi. Setelah Al-Mutawakkil wafat, pergantian Khalifah terjadi secara tidak wajar. Selebihnya, para Khalifah itu wafat karena dibunuh atau diracun dan diturunkan secara paksa.
3) Konflik keagamaan
Sejak terjadinya konflik antara Muawiyah dan Khalifah Ali yang berakhir dengan lahirnya tiga kelompok umat: pengikut Muawiyah, Syi’ah, dan Khawarij, ketiga kelompok ini senantiasa berebut pengaruh. Yang senantiasa berpengaruh pada masa keKhalifahan Muawiyah maupun masa keKhalifahan Abbasiyah adalah kelompok Sunni dan kelompok Syi’ah. Walaupun pada masa-masa tertentu antara kelompok Sunni dan Syi’ah saling mendukung, misalnya pada masa pemerintahan Buwaihi, antara kedua kelompok tak pernah ada kesepakatan.

b. Faktor Ekstern
1) Banyak pemberontakan
Banyaknya daerah yang tidak dikuasai oleh Khalifah, akibat kebijaksanaan yang lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam, secara real, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan Gubernur-Gubernur yang bersangkutan. Akibatnya, provinsi-provinsi tersebut banyak yang melepaskan diri dari genggaman penguasa Bani Abbas. Adapun cara provinsi-provinsi tersebut melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad adalah: Pertama, seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti Daulah Umayah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko. Kedua, seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh Khalifah, kedudukannya semakin bertambah kuat, kemudian melepaskan diri, seperti Daulat Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyah di Kurasan.
2) Dominasi Bangsa Turki
Sejak abad kesembilan, kekuasaan militer Abbasiyah mulai mengalami kemunduran. Sebagai gantinya, para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki, kemudian mengangkatnya menjadi panglima-panglima. Pengangkatan anggota militer inilah, dalam perkembangan selanjutnya, yang mengancam kekuasaan Khalifah. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Waluapun Khalifah dipegang oleh Bani Abbas, di tangan mereka, Khalifah bagaikan boneka yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, merekalah yang memilih dan menjatuhkan Khalifah yang sesuai dengan politik mereka.
Khalifah Dinasti Bani Abbasiyah yang berkuasa pada masa kekuasaan Bangsa Turki I, mulai Khalifah ke-10, Khalifah Al-Mutawakkil (tahun 232 H.) hingga Khalifah ke-22, Khalifah Al-Mustaqfi Billah (Abdullah Sunni-Qasim tahun 334 H). pada masa kekuasaan bangsa Turki II (Banu Saljuk), mulai dari Khalifah ke-27, Khalifah Muqtadie bin Muhammad (tahun 467 H.) hingga Khalifah ke-37, Khalifah Musta’shim bin Mustanshir (tahun 656 H.).
3) Dominasi Bangsa Persia
Masa kekuasaan bangsa Parsi (Banu Buyah) berjalan lebih dari 150 tahun. Pada masa ini, kekuasaan pusat di Baghdad dilucuti dan di berbagai daerah muncul negara-negara baru yang berkuasa dan membuat kemajuan dan perkembangan baru.
Pada awal pemerintahan Bani Abbasiyah, keturunan Parsi bekerjasama dalam mengelola pemerintahan dan Dinasti Abbasiyah mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam berbagai bidang. Pada periode kedua, saat keKhalifahan Bani Abbasiyah sedang mengadakan pergantian Khalifah, yaitu dari Khalifah Muttaqi’ (Khalifah ke-22) kepada Khalifah Muthie’ (Khalifah ke-23) tahun 334 H. Banu Buyah (Parsi) berhasil merebut kekuasaan.
Pada mulanya mereka berkhidmat kepada pembesar-pembesar dari para Khalifah, sehingga banyak dari mereka yang menjadi panglima tentara, diantaranya menjadi panglima besar, setelah mereka memiliki kedudukan yang kuat, para Khalifah Abbasiyah berada di bawah telunjuk mereka dan seluruh pemerintahan berada di tangan mereka. Khalifah Abbasiyah hanya tinggal nama saja, hanya disebut dalam do’a-do’a di atas mimbar, bertanda tangan di dalam peraturan dan pengumuman resmi dan nama mereka ditulis atas mata uang, dinar dan dirham.
E. Sebab-Sebab Kehancuran Dinasti Abbasiyah
1. Faktor Intern
a. Lemahnya semangat Patriotisme Negara, menyebabkan jiwa jihad yang diajarkan Islam tidak berdaya lagi menahan segala amukan yang datang, baik dari dalam maupun dari luar.
b. Hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat, sehingga kerusakan moral dan kerendahan budi menghancurkan sifat-sifat baik yang mendukung negara selama ini.
c. Tidak percaya pada kekuatan sendiri. Dalam mengatasi berbagai pemberontakan, Khalifah mengundang kekuatan asing. Akibatnya kekuatan asing tersebut memanfaatkan kelemahan Khalifah.
d. Fanatik madzhab persaingan dan perebutan yang tiada henti antara Abbasiyah dan Alawiyah menyebabkan kekuatan umat Islam menjadi lemah, bahkan hanmcur berkeping-keping.
Perang ideologi antara Syi’ah dari Fatimiyah melawan Ahlu Sunnah dari Abbasiyah, banyak menimbulkan korban. Aliran Qaramithah yang sangat ekstrem dalam tindakan-tindakannya yang dapat menimbulkan bentrokan di masyarakat. Kelompok Hashshashin yang dipimpin oleh Hasan bin Shabah yang berasal dari Thus di Parsi merupakan aliran Ismailiyyah, salah satu sekte Syi’ah adalah kelompok yang sangat dikenal kekejamannya, yang sering melakukan pembunuhan terhadap penguasa Bani Abbasiyah yang beraliran Sunni.
Pada saat terakhir dari hayatnya Abbasiyah, tentara Tartar yang datang dari luat dibantu dari dalam dan dibukakan jalannya oleh golongan Awaliyin yang dipimpin oleh Al-Qamiy.
e. Kemerosotan ekonomi terjadi karena banyaknya biaya yang digunakan untuk anggaran tentara, banyaknya pemberontakan dan kebiasaan para penguasa untuk berfoya-foya, kehidupan para Khalifah dan keluarganya serta pejabat-pejabat negara yang hidup mewah, jenis pengeluaran yang makin beragam, serta pejabat yang korupsi, dan semakin sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah karena telah banyak provinsi yang telah memisahkan diri.
2. Faktor Ekstern
Disintegrasi, akibat kebijakan untuk mengutamakan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada politik, provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai melepaskan diri dari genggaman penguasa Bani Abbasiyah, mereka bukan sekedar memisahkan diri dari kekuasaan Khalifah, tetapi memberontak dan berusaha merebut pusat kekuasaan di Baghdad. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak luar dan banyak mengorbankan umat, yang berarti juga menghancurkan Sumber Daya Manusia (SDM). (Provinsi-provinsi yang melepaskan diri dari Dinasti Abbasiyah, dijelaskan selanjutnya). Yang paling membahayakan adalah pemerintahan tandingan Fathimiyah di Mesir, walaupun pemerintahan lainnya pun cukup menjadi perhitungan para Khalifah di Baghdad. Pada akhirnya, pemerintah-pemerintah tandingan ini dapat ditaklukkan atas bantuan Bani Saljuk atau Buyah.
Lanjuuut..

Minggu, 27 Februari 2011

Aristoteles 1

Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang berpikir (a man is the animal that reason). Dalam ilmu mantiq, kita temukan sebuah rumusan tentang manusia yang juga sekaligus membedakannya dari hewan, yaitu : الإنسان حيوان الناطق yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal pikirannya. Dan karena itu pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang bertanya dan selalu ingin tahu. Pda diri manusia juga melekat kehausan intelektual yang menjelma keanekaragaman pertanyaan. Berpikir adalah bertanya dan bertanya adalah mencari jawaban tentang kebenaran. Setelah tahu tentang sesuatu ternyata ada yang merasa puas tetapi ada pula yang tidak.
Lanjuuut..

Minggu, 13 Juni 2010

Golongan Maturidi

باب الاول سيرة ابى منصور الماتريدى ولاده الماتريدىوحياته اسمه محمد ابن محمد ابن محموذ مشهوربأبى منصور الماتريدى, ولد بما تريدى وهى محلة بسمرقند فيما وراء النهروقد ثبت انه توفى سنة 333 بعد هجرة النبوية, وقد تعلى العلم فى الثالث الأخير من القرن الثالث الهجرى, اي فى الوفت الدى كان المغتله فيه ينالون غصب الشعب, واسكاره جزاء ما اتولوابالبنعهاء والمحد ثين فى الثالث الاول من هذاالقرن نفسه ولاتعرف على وجه اليقين مولده, ولكن الطاهرأنه قول منتصف القراءن لثالث . وقد ثبت قطعا أنه تلقى علوم الفقه الحنفى والكلام على أحدكبار علماء ذلك العصر وهو نصربن يحي البغلى المتوقى سنه 382 وغيره من كبار علماء الأخناف, كأبى نصر العياص وابن بكر احمد الجورحاس وأبى سليمان الحوزحانى حتى اصبح من كبار علماء الأحناف وقد تقلمد غلبه بعض المثاهيرح علماكالام. لقد كان لأبى منصور مناطرات ومجلدلات عديذة مع المعترله فى الأمور التى خالفهم فيها, وقد اتحدفى الهدفى مع الأشعرى فى محارجة المعزلة وكان معا صراله, واما فى العقائد فكان على اتفاق مع ماقرره ابو حنيفة فى الجملة, مع مخالفته فى امور. ماتريدى السمرقندروماتريدى البخارى ماتريدى وبخارى هما مدينتان فى ولاية ما ورأالنهروكان الان فى حوالى ابى كستان, ترمنسنتان, كازى كستان, فجانستان تقريبا. ملك هذه الولابه دولاة السمانية فى النصف القرن الثالث هحرية الى اوله الرابع هجرية, وجد هذه دولاة الفور عندما ولايته ماوراء النهروخرسان, وساجزتان وحولية منها دولاة العران, اهتم اسماعيل تطور العلوم فى فتحة سلطاة اسماعيل وكانت هذه العصيمة منتقلة من سمرقندى الى بخارى, وحائت مدارس فى ذلك الصرحتى انتشرت دراسة العلمية فى سمرقيدى التى كانت العصية لتلك البلاد, ولد اكثر العلماء فى هذه الولاية منهم المعروف الإمام بخارى (194 – 5256) إنتسر مذهب امام ابى حنيفة فى بخارى وسمرقندى الذى بعدم الرؤيا تأثرة فكرة ابى حنيفة فى مذهب علماء هذه الولاية. وولد الماتريدى فى هذه المدينة ونساء معروفا فى عصره وورد فكرة المعتزلة شديدة, اوفكرة شدة فرقة المجسمة هسرية ونحوها, وجاهد الماريدى هذه الفكرة بالمنا قشة والمجادلة والمضافات التى بينت خلافات الافهام لانه زعيم مركاز مذهب الحنافية المسمى باالماتريدية فى النهاية إختلف أراعلماء الماتريدية فى تطوره سمرقندى وبخارى منها مسئلة ألإيمان, افعال العباد, الاستطاعه, الكسب, الفعل. نسأت من هذاالاختلاف بين هذي العرقتبن كما حدث بين الماتريدى والأشعرى الذى ليس فى عقائد الأساسيه المغيرة مهضيه العقيدة. سلوك علم الماتريدى وكان الماتريدى له اساتيد كما كان علماء السلافيون ولكن من يعض اساتيدة وسيلاة الى عليمة الماتريدية, والنهاينها بامام ابى حنيفة وذكرالكافوى كما نقله العابوسى, ان وسلة علمية الماتريدية صادرة من ابى منصورالعياض وكان تلميد ابى بكراحمد الحورحانى وكان استاذ ابابكروكان استاذ سليمان الحوزجانب وكان تلميذ شيخ محمد بن حسن وكان تلميذاالامام ابو حنيفة. وكان الزبيدى فى الاتحاف السادة المتقين تعلم الماتريدى من امام أبى نصرالعياضى وكان من بعض اساتاذة الامام ابوبكراحمد ابن اسحاق إبن صالح الجورحاني (مصنف الفرق والتمييز) وكان ابوبكرالجورجانى وابومنصور العياضى ونصرابن يحي من تلاميذ الامام ابن سليمان بن موسى بن سليمان الجوزحا بن وهذالشيخ تعلم من هذين شيحين (ابو معطى الحاكم ابن عبدالله ابن عبدالله الباخر وابو مقتل الحافض ابن مسلم السمرقندى) وتعلم ايضا من محمدابن مقتل الرزى القاضى الرئى وكان تلميذا احمد ابن حسن, وهذه الاربعة تعلموامن ابن حنيفة مباشرة. الباب الثانى تعاليم الماتريدى اومنهج الماتريدية الكلامى مكان عقل ومعرفة الله لايرى الماتريدى مسوغا للتفليد, بل دمة واورد الادلة العقلية والشرعية على فسادة وعلى وجوب النظروالاستدلال وانه لاسنيل الى العلم الا بالنظر, وهوقريب من اراء المعتزلة والفلاسفة فى هذا, ثم يذكرادلة كثيرة على وجودالله, مستخدماادلةالمغزلة, والفلاسفة فى حدوث الأحسام وانها دليل على وجودالله. أن معرفة الله يمكن ان يدرك وجودهاالعقل كما امرالله سبحان الله تعالى بالنظر فى كثير من ابات القراء ن الكريم. وينقسم الماتريدى التى تقلق بالعقل الى الثلاثة اقسام: - العقل العارف الخير (حسن) لنفسه - العقل العارف الشر (قبيح) لنفسه - العقل الذى لم بعرف الخبراوالشرالابمعيارالشارع (بالنص) صفات الله هوأقرب ما نكون الى السلف فى سائر الصفات, فهو ثييت الاسواء على العرش وبقية الصفات دون تأويل لها ولاتشبيه, اى فى الصفات التى نثبت عند الماتريدية بالعقل لكنهم يؤولون ما عداها, كما أنهم تعتقدون أن صفات الله لاهى هو ولا غيره وهو تناقص منهم فعال الماتريدى ان المدكورفى القراءن الكريم مثل قوله تعالى عليم, خبير, سميع, يصير, صفات الله ولكنه ليس سيئا غير الدات فهى ليست صفات قائمة بذاتها ولا منفكة عن الدات فليسا لها لينونة مستقلة عن الدات حتى يقال ان تعددها نؤدى الى بعددالقدماء ويقررون انها ليست شيئا مغايرا للدات يكادون يتفقون مع المعترلة اسماء الله يوافق فى الاعتقادفى اسماء الله السلف, ويرى أن أسماء الله يوقيفيه فلانطلق على الله اى اسم الاماجاءبه السمع, الاأنه يؤخدعلى الماتريدية انهم لم يفرقوابين باب الإخبار عن الله وبين باب التسميه فأدخلوفى أسمائه ما ليس منهاكالصانع والقديم والشئى والسلف يخالفونهم فى هذاوقد عطل الماتريدية كثير من اسماء الله تعالى وأولوها. اسماء الله وصفاته معرفة من القرأن والحديث الصحيح واجماع الامة, ولابجوزاطلاق الإسم عليه من طريق القياس, واسماالله تسعة وتسعون من قسمان صفات أزلية : واحد و اوال و جمل صفات ازليه بذاته : خالق ورزاق وعادل رؤية الله يرى ان المؤمنين يرون ربهم والكفارلايرونه, ومخالف الأشعرى هنافى أن الماتريدية يرى ان الأدله على إمكان رؤية الله تعالى عقلاغير ممكنة, بينمايستدل عليها ابوالحسن الاشعارى بالعقل, الا انهم حالفواالسلف فنفوالمقابلة والجهة مطلقا, وذلك بسبب نفيهم عن الله علوالذات كماأن اتيانهم للرؤية ونفى الجهةوالمقابلة فيه تناقص فان الله تعالى يرى في جهة العلة أفعال العباد قال الماتريدى يخلف افعال العباد, وهو بعرق بين تقديرالمعاصى والشروروالقضاء بهاوبين فعل هذه المعاصى, فالاول من الله والثانى من العبد بقدرته واختياره وقصده وبمنع ابومنصورمن إضافة الشرالى الله فلايقال : رب فى الأوراثوالحبائث ولوأنه خالق كل شئى وهذاالشق الأخبر معروف عن السلف, امانقسيمه القدرة وجعل العبد فاعلاً باحتيارهوقصده وقدرته من وجه, ولوكان الله هو الفاعل من وجه اخر, فيه حيدعن مذهب السلف فى ذلك ونسبة الماتريدى الفعل الى العبد يقصدونى به أن الله لابخلق فعل العبدالابعدأن يريده العبدويختاره فيصح ذلك العمل كسباً له يجازى به حسب إختياره له, وارادته المستقله له العبد مكتسب لعلمه, والله خالق لكسبه, والانسان يصح منه اكتساب الحرمة والسكون والارادة والقول والعلم والنكر ولكن لايصلح منه اكتساب الألوان والأطهمة والروائع والادراك والهداية من الله على وجهبن انانه الحق والدعوة اليه وتصب الأدلة عليه ثم أن يخلقها الله فى قلوب عباد افعال الله ان الله تعالى مزه عن العبث, وان أفعاله سبحان الله تعالى لكون على مقتض الحكمة لانه الحكيم العليم, كما وصف بنفسه فى حكمه التكليفى وفى افعاله التكوينية قدارادهذه الحكمة وقصوها, ولكنه – سبحان الله تعالى – فصدها غير فجبر عليها ولايلزم, لانه فختارمريد. فعال لما يريد فلايقال أنه عليه فعل الصلاح اوالأصلح لان الوجوب ينافى الإرادة ويستلزم أن يغيره عقوليته, والله سبحان الله تعالى فوق عباده ولابسال عما يفعل والوجوب عليه بتنض ان نسأل عما يفعل تعالى عن ذلك علواكبيرا قضاء وقدر فى القضاء والقدر هو وسط بين الحبروالاحتبار. فالانسان فاعل فحتارعلى الحقيقه لما بفعله ومكتسب له وهو خلق الله حيث يخلق للإنسان عندما يريد الفعل قدره يتم بها, ومن هنا ينسحق المدح او الدم على هذاالقصد. وهذه القدرة يقسمها الى قسمين : - قدرة ممكنه : وهى ما بسميها :لسلامة الالاتوصحة الاسباب - قدرة مسيره, زائد على القدره الممكنه : وهى التى يقدر الانان بها على الفعل المكلف به مع يسر بفضلا من الله تعالى - وعد ووعيد هذه المسألة فهم الماتريدى مثل فهم المعتزلة يريد ان الله تعالى لابخلق وعيده كما لايخلق وعده. فقد بعد المطعين بالتواب واوعد العصاه بالعقاب فالتواب والعقاب واقعان لامحاله, لان الله صادق فى وعده وعبده. ومنع الماتريدى ان يخلق الله وعده لاان الله وعد بمقتض الحكمه وقال تعالى (ان الله لا يخلف الميعاد) فلذلك فلاحلاف فى الوعدوالوعيد مرتكب الكبيرة ان المؤمن لايخلد فى النار, على هذا الجمع المسلمين, ولذلك اخلفوا فيمن هو المؤمن الذى لايخلق فى النار. وقال الأشاعره والماتريدية لايعدون العمل جزاء من الايمان ولذالك لايخرج عن حظيرة الايمان من برتكب المعاصى, وان له حسابا, عقابا وقد يتعمده الله برحمته. ولذلك يرى الماتريدى أن مرتكب الكبيره لايخلذفى النار ولومات من غير توبة ويقول فى ذلك : ان الله تعالى قد بين فى القراءن الكريم أنه لايجزى على السيئة الابمثلها فقال تعالى : (ومن جاء بالسيئة فلايجزى الامثلهاوهم لايظلمون) ولاشك أن من لايكفرولايشرك به يكون دنبه دون دنب الكافر المشرك, وقدجعل الله تعالى التخليد عقوبة الشرك والكفر فلوعذب صاحب الكبيرة مع وجود التصديف مثل عذابالكافر, لكانت عقوبته زئدة على قدردنبه وهذاخلق فى الوعد والله لا يظلم العبادولايخلق الواعد, ثم المسومة فى الجزاء بين الكافر والمؤمن العاصى مما يخالق حكمة الله تعالى وعدله لان المؤمن العاصى قد جاء بما هو اعطم الخير وهو اليمان ولم يأت بأقبح الشروهو الكفر وفلوخلده. الله فى النار أبدًا لجعل جزاء أقبح السر بدل ثواب افضل الخير ومعتص الدل والحكمة الجزاء بالمثال لابالزيادة الا فى الواجب ثم يقول : رضى الله عنه والحق فى اصحاب الدنوب من لمؤمنين بفوبض أمرهم الى الله تعالى, إن كفا منهم فضلا منه واحسانا ورحمة وان نساء عذابهم بقدردنيهم. فلايخلدون فى النار فيكون اهل الايمان بين الرجاء والحوف فخورله – يقال – العقاب على الصغيرة والعفوعن الكبيرة كما قال تعالى ان الله لا يغير ان يشرك به ويغفرها دون ذلك لمن يشاء ومن يسرك بالله فقد افترى انما عطيما. كلام الله قال الماتريدى بمسألة القرأن مثل قول الاشعرى به بتطرد الكلام الله من الوجهي كلام النفس الذى فى دات الله وقديم ليس حنسامن كلام الا نفسان حروف صوت كلام النفس جعل صفات الله من الزمان ازالى نحن لا نعرف حقيقتها لايستطيع ان يسمع ويقراء الايالو سيلة نبى الله موس عليه السلام لايسمع كلام الله الحقيقى لكن بسمع صوت ماالذى يدل متن الكلام فقط الايمان فى مسائل الايمان : لايقول بمزلة بين المزلتين, ولا يقول مرتكب الكبيرة عن الاسلام ويركن الايمان هو التصديق بالقلب, دون الاقرارباللسان, ومن هنايفرق الماتريدى عن السلف, وعنده لابحور الانشاء فى الايمان, لان الاستسناء يستعمل فى موضع الشكور والطنون, وهو كفرة واهل السنة قالوا بجوارالاعتشناء فى الإيمانو لانه يقع على الاعمال لاعلى اصل الايمان او الشك او الشك فى جود الايمان ايمان هو تصديق بالقلب وتصديق باللسان, تصديق بالقلب هو يقين ونصديق بوحدنية الله تعالى وعترف بالرسول الله تصديقا لهم فيما جاءوابه وتصديق باللسان هوتصديق جمع اصول الدين الاسلام قال محمد فم الدين عبد الحميد فى بداية علامة "والذى تطمئن اليه النفس من هذه المذاهب ان الإيمان هو التصديق وحده, كما ذهب اليه محتفوالأشاعرة, الماتريدية¸ويؤيدهذاالمذهب وجوه. احدها : وقداساراليه السارع ان استعمال القرأن الكريم فى عدة ايات واستعمال الحديث ايضا, حريا على أن محل الايمان هو القلب قال الله تعالى : (اولئك كتب فى قلوبهم الايمان) وقال سبحانه : (ولما يدحل الايمان فى قلوبكم) وقل جل ذكره (الامن اكره وعليه مطمئن بالايمان) وقال رسول الله صلى الله عليه "اللهم ثبت قلبى على دينك مدلت هذه النصوص ونطائرها على ان الايمان فعل القلب, وليس فعل القلب الاالنتصديق. ولابجورلقائل ان يقول : أن المراد فى هذه النصوص بالايمان اللغوى ويسلم أن الايمان اللفوى هو التصديق وحده فحله القلب, فلا ينافى أن الايمان السرعى يشتمل على الاقرارو غيره على انه جزءمن مقيقنه, لأنا يقول : إن الايمان من الألفاظ التى تقلت فى عرف الشرع الى مفى, فيجب ان بجمل لفظه على هذا المعنى فى خطاب الشرع الواحد الثالث : أنه سبحانه جعل الايمان شرطا لصحة الايمان فى نحو قوله حل ذكره (ومن يعمل من الصالحات وهو مؤمن) ونحن يستطيع أن الشرط سيئى غيرمشروط, وهذا يصلح للرد على من جعل الايمان هو الطاعات وحدها اومع التصديق والاقرار الوجه الثالث : أنه سبحانه وتعالى اتيت الايمان لمن ترك بعض الايمان فى نحو قوله سبحانه : وان طائفتان من المؤمنين قتتلوا ......الاية, ولو كانت الايمان جزء من حقيقة الايمان لانستفت الحقيقة بانتفاء جزء منها الوجه الرابع : أنه سبحانه وتعالى معطق الايمان على الايمان فى كثيرمن الايات منها قوله تعالى : ان الدرس امنواوعملوالصالحات كانت لهم خبت الفردوس يزل ولا شك أن الاضلل ان يكون المعطوف غير المطوف عليه فلا يعطف احدالمساويين على الأخر, ولا يعطف جزء الشئى على كله الباب الثلث أما الاختلاف بين الماتريدى والأشعار كما يلى - مسأله القضاء والقدر فعال الماتريدية : ان القدر هوتحديد الله ازلاكل شئى بحده الذى سرجد به من نفع وما يحيط به من زمان ومكان والنضاء : الفعل عند التقيد وقال الاشاعره : ان القضاء هو الارادة الارلية المعضية لنظم الموحودات على ترتيب خاص, والقدر: تعلق ذلك الإراده بالاشياء فى الوقاتها المحصوصه اي أن لاشاعره يرون ان المحبه والرضى والارادة كمن واحد, بينما يرى الماتريدية أن الارادة لا تسلزم الرضى والمحبه - واحتلفوا فى اصل الايمان مذهب الماتريدية الى أن هذه المعرفة واحبه بالشرع لا بالعقل كما تعتقد الماتريدية وذهب الأشاعرة الى عدم وجوب الايمان وعدم بتحريم الكفر قبل بعثة الرسل اختلفوا فى صفة الكلام فترى الماتريدية أن كلام الله لايسمع وانما بسمع ما هوعباره عنه بينما برى الاشاعره جوار سماع كلام الله تعالى - كما احتلفوا فى النبوه هل بشرط فيها الذكورة فجعلها الماتريدية شرط ونفى ذلك الاشاره منها واحتج هذا العريق بقوله تعالى : (واوحينا الى ام موسى) ورد الفريق الاول بأن لإيحاء هذا بمعناه الواسع وهو الالهام وهذه المسأله الاخيرة وهى نبوه السماء وعدمها مما وقع فيه الخلاف بين العلماء الاان الحق أن النبوة محنصة بالرجال وليس هنا موضع بحث هذه القضية بالتفصيل - اختلفوافى الكليف بما يطاق ممنعه الماتريدية وجوزه الاشاعرة - اختلفوافى الحكمة والتعليل فى افعال الله تعالى فأبتثها الماتريدية ولفتوها الاشاعرة - اختلفوافى التحسين والقبيح فقال به الماتريدية وان العقل يدركهما وصنع الاشاعرة ذلك, وقالو : انما يتم التحسن والقبيح بالشرع لابالعقل . وأما الاختلاف بين الماتوردية والمعتزلة فهو: • في مصدر التلقى هل هو العقل أو النقل؟ فذهب المعتزلة إلى أنه العقل، وتوسط الماتردية فقالوا بالعقل فيما يتعلق باإلهيات والنبوات. وأما فيما يتعلق باليوم الأخر فمصدره السمع، وكذا سموا هذه المسائل ونحوها بالسمعيات. • الأسماء أسماء ذات الله عند المعتزلة ثابتة، ولكن بلا دلالة على الصفات، فقالوا: سميع بلا سميع، بصير، بلا بصير... إلى أخره. وعند الماتردية هي ثابتة بدلالته على الصفات الثابتة عندهم إلا اسم الله فليس له دلالة على شيء من الصفات (وقولهم هذا باطل لا معنى له). • الصفات ففى المعتزلة جميع الصفات القائمة بذات الله تعالى. بينما أثبت الماتردية ثمان صفات: العلم والقدرة والإرادة والسمع والبصر والكلام والتكوين. • القرأن يعتقد المعتزلة أنه كلام الله محدث مخلوق. ويعتقد الماتردية أنه كلام الله النفسي قديم أزلي غير مخلوق. • أفعال العباد نفت المعتزلة خلق الله لها وإرادته لها، وإنما هي من العباد، وأثبت الماتردية أنها خلق الله تعالى. وكسب من العباد ل الازهار • الاستطاعة ففى المعتزلة أن تكون مع الفعل بل هي قبله، بينما أثبتها الماتردية قبل الفعل، ومع الفعل. • الرؤية: نفتها المعتزلة وأثبتها الماتردية. • الجنة والنار هما غير مخلوقين ولا موجودتين الأن عند المعتزلة، بل تنشأ في يوم القيامة، وقالت الماتردية بخلقهما الأن. • ينفي المعتزلة نعيم القبر وعذابه والميزان والصراط والحوض والشفاعة لأهل الكبائر، وأثبت الماتردية كل ذلك لورود السمع به. • نفت المعتزلة كرمات الأولياء وأثبتها الماتردية • الإيمان عند المعتزلة قول واعتقاد وعمل، وعند الماتردية هو التصديق بالقلب، ومنهم من زاد الإقرار باللسان. • مرتكب الكبيرة في منزلة بين المنزلتين عند المعتزلة في الدنيا، وإما في الأخرة فهو في النار، وعند الماتردية هو مؤمن كامل الإيمان مع أنه فاسق بمعاصيه، وفي الأخرة هو تحت المشيئة. • إيمان المقلد لا يصح عند المعتزلة، وذهب الماتردية إلى صحته مع الإثم على ترك الاستدلال. • الإيمان عند المعتزلة الإيمان يزيد وينقص، لإدخالهم الأعمال في مسمى الإيمان، ونفت الماتردية ذلك لعدم إدخالهم الأعمال في مسمى الإيمان. الباب الرابع الخلاصة 1. إمام الفرقة الماتوردية يعني اسمه محمد ابن محمد ابن محمود مشهور بأبي منصور الماتردي، ولد بماتوريدي وهي محلة بسمرقندي فيما وراء النهر وقد ثبتت أنه توفي سنة 333 بعد الهجرة النبوية، وقد تلقى العلم في الثلث الأخير من القرن الثالث الهجري، ولا يعرف على وجه اليقين مولده، ولكن الظاهر أنه حول متصف القرن الثالث. 2. الماتوردية ينقسم إلى قسمين: ماتوريدي سمرقندي الذي ينتشر في السمرقندي وبخري الذي ينتشر في البخري، اختلف أراء علماء الماتوردية في تطوره شمرقندي و بخاري منها مسئلة الإيمان، أفعال العباد، الاستطاعة، الكسب والفعل. نشأت من هذا الاختلاف فرقتان، وهما من اتباع أبي حنيفة ولم يحدث تكفير أو تبعيد بينهم وقد حدث هذا الاختلاف بين هذي الفرقتين كما حدث بين الماتريدي والاشعري الذي ليس في عقائد الأساسية المغيرة مهضية العقيدة. 3. الخلاف بين الأشعرية والماتوردية من حيث لون الاعتزال أظهر في الأشعرية بحكم تلمذ الأشعري للمعتزلة عهدا طويلا، كميل إدراك الإيمان بالعقل والمسؤولية حتى قبل ورود الشرع. 4. قال بعض العلماء الخلاف بين الأشعرية والماتوردية بسبب خلاف الأراء بين الإمام الشافعي والإمام أبو حنيفة. 5. وقد انتصر مذهب الماتوردي يكثر من علماء الحنفية مثل فخر الإسلام البزدي، والتفاتزاتي، والتسفى وابن الهمام إلى غيرهم. ولكنهم لم يبلغوا، والحق يقال مبلغ اتباع الأشعري، فرجع ذهب الأشعري وزاد انتشاره وكثير اتباعه. المراجع  Al-qur’an Al-Karim  Tim Karya Ilmiah, 2008, Aliran-Aliran Tehologi Islam (Purna Siswa Aliyah : PP. Lirboyo), cetakan pertama, 2008  مصطفى محمد بن مصطفى, اصول والتريح فرقة الأسلامي(مصرى : مكتبة مسكلة الاسلامى, دون السته)  Drs. Roslan Anwar, M.Ag, Drs. Abdur Rozak, M.Ag. Ilmu Kalam, (Bandung : Pustaka Setia : 2006)  محمد ابو زهرة تاريح المذهب الاسلامية ( القاهر : دار الفكر العربى. دون الستة)  الدكتور سفر بن عبد الرحمن الموالى ظاهرة الارجاء فى الفكر الاسلامي (مصرى: مكتبة مشكة الاسلامية دون السنة)  Harun Nasution, Theologi Islam (Jakarta : VI – Press : 1986)  Ahmad Hanafi M.A. Theologi Islam (Jakarta : Bulan Bintang, 1974)  Departemen Agama RI Al-Aqidah wal Akhlaq (Jakarta : Difrektorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam : 2001)  احمد امين. ظهر الاسلامية ( القاهرة : نهضة المصدية : طبعة الثالثة : 1964 م) جز:4) بسم الله الرحمن الرحيم مقدمه الحمد لله حمدالساكرين بجميع محامده كلها, على جميع نعمائه كلها, حمداكثيرا طيبا مباركا كلما هو أهله. وصلى الله على محمد المصطفى رسول الله الرحمة حاتم النبين وعلى اله وصحبه ومن تبعهم باحسنى الى يوم الدين الطيبين الطاهرين صلاة دائمة تركتها الى يوم الدين, كما صلى على ابراهيم وعلى ال ابراهيم انه حميد مجيد. فقال تعالى : ياايها الدين أمنواكونواقومين لله شهداء بالقسطصلى ولايجرمنكم سنئان قومين لله شهداء بالقسط صلى ولايجرمنكم شنئان قوم على الاتعدلواج أعدلواهو أقرب للتقوى صلى واتقوالله ج ان الله خبير بما تعملون. اما بعد ان هذا البحث البسيط محاولة عن الدارسة فى علم الكلام كماامرالأستاذالمكرام بروفسور حمال الدين ميرى استفاء لشروط الإتراك الإمتحان الاول فى علم الكلام بجامعه معهد هاشم أشعرى العالى بريد ان يجعلنا المقالة التى قددرسناها من قبل. واحد مداهب الاسلامية فى المستوى الاول. وفى هذه المقاله نحن سنبحث من بعض المداهب اهل السنه والجماعة يعنى مذهب المايرتدى من حيث نسبته, منهحه وما بنعلق به, وهو المذهب قد عاش فى تلك الحبلة التى كان السياق فيها لنتائج الفكر والعقل وراء اوفيه من غيره. وفى هذه المقاله اداوجد فيها الصواب فهو من فضل الله ثم اداوحد الحطاء فهو من قصير الكاتب الضعيف قليل العلم والخبرة الفهرس مقدمة ا فهرس ب باب الاول : سيرة ابى منصور الماتريدي • ولاده الماتريدىوحياته 1 • ماتريدى السمرقندى وماتريدى البخارى 1 • سلوك علم الماتريدى 2 باب الثانى : تعاليم الماتريدى اومنهج الماتريدية الكلامى • مكان عقل ومعرفة الله 4 • صفات الله 4 • اسماء الله 5 • رؤية الله 5 • افعال العباد 6 • افعال الله 6 • قضاء وقدر 7 • وعدوالوعيد 7 • مرتكب الكبيرة 7 • كلام الله 8 • ايمان 8 باب الثالث : اما الاختلاف بين الماتريدى والأشعاري واختلافه بين المعتزلة • الاختلاف بين الماتريد, الاشعاري 11 • الاختلاف بين الماتريدى, والمعترله 11 • وأما الاختلاف بين الماتردية والمعتزلة 12 باب الرابع : الخلاصة 15 فرقة الماتوردية كتبها الفقيران إلى رحمة الله : سيف الرزال و أحمد غفراني (( لاستيفاء شروط الإختبار النهائي في الفصل الأول ))   تحت إشراف فضيلة الأستاذ الكريم: بروفسور الدكتور الحاج جمال الدين ميري, م أ رقم دفـتر القيد: 825231150 [ حفظه الله تعالى ونفعنا به وبعلومه آمين ]
Lanjuuut..

Sabtu, 17 April 2010

Bani Abbasiyah

BAB II
PEMBAHASAN


A. Periodesasi Masa Abbasiyah
Para sejarahwan mengklasifikasi periode Abbasiyah berbeda-beda. Al-Khudri, Guru Besar Ilmu Sejarah dari Universitas Mesir (Egyptian University) membagi ke dalam lima masa, yaitu:
1. Masa kuat-kuasa dan bekerja membangun, berjalan 100 tahun lamanya, dari 132 s.d. 232 H.;
2. Masa berkuasanya panglima-panglima Turki, berjalan 100 tahun lamanya, dari 232 s.d. 334 H.;
3. Masa berkuasanya Bani Buyah (Buwayhid), berjalan 100 tahun lamanya, dari 334 s.d. 447 H.;
4. Masa berkuasanya Bani Saljuk (Seljukiyak), berjalan 100 tahun lamanya, dari 447 s.d. 530 H.;
5. Masa gerak balik kekuasaan politik Khalifah-Khalifah Abbasiyah dengan merajalelanya para panglima perang, selama 125 tahun, dari 530 H. sampai musnahnya Abbasiyah di bawah serbuan Jengiz Khan dan putranya Hulagu Khan dari Tartar pada tahun 656 H.
Menurut B.G. Stryzewki membagi masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah menjadi lima periode, yaitu:
1. Periode pertama (132 H./750 M. s.d. 232 H./847 M.), disebut periode pengaruh Persia Pertama;
2. Periode kedua (232 H./847 M. s.d. 334 H./945 M.), disebut periode pengaruh Turki Pertama;
3. Periode ketiga (334 H./945 M. s.d. 447 H./1105 M.), masa kekuasaan Dinasti Buwaihi dalam pemerintahan Khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga pengaruh Persia Kedua;
4. Periode keempat (447 H./1105 M. s.d. 590 H./1195 M.), masa kekuasaan Dinasti Saljuk yang biasa disebut dengan masa pengaruh Turki Kedua;
5. Periode kelima (590 H./1194 M. s.d. 656 H./1258 M.), masa Khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di Baghdad.
Kedua pola periodesasi di atas, pada dasarnya sama dan tidak signifikan. Untuk memudahkan pembahasan, periode Abbasiyah dibagi menjadi empat tahap, yaitu pendirian, kemajuan, kemunduran, dan kehancuran.

B. Pendirian Bani Abbas (750-857 M. – 132-232 H.)
Babak ketiga dalam drama besar politik Islam dibuka oleh Abul Al-Abbas (750-754) yang berperan sebagai pelopor. Irak menjadi panggung besar drama itu. Dalam khotbah penobatannya, yang disampaikan setahun sebelumnya di masjid Kufah, Khalifah Abbasiyah pertama itu menyebut dirinya As-Saffih, penumpah darah, yang kemudian menjadi julukannya. Julukan itu merupakan pertanda buruk karena dinasti yang baru muncul ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih mengutamakan kekuatan dalam menjalankan kebijaksanaannya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, di sisi singgasana Khalifah tergelar karpet yang digunakan sebagai tempat eksekusi. As-Saffah menjadi pendiri dinasti Arab Islam ketiga –setelah Khulafa Ur-Rasyidun dan Dinasti Umayah– yang sangat besar dan berusia lama. Dari 750 M. hingga 1258 M., penerus Abu Al-Abbas memegang pemerintahan, meskipun mereka tidak selalu berkuasa. Orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung konsep sejati keKhalifahan, yaitu gagasan negara teokrasi, yang menggantikan pemerintahan sekuler (mulk) Dinasti Umayah. Sebagai ciri khas keagamaan dalam istana kerajaannya, Khalifah dan pada Shalat Jum’at, Khalifah mengenakan jubah (burdah) yang pernah dikenakan oleh saudara sepupunya, Nabi Muhammad. Akan tetapi, masa pemerintahannya, begitu singkat. As-Saffah meninggal (754-775 M.) karena penyakit cacar air ketika berusia 30-an.
Saudara yang penerusnya, Abu Ja’far (754-775), yang mendapat julukan Al-Mansur adalah Khalifah terbesar Dinasti Abbasiyah. Meskipun bukan seorang muslim yang saleh, dialah sebenarnya, bukan As-Saffah, yang benar-benar membangun dinasti baru itu. Seluruh Khalifah yang berjumlah 35 orang berasal dari garis keturunannya.
Masa kejayaan Abbasiyah terletak pada Khalifah setelah As-Saffah. Penulis mengutip Philiph K. Hitty, bahwa masa keemasan (Golden Prime)Abbasiyah terletak pada 10 Khalifah. Hal berbeda dengan Badri Yatim, yang memasukkan 7 Khalifah sebagai masa kejayaan Abbasiyah, Jaih Mubarok memasukkan 8 Khalifah sebagai masa kejayaan Abbasiyah. Begitu pula, Harun Nasution, hanya memasukkan 6 Khalifah ke dalam katergori sebagai Khalifah yang memajukan Abbasiyah.
Kesepuluh Khalifah tersebut; As-Saffah (750); Al-Manshur (754); Al-Mahdi (775); Al-Hadi (785); Ar-Rasyid (786); Al-Amin (809); Al-Makmun (813); Al-Mu’tashim (833); Al-Watsiq (842); dan Al-Mutawakkil (847).
Dinasti Abbasiyah, seperti halnya dinasti lain dalam sejarah Islam, mencapai masa kejayaan politik dan intelektual mereka segera setelah didirikan. Ke_Khalifahan Baghdad yang didirikan oleh As-Saffah dan Al-Manshur mencapai masa keemasannya antara masa Khalifah ketiga, Al-Mahdi dan Khalifah kesembilan, Al-Watsiq, dan lebih khusus lagi pada masa Harun Ar-Rasyid dan anaknya, Al-Makmun. Karena kehebatan dua Khalifah itulah Dinasti Abbasiyah memiliki kesan baik dalam ingatan publik, dan menjadi dinasti paling terkenal dalam sejarah Islam. Diktum yang dikutip oleh seorang penulis antologi, Ats-Tsa’labi (w. 1038) bahwa dari para Khalifah Abbasiyah. “sang pembuka” adalah Al-Manshur, “sang penengah” adalah Al-Makmun, dan “sang penutup” adalah Al-Mu’tadhid (892-902) adalah benar.




C. Kemajuan Masa Abbasiyah
Masa ini adalah masa keemasan atau masa kejayaan umat Islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban. Kemajuan itu hampir mencakup semua aspek kehidupan:
a. Administratif pemerintahan dan biro-bironya;
b. Sistem organisasi militer;
c. Administrasi wilayah pemerintahan;
d. Pertanian, perdagangan, dan industri;
e. Islamisasi pemerintahan;
f. Kajian dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, geografi, hostoriografi, filsafat Islam, teologi, hukum (fiqh), dan etika Islam, sastra, seni, dan penerjemahan;
g. Pendidikan, kesenian, arsitektur, meliputi pendidikan dasar (kuttab), menengah, dan perguruan tinggi; perpustakaan dan toko buku, media tulis, seni rupa, seni musik, dan arsitek.
Rincian berbagai kemajuan tersebut dapat dilihat dari temuan Philip K. Hitti sebagai berikut.

1. Biro Pemerintahan Abbasiyah
Dalam menjalankan sistem teknis pemerintahan, Dinasti Abbasiyah memiliki kantor pengawas (dewan az-zimani) yang pertama kali diperkenalkan oleh Al-Mahdi; dewan korespondensi atau kantor arsip (dewan at-tawqi) yang menangani semua surat resmi, dokumen politik serta instruksi dan ketetapan Khalifah; dewan penyelidik keluhan; departemen kepolisian dan pos. Dewan penyelidik keluhan (dewan an-nazhar fi al-mazhalini) adalah sejenis pengadilan tingkat banding, atau pengadilan tinggi untuk menangani kasus-kasus yang diputuskan secara keliru pada departemen administratif dan politik. Cikal bakal dewan ini dapat dilacak pada masa Dinasti Umayah, karena Al-Mawardi meriwayatkan bahwa Abd. Al-Malik adalah Khalifah pertama yang menyediakan satu hari khusus untuk mendengar secara langsung permohonan dan keluhan rakyatnya. Umar II meneruskan praktik tersebut. Praktek itu kemudian diperkenalkan oleh Al-Mahdi ke dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah, penggantinya Al-Hadi, Harun, Al-Makmun dan Khalifah selanjutnya menerima keluhan itu dalam sebuah dengar publik; Al-Muhtadi (869-870) adalah Khalifah terakhir yang memelihara kebiasaan tersebut. Raja Normandia, Roger II, (1130-1154) memperkenalkan lembaga tersebut ke Sisilia, yang kemudian mengakar di daratan Eropa.

2. Sistem Militer
Sistem militer terorganisasi dengan baik, berdisiplin tinggi, serta mendapat pelatihan dan pengajaran secara reguler. Pasukan pengawal Khalifah (hams) mungkin merupakan satu-satunya pasukan tetap yang masing-masing mengepalai sekelompok pasukan. Selain mereka ada juga pasukan bayaran dan sukarelawan, serta sejumlah pasukan dari berbagai suku dan distrik. Pasukan tetap (jund) yang bertugas aktif disebut murtaziqah (pasukan yang dibayar secara berskala oleh pemerintah). Unit pasukan lainnya disebut muta-thawwi’¬ah (sukarelawan), yang hanya menerima gaji ketika bertugas. Kelompok sukarelawan ini direkrut dari orang badui, petani, dan orang kota. Pasukan pengawal istana memperoleh bayaran lebih tinggi, bersenjata lengkap, dan berseragam. Pada masa-masa awal pemerintahan Khalifah Dinasti Abbasiyah, rata-rata gaji pasukan infanteri, disamping gaji dan santunan rutin sekitar 960 dirham pertahun, pasukan kalaveri menerima dua kali lipat dari itu.

3. Wilayah Pemerintahan
Pembagian wilayah kerajaan Umayah ke dalam provinsi yang dipimpin oleh seorang Gubernur (tunggal amir atau ‘amil) sama dengan pola pemerintahan pada kekuasaan Byzantium dan Persia. Pembagian ini tidak mengalami perubahan berarti pada masa Dinasti Abbasiyah. Provinsi Dinasti Abbasiyah mengalami perubahan dari masa ke masa, dan klasifikasi politik juga tidak selalu terkait dengan klasifikasi geografis, seperti yang terekam dalam karya Al-Ishthakhri, Ibnu Hawqal, Ibn Al-Faqih, dan karya-karya sejenis. Berikut ini merupakan provinsi utama pada masa awal ke_Khalifahan Baghdad: 1) Afrika di sebelah barat Gurun Libya bersama dengan Sisilia; 2) Mesir; 3) Suriah dan Palestina, yang terkadang dipisahkan; 4) hijaz dan Yamamah (Arab tengah); 5) Yaman dan Arab Selatan; 6) Bahrain dan Oman; 7) Sawad atau Irak (Mesopotamia bawah), dengan kota utamanya setelah Baghdad, yaitu Kufah dan Wash; 8) Jazirah (yaitu kawasan Assyiria Kuno, bukan semenanjung Arab) dengan Ibukota Mosul; 9) Azerbaijan, dengan kota-kota besarnya, seperti Ardabil, Tibriz, dan Maraghah; 10) Jibal (perbukitan, Media Kuno), kemudian dikenal dengan Irak Ajami (iraknya orang Persia), dengan kota utamanya adalah Ramadan.

4. Perdagangan dan Industri
Sejak masa Khalifah kedua Abbasiyah, Al-Manshur, sumber Arab paling awal yang menyinggung tentang hubungan Maritim Arab dan Persia dengan India dan Cina berasal dari laporan perjalanan Sulaiman At-Tajir dan para pedagang Muslim lainnya pada abad ke-3 Hijriah. Tulang punggung perdagangan ini adalah sutra, kontribusi terbesar orang Cina kepada dunia barat. Biasanya jalur perdagangan yang disebut “jalan sutra”, menyusuri Samarkand dan Turkistan Cina, sebuah wilayah yang kini tidak banyak dilalui dibanding wilayah-wilayah dunia lainnya yang sudah dihuni dan berperadaban. Barang-barang dagangan biasanya diangkut secara estafet; hanya sedikit Khalifah yang menempuh sendiri perjalanan sejauh itu. Akan tetapi hubungan diplomatik telah dibangun sebelum orang Arab terjun ke dunia perdagangan, diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas, penakluk Persia, menjadi duta yang dikirim Nabi ke Cina, “Makam” Sa’d masih bisa ditemukan di Kanton. Tulisan-tulisan tertentu pada Monumen Cina lama tentang agama Islam di Cina jelas merupakan tulisan palsu yang dibuat oleh para tokoh agama. Pada ke-8 telah dilakukan pertukaran duta. Dalam catatan Cina abad itu, kata amir al-mukiminin diucapkan dengan hami mo mo ni oleh Abu Al-Abbas, Khalifah dinasti Abbasiyah pertama, A bo lo ba; dan Harun, A lun. Pada masa Khalifah-Khalifah itu terdapat sejumlah orang Islam yang menetap di Cina. Pada mulanya, orang Islam itu dikenal dengan sebutan Ta syih dan kemudian Hui Hui (pengikut Muhammad). Di sebelah barat, para pedagang Islam telah mencapai Maroko dan Spanyol. Seribu tahun sebelum de Lesseps, Khalifah Harun mengemukakan gagasan tentang menggali kanal di sepanjang Its-mus di Suez. Namun perdagangan di Mediterania Arab tidak pernah mencapai kemajuan yang berarti. Laut Hitam juga tidak mendukung perdagangan Maritim, meskipun pada abad ke-10 telah dilakukan perdagangan singkat melaui jalur darat ke Utara dengan orang yang tinggal di kawasan Valda. Namun karena jaraknya yang dekat dengan pusat kota Persia dan kota-kota makmur di Samarkand dan Bukhara, laut Kaspia menjadi titik pertemuan dagang yang favorit. Para pedagang muslim membawa kurma, gula, kapas, dan kain wol juga peralatan dari baja dan gelas.
Pada masa Abbasiyah, orang-orang justru mampu mengimpor barang dagangan, seperti rempah-rempah, kapur harus, dan sutra dari kawasan Asia yang lebih jauh, juga mengimpor gading, kayu eboni, dan budak kulit hitam dari Afrika. Gambaran tentang jumlah keuntungan yang diperoleh Rothschild dan rockefeller pada abad tersebut mungkin juga telah diraih oleh seorang penjual permata dari Baghdad, Ibn Al-Jashshash, yang tetap kaya meskipun Al-Muqhtadhir telah menyita hartanya sebesar 16 juta dinar, dan menjadi keluarga pertama yang dikenal sebagai pengusaha permata. Para pengusaha dari Bashrah yang membawa daganganya dengan kapal laut ke berbagai negeri yang jauh, masing-masing membawa muatan bernilai lebih dari satu juta dirham. Seorang pemilik penggilingan di Bashrah dan Baghdad yang tidak berpendidikan mampu berderma untuk orang miskin sebesar seratus dinar per hari, dan kemudian diangkat oleh A-Mu’tashim menjadi wazirnya.
Tingkat aktifitas perdagangan semacam itu didukung pula oleh pengembangan industri rumah tangga dan pertanian yang maju. Industri kerajinan tangan menjamur di berbagai pelosok kerajaan. Daerah Asia barat menjadi pusat industri karpet, sutra, kapas dan kain wol, satin dan brokat (dibaj), sofa, dari bahasa Arab (suffah) dan kain pembungkus bantal, juga perlengkapan dapur dan rumah tangga lainnya. Mesin penganyam Persia dan Irak membuat karpet berkulitas tinggi. Ibu Al-Musta’in memiliki karpet yang dipesan khusus seharga 130 juta dirham dengan corak berbagai jenis burung dari emas yang dihiasi batu rubi dan batu-batuan indah lainnya. Sebuah pusat industri di Baghdad yang namanya diambil dari nama seorang pangeran Umayah, Attab memberi merek kainnya dengan nama ‘attabi yang pertama kali dibuat disana pada abad ke-12. Kain tersebut ditiru oleh pengrajin Arab di Spanyol, dan terkenal di Prancis, Italia dan negara Eropa lainnya dengan nama tabi. Istilah tersebut kemudian berubah menjadi tabby, yang merujuk pada seekor kucing yang unik dan berwarna. Kufah memproduksi kain sutra atau separuh sutra untuk penutup kepala yang masih digunakan hingga sekarang dengan nama kuftyah. Tawwaj, Fasa dan kota-kota lainnya di Paris memiliki sejumlah pabrik kelas satu yang membuat karpet, sulaman, brokat, dan gaun panjang untuk kalangan atas. Barang-barang semacam itu dikenal sebagai Thiraz (dari bahasa Persia) yang memuat nama atau kode sultan.

5. Perkembangan Bidang Pertanian
Bidang pertanian maju pesat pada awal pemerintahan Dinasti Abbasiyah karena pusat pemerintahannya berada di daerah yang sangat subur, di tepian sungai yang dikenal dengan nama Swad. Pertanian merupakan sumber utama pemasukan negara dan pengolahan tanah hampir sepenuhnya dikerjakan oleh penduduk asli, yang statusnya mengalami peningkatan pada masa rezim baru. Lahan-lahan pertanian yang terlantar, dan desa-desa yang hancur di berbagai wilayah kerajaan diperbaiki dan dibangun kembali secara bertahap. Daerah rendah di daerah Tigris-Efrat, yang merupakan daerah terkaya setelah Mesir, dan dipandang sebagai surga Aden, mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Mereka membuka kembali saluran irigasi yang lama dari sungai Efrat, dan membuat saluran irigasi yang baru sehingga membentuk sebuah “jaringan yang sempurna”.
Ada 113 kanal besar pertama, yang disebut Nahr Isa setelah digali kembali oleh keluarga Al-Manshur, menghubungkan alirang sungai Efrat di Anbar sebelah barat laut dengan sungai Tigris di Baghdad. Salah satu cabang utama nahr Isa adalah Sharah. Kanal terbesar kedua adalah Nahr Sharshar yang bertemu dengan sungai Tigris di daerah Madain. Kanal ketiga adalah Nahr Al-Malik (“sungai raja”), yang tersmbung ke sungai Tigris di bawah Madain. Di bawah dua sungai itu terdapat Nahr Kutsa dan Sharah besar, yang mengairi sejumlah saluran. Kanal lainnya Dujayl (sungai yang lebih kecil dari Diljah, Tigris), yang awalnya menghubungkan Tigris dan Efrat, semakin dangkal pada abad ke-10, dan nama itu kemudian menjadi nama kanal baru berbentuk oval, yang merupakan cabang dari sungai Tigris di bawah Kadisiyah dan membuat beberapa cabang lain sebelum akhirnya bertemu kembali dengan sungai Tigris. Kanal lainnya yang kurang penting adalah Nahr Ash-Shilah yang di gali di wash oleh Al-Mahdi.
Para ahli geografi Arab menyebutkan beberapa Khalifah yang “menggali” atau “membuka” saluran, yang dalam kebanyakan kasus, sebenarnya hanya menggali dan membuka kembali kanal-kanal yang pernah ada sebelumnya sejak masa Babilonia. Di Irak dan Mesir, yang dilakukan adalah mengaktifkan kembali jaringan kanal lama. Bahkan, sebelum Perang Dunia Pertama, Sir William Willcock yang ditugaskan oleh pemerintah Utsmani untuk mengkaji persoalan irigasi di Irak, merekomendasikan untuk membuka lagi aliran sungai yang lama, dari pada membangun kanal-kanal yang baru.
Tanaman asli Irak terdiri atas gandum, padi, kurma, wijen, kapas, dan rami. Daerah yang sangat subur berada di bantaran tepian sungai ke selatan, Sawad, yang menumbuhkan berbagai jenis buah dan sayuran, yang tumbuh di daerah panas maupun dingin. Kacang, jeruk, terong, tebu, dan beragam bunga, seperti bunga mawar dan violet juga tumbuh subur.

6. Islamisasi Masyarakat
Sebanyak 5.000 orang Kristen Banu Tanukh di dekat Aleppo mengikuti perintah Khalifah Al-Mahdi untuk masuk Islam. Proses konversi secara normal berjalan lebih gradual, damai dan bersifat pasti. Kebanyakan konversi yang dilakukan oleh penduduk taklukan didorong oleh motif kepentingan individu, agar terhidar dari pajak dan sejumlah aturan lain yang membatasi, agar mendapat prestise sosial dan pengaruh politik, serta menikmati kebebasan yang lebih besar. Penduduk Persia baru beralih ke agama Islam pada abad ketiga setelah wilayah itu dikuasai Islam. Sebelumnya mereka menganut Zoroaster.

7. Bidang Kedokteran
Dari penulisan Ibnu Maskawayh, kita mendapatkan sebuah risalah sistematik berbahasa Arab paling tua tentang Optalmologi. Belakangan ini sebuah buku berjudul Al-‘Asyr Maqalat fi Al-‘Ayn (Sepuluh Risalah tentang Mata) yang dianggap sebagai karya muridnya Hunayn ibn Ishaq, telah diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai buku teks tentang optalmologi paling awal yang kita miliki. Minat orang Arab terhadap ilmu kedokteran diilhami oleh Hadits Nabi yang membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kelompok: teologi dan kedokteran. Dengan demikian, seorang dokter sekaligus merupakan seorang teolog.
Ali ibn Al-Abbas (Haly Abbas, w. 994), yang awalnya menganut ajaran Zoroaster, sebagaimana terlihat dari namanya, Al-Majusi, dikenal sedbagai penulis buku Al-Kitab Al-Maliki (buku raja, Liber Regius), yang ia tulis untuk raja Buwaihi, Adhud Ad-Dawlah Fanna Khusraw, yang memerintah antara 949 hingga 983. karya ini yang disebut juga Kamil Ash-Shind’ah Ath-Thibbiyyah, sebuah “kamus penting yang meliputi pengetahuan dan praktik kedokteran”.
Nama paling terkenal dalam catatan kedokteran setelah Ar-Razi adalah ibnu Sina (Avicenna, yang masuk ke bahasa Latin melalui bahas Ibrani, Aven Sina, 980-1037, yang disebut oleh orang Arab sebagai Asy-Syaikh Ar-Ra’is, “pemimpin” (orang terpelajar) dan “pangeran” (para pejabat). Ar-Razi lebih menguasai kedokteran dari pada Ibnu Sina, sedangkan Ibnu Sina lebih menguasai filsafat dari pada Ar-Razi. Dalam diri seorang dokter, filsof, dan penyair inilah, ilmu pengetahuan Arab mencapai titik puncaknya dan berinkarnasi.
Diantara karya-karya ilmiahnya, dua buku yang paling unggul adalah Kitab Asy-Syifa’ (buku tentang penyembuhan), sebuah buku ensiklopedia filsafat yang didasarkan atas tradisi Aristotelian yang telah dipengaruhi oleh neo-Platonisme dan teologi Islam, serta Al-Qanun fi Ath-Thibb, yang merupakan kodifikasi pemikiran kedokteran Yunani-Arab. Teks berbahasa Arab dari buku Al-Qanun diterbitkan di Roma pada 1593, dan kemudian menjadi salah satu buku berbahasa Arab tertua yang pernah diterbitkan. Diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona pada abad ke-12, buku tersebut, dengan semua kandungan ensiklopedinya, susunan yang sistematis dan penuturannya yang filosofis, segera menempati posisi penting dalam literatur kedokteran masa itu, menggantikan karya-kaya Galen, Ar-Razi, dan Al-Majusi, serta menjadi buku teks pendidikan kedokteran di sekolah-sekolah Eropa.

8. Pendidikan, Perpustakaan, dan Toko Buku
Lembaga pendidikan Islam pertama untuk pengajaran yang lebih tinggi tingkatannya adalah Bait Al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) yang didirikan oleh Al-Makmun (830 M.) di Baghdad, ibukota negara. Selain berfungsi sebagai biro penerjemahan, lembaga ini juga dikenal sebagai pusat kajian akademis dan perpustakaan umum, serta memiliki sebuah observatorium. Pada saat itu, observatorium- observatorium yang banyak bermunculan juga berfungsi sebagai pusat-pusat pembelajaran astronomi. Fungsi lembaga itu persis sama dengan rumah sakit, yang pada awal kemunculannya sekaligus berfungsi sebagai pusat pendidikan kedokteran. Akan tetapi, akademi Islam pertama yang menyediakan berbagai kebutuhan fisik untuk mahasiswanya, dan menjadi model bagi pembangunan akademi-akademi lainnya adalah Nizhamiyah yang didirikan pada tahun 1065-1067 oleh Nizham Al-Mulk, seorang menteri dari Persia pada ke_Khalifahan Bani Saljuk, Sultan Alp Arslan, dan Maliksyah, yang juga merupakan penyokong Umar Al-Khayyam. Dinasti Saljuk, sebagaimana Dinasti Buwaihiyyah dan sultan-sultan non-Arab lainnya yang mengemban kekuasaan besar atas kehidupan umat Islam, bersaing satu sama lain dalam hal pengembangan seni dan pendidikan yang lebih tinggi.
Perpustakaan (khizanat al-kutub) dibangun di Syiraz oleh penguasa Buwaihi, Adud Ad-Dawlah (977-982) yang semua buku-bukunya disusun di atas lemari-lemari, didafar dalam katalog, dan diatur dengan baik oleh staff administrator yang bekerja secara bergiliran. Pada abad yang sama, kota Bashrah memiliki perpustakaan yang di dalamnya para sarjana bekerja dan mendapatkan upah dari pendiri perpustakaan. Dan kota Rayy terdapat sebuah tempat yang disebut Rumah Buku. Dikatakan bahwa tempat itu menyimpan ribuan manuskrip yang diangkut oleh lebih dari empat ratus ekor unta. Seluruh naskah itu kemudian didaftar dalam sepuluh jilid katalog.
Selain perpustakaan, gambaran tentang budaya baca pada periode ini bisa dilihat dari banyaknya toko buku. Toko-toko itu, yang juga berfungsi sebagai agen pendidikan, mulai muncul sejak awal ke_Khalifahan Abbasiyah. Al-Ya’qub meriwayatkan bahwa pada masanya (sekitar 891) ibukota negara diramaikan oleh lebih dari seratus toko buku yang berderet di satu ruas jalan yang sama. Sebagian toko tersebut, sebagaimana toko-toko yang muncul di Damaskus dan Kairo.

D. Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Faktor-faktor Penyebab Kemunduran
a. Faktor Intern
1) Kemewahan hidup di kalangan penguasa
Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap Khalifah cenderung ingin lebih mewah daripada pendahulunya. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki untuk mengambil alih kendali pemerintahan.
2) Perebutan kekuasaan antara keluarga Bani Abbassiyah
Perebutan kekuasaan dimulai sejak masa Al-Makmun dengan Al-Amin. Ditambah dengan masuknya unsur Turki dan Parsi. Setelah Al-Mutawakkil wafat, pergantian Khalifah terjadi secara tidak wajar. Selebihnya, para Khalifah itu wafat karena dibunuh atau diracun dan diturunkan secara paksa.
3) Konflik keagamaan
Sejak terjadinya konflik antara Muawiyah dan Khalifah Ali yang berakhir dengan lahirnya tiga kelompok umat: pengikut Muawiyah, Syi’ah, dan Khawarij, ketiga kelompok ini senantiasa berebut pengaruh. Yang senantiasa berpengaruh pada masa keKhalifahan Muawiyah maupun masa keKhalifahan Abbasiyah adalah kelompok Sunni dan kelompok Syi’ah. Walaupun pada masa-masa tertentu antara kelompok Sunni dan Syi’ah saling mendukung, misalnya pada masa pemerintahan Buwaihi, antara kedua kelompok tak pernah ada kesepakatan.

b. Faktor Ekstern
1) Banyak pemberontakan
Banyaknya daerah yang tidak dikuasai oleh Khalifah, akibat kebijaksanaan yang lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam, secara real, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan Gubernur-Gubernur yang bersangkutan. Akibatnya, provinsi-provinsi tersebut banyak yang melepaskan diri dari genggaman penguasa Bani Abbas. Adapun cara provinsi-provinsi tersebut melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad adalah: Pertama, seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti Daulah Umayah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko. Kedua, seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh Khalifah, kedudukannya semakin bertambah kuat, kemudian melepaskan diri, seperti Daulat Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyah di Kurasan.
2) Dominasi Bangsa Turki
Sejak abad kesembilan, kekuasaan militer Abbasiyah mulai mengalami kemunduran. Sebagai gantinya, para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki, kemudian mengangkatnya menjadi panglima-panglima. Pengangkatan anggota militer inilah, dalam perkembangan selanjutnya, yang mengancam kekuasaan Khalifah. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Waluapun Khalifah dipegang oleh Bani Abbas, di tangan mereka, Khalifah bagaikan boneka yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, merekalah yang memilih dan menjatuhkan Khalifah yang sesuai dengan politik mereka.
Khalifah Dinasti Bani Abbasiyah yang berkuasa pada masa kekuasaan Bangsa Turki I, mulai Khalifah ke-10, Khalifah Al-Mutawakkil (tahun 232 H.) hingga Khalifah ke-22, Khalifah Al-Mustaqfi Billah (Abdullah Sunni-Qasim tahun 334 H). pada masa kekuasaan bangsa Turki II (Banu Saljuk), mulai dari Khalifah ke-27, Khalifah Muqtadie bin Muhammad (tahun 467 H.) hingga Khalifah ke-37, Khalifah Musta’shim bin Mustanshir (tahun 656 H.).
3) Dominasi Bangsa Persia
Masa kekuasaan bangsa Parsi (Banu Buyah) berjalan lebih dari 150 tahun. Pada masa ini, kekuasaan pusat di Baghdad dilucuti dan di berbagai daerah muncul negara-negara baru yang berkuasa dan membuat kemajuan dan perkembangan baru.
Pada awal pemerintahan Bani Abbasiyah, keturunan Parsi bekerjasama dalam mengelola pemerintahan dan Dinasti Abbasiyah mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam berbagai bidang. Pada periode kedua, saat keKhalifahan Bani Abbasiyah sedang mengadakan pergantian Khalifah, yaitu dari Khalifah Muttaqi’ (Khalifah ke-22) kepada Khalifah Muthie’ (Khalifah ke-23) tahun 334 H. Banu Buyah (Parsi) berhasil merebut kekuasaan.
Pada mulanya mereka berkhidmat kepada pembesar-pembesar dari para Khalifah, sehingga banyak dari mereka yang menjadi panglima tentara, diantaranya menjadi panglima besar, setelah mereka memiliki kedudukan yang kuat, para Khalifah Abbasiyah berada di bawah telunjuk mereka dan seluruh pemerintahan berada di tangan mereka. Khalifah Abbasiyah hanya tinggal nama saja, hanya disebut dalam do’a-do’a di atas mimbar, bertanda tangan di dalam peraturan dan pengumuman resmi dan nama mereka ditulis atas mata uang, dinar dan dirham.
E. Sebab-Sebab Kehancuran Dinasti Abbasiyah
1. Faktor Intern
a. Lemahnya semangat Patriotisme Negara, menyebabkan jiwa jihad yang diajarkan Islam tidak berdaya lagi menahan segala amukan yang datang, baik dari dalam maupun dari luar.
b. Hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat, sehingga kerusakan moral dan kerendahan budi menghancurkan sifat-sifat baik yang mendukung negara selama ini.
c. Tidak percaya pada kekuatan sendiri. Dalam mengatasi berbagai pemberontakan, Khalifah mengundang kekuatan asing. Akibatnya kekuatan asing tersebut memanfaatkan kelemahan Khalifah.
d. Fanatik madzhab persaingan dan perebutan yang tiada henti antara Abbasiyah dan Alawiyah menyebabkan kekuatan umat Islam menjadi lemah, bahkan hanmcur berkeping-keping.
Perang ideologi antara Syi’ah dari Fatimiyah melawan Ahlu Sunnah dari Abbasiyah, banyak menimbulkan korban. Aliran Qaramithah yang sangat ekstrem dalam tindakan-tindakannya yang dapat menimbulkan bentrokan di masyarakat. Kelompok Hashshashin yang dipimpin oleh Hasan bin Shabah yang berasal dari Thus di Parsi merupakan aliran Ismailiyyah, salah satu sekte Syi’ah adalah kelompok yang sangat dikenal kekejamannya, yang sering melakukan pembunuhan terhadap penguasa Bani Abbasiyah yang beraliran Sunni.
Pada saat terakhir dari hayatnya Abbasiyah, tentara Tartar yang datang dari luat dibantu dari dalam dan dibukakan jalannya oleh golongan Awaliyin yang dipimpin oleh Al-Qamiy.
e. Kemerosotan ekonomi terjadi karena banyaknya biaya yang digunakan untuk anggaran tentara, banyaknya pemberontakan dan kebiasaan para penguasa untuk berfoya-foya, kehidupan para Khalifah dan keluarganya serta pejabat-pejabat negara yang hidup mewah, jenis pengeluaran yang makin beragam, serta pejabat yang korupsi, dan semakin sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah karena telah banyak provinsi yang telah memisahkan diri.
2. Faktor Ekstern
Disintegrasi, akibat kebijakan untuk mengutamakan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada politik, provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai melepaskan diri dari genggaman penguasa Bani Abbasiyah, mereka bukan sekedar memisahkan diri dari kekuasaan Khalifah, tetapi memberontak dan berusaha merebut pusat kekuasaan di Baghdad. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak luar dan banyak mengorbankan umat, yang berarti juga menghancurkan Sumber Daya Manusia (SDM). (Provinsi-provinsi yang melepaskan diri dari Dinasti Abbasiyah, dijelaskan selanjutnya). Yang paling membahayakan adalah pemerintahan tandingan Fathimiyah di Mesir, walaupun pemerintahan lainnya pun cukup menjadi perhitungan para Khalifah di Baghdad. Pada akhirnya, pemerintah-pemerintah tandingan ini dapat ditaklukkan atas bantuan Bani Saljuk atau Buyah.
Lanjuuut..

Minggu, 04 April 2010

Ibnu Arabi

BAB I
PENDAHULUAN

Sedikit sekali tokoh spiritual muslim yang begitu terkenal di Barat salah satunya Ibnu Arabi. Dalam dunia Islam sendiri tampaknya tak ada seorang tokoh-pun yang memiliki pengaruh luas dan begitu dalam terhadap kehidupan intelektual masyarakatnya selama lebih dari tujuh ratus tahun, dia dikenal oleh para muridnya dengan sebutan Al-Syaikh al-Akbar (maha guru). Sebagian mereka yang menemukan kesulitan dalam mempelajari karya-karyanya ada yang menolak gelar itu, namun bagaimanapun juga mereka tetap mengakui kebesarannya.
Salah satu sisi yang paling menakjubkan dari perjalanan beliau adalah hasil karyanya. Usman Yahya dalam dua volumenya tentang sejarah dan karya Ibnu Arabi menyatakan, bahwa Ibnu Arabi menulis 700 buku risalah dan kumpulan puisi yang berjumlah lebih dari 400 buah.
Karya-karya beliau yang terkenal banyak dipakai oleh umat Islam sebagai pijakan dan referensi, diantaranya adalah Futuhat al-Makkiyah. Dan ajarannya yang terkenal adalah Wahdatul al-Wujud, untuk keterangan lebih lanjut akan dibahas dalam bab berikutnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Ibnu Arabi
Nama lengkap beliau adalah Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah Ath-Tha’i al-Haitami. Ia lahir di Murcia, Andalusia, Spanyol, pada 17 Ramadhan 560 H / 28 Juli 1165 dan wafat pada 28 Rabiul Awal 638 H / 16 Nopember 1240. Beliau berasal dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuwan. Namanya disebut tanpa “Al” untuk membedakan dengan Abu Bakar Al-Arabi seorang qodhi dari Sevilla yang wafat 543.
Pada masa kecilnya ia diajar oleh dua wanita suci yaitu Yasmin dari Marcena dan Fatima dari Cordova. Ketika ia berumur 8 tahun keluarganya pindah ke Sevilla, tempat Ibnu Arabi kecil mulai belajar Al-Qur'an dan Fiqh. Karena kecerdasannya yang luar biasa, pada usia belasan tahun ia pernah menjadi sekretaris (katib) beberapa gubernur di Sevilla. Di kota ini pula ia berkenalan dengan Ibnu Rusyd, yang menjadi qodhi di Sevilla dan berguru kepadanya.
Setelah usianya menginjak 30 tahun, Ibnu Arabi mulai berkelana untuk menuntut ilmu. Mula-mula ia mendatangi pusat-pusat ilmu pengetahuan Islam di semenanjung Andalusia kemudian ia pergi ke Tunis untuk menemani Abdul Aziz al-Mahdawi (seorang ahli tasawuf). Pada tahun 594 H / 1198 M ia pergi ke Fez, Maroko. Di tahun berikutnya ia kembali ke Cordova dan sempat menghadiri pemakaman gurunya Ibnu Rusyd, kemudian ia pergi ke Almeira.

Tahun 598 H / 1202 M, Ibnu Arabi pergi lagi ke Tunis, Kairo, Yerussalem dan Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika berada di Tunis, Ibnu Arabi sempat mempelajari kitab Khal’u an-Nailami karya Abdul Qasim bin Qisyi yang kemudian disyarah (diberi uraian penjelasan tertulis) olehnya.
Menurut pengakuan Ibnu Arabi, keberangkatannya ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji berdasarkan ilham yang diterimanya dari Allah SWT. Ia tinggal di Makkah selama 2 tahun. Hari-hari kehidupannya di Makkah diisi dengan kegiatan tasawuf, membaca Al-Qur'an dan iktikaf (menciptakan suasana kerohanian yang syahdu, membuat adanya kontak antara dia dan yang ghaib).
Pada 612 H / 1215 M, Ibnu Arabi pergi lagi ke Malatya dan bermukim sampai 618 H / 1221 M. Di sini ia sempat menikah dengan janda bernama Majiduddin Ishaq dan mempunyai anak yang bernama Sa’addin Muhammad (618 H ./ 1221 M). Ibnu Arabi pernah disebut beberapa kali menikah dan mempunyai beberapa anak, tetapi anaknya yang dikenal dalam sejarah hanya Sa’addin Muhammad dan Imaddin Abu Abdullah (wafat di Damaskus, 667H/ 1269 M).

B. Ajaran Ibnu Arabi
Adalah Wahdat al-Wujud, yaitu ungkapan yang terdiri dari dua kata yaitu wahdat dan wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan, sedangkan wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan atau dalam bahasa Inggris unity existence. Di kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdat sebagai sesuatu yang dzatnya tidak dapat dibagi-bagi pada bagian yang lebih kecil. Selain itu wahdat digunakan pula oleh para ahli filsafat dan sufistik sebagai suatu kesatuan antara materi dan ruh, substansi (hakikat) dan format (bentuk) antara yang nampak (dzahir) dan yang batin, antara alam dengan Allah karena alam pada hakikatnya qadim dan berasal dari Tuhan.
Pengertian wahdat al-wujud yang terakhir itulah yang digunakan para sufi, yaitu paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah kesatuan wujud. Menurut paham ini tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek yaitu aspek luar yang disebut al-Khalq (makhluk), al-‘Arad (acciden-kenyataan luar), zahir (luar, nampak), dan aspek dalam yang disebut al-Khaq (Tuhan) al-Jauhar (subtance-hakikat) dan al-Batin (dalam).
Menurut Ibnu Arabi, wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan wujud makhluk adalah wujud khalik juga. Tidak ada perbedaan antara keduanya (khalik dan makhluk) dari segi hakikat. Adapun kalau ada yang mengira adanya perbedaan antara keduanya, hal itu dilihat dari sudut pandang panca indera lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat semua yang ada pada dzat-Nya dari kesatuan dzatiah yang segala sesuatu terhimpun padanya. Hal itu tersimpul dalam ucapan Ibnu Arabi berikut :

Artinya : Maha suci Tuhan yang telah menjadikan segala sesuatu dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu.

Atau ucapan Ibnu Arabi yang lain yaitu :

Artinya : Wahai yang menjadikan segala sesuatu pada dirinya. Engkau bagi apa yang Engkau jadikan, mengumpulkan apa yang Engkau jadikan, barang yang tak henti adanya pada Engkau, maka Engkaulah yang sempit dan yang lapang.

Menurut Ibnu Arabi, wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah, dan Allah adalah hakikat alam, tidak ada perbedaan antara wujud yang qodim yang disebut khalik dengan wujud yang hadits yang disebut makhluk. Tidak ada perbedaan antara ‘abid (yang menyembah) dengan ma’bud (yang disembah) adalah satu. Untuk itu Ibnu Arabi mengemukakan lewat syairnya :

Artinya :
Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Demi syu’ur (perasaanku) siapa yang mukallaf ?
Jika engkau katakan hamba, padahal (pada hakikatnya) Tuhan juga
Atau engkau katakan Tuhan, lalu siapa yang dibebani taklif ?

Dalam bentuk lain dijelaskan bahwa makhluk diciptakan oleh khalik (Tuhan) dan wujudnya tergantung pada wujud Tuhan sebagai sebab dari segala yang berwujud selain Tuhan, yang berwujud selain Tuhan tidak akan mempunyai wujud, seandainya Tuhan tidak ada. Oleh karena itu Tuhan yang sebenarnya yang mempunyai wujud hakiki, sedangkan yang diciptakan hanya mempunyai wujud yang bergantung pada wujud di luar dirinya, yaitu wujud Tuhan. Dengan demikian wujud hanya satu yaitu wujud Tuhan.
Selanjutnya Ibnu Arabi menjelaskan, hubungan antara Tuhan dengan alam menurutnya alam adalah bayangan Tuhan atau bayangan wujud yang hakiki. Alam tidak mempunyai wujud yang sebenarnya. Oleh karena itu alam merupakan alam ajali (penampakan) Tuhan.
Menurut Ibnu Arabi, ketika Allah menciptakan alam ini Ia juga memberikan sifat-sifat Tuhan pada segala sesuatu. Alam ini seperti cermin yang buram dan juga seperti badan yang tidak bernyawa, Allah menciptakan manusia untuk memperjelas cermin itu. Dengan kata lain, alam ini merupakan mazhar (penampakan) dan asma dan sifat Allah yang terus-menerus. Tanpa alam sifat dan asmanya kehilangan maknanya dan senantiasa berbentuk dzat yang tinggal dalam ke-mujarradan (kesendirian)-Nya yang mutlak yang tidak dikenal oleh siapapun.
Dalam Fushush al-Hikam, Ibnu Arabi menjelaskan hal tersebut dengan ungkapan syairnya :


Artinya : Wajah itu sebenarnya hanya satu, tetapi anda memperbanyak cermin, Ia pun menjadi banyak.

Untuk memperkuat pendiriannya itu Ibnu Arabi merujuk sebuah hadits qudsi yang berbunyi :

Artinya : Aku pada mulanya adalah perbendaharaan yang tersembunyi, kemudian aku ingin dikenal maka Kuciptakan makhluk, lalu dengan itulah mereka mengenal Aku.


C. Karya-karya Ibnu Arabi
Diantara karya-karya Ibnu Arabi adalah :
1. Fushush al-Hikam
2. Futuhat al-Makkiyah
3. Al-Isra’
4. Mawaqi’ an-Nujum
5. Risalah al-Anwar
Diantara karya-karya itu masih banyak lagi karangan Ibnu Arabi yang lain.

BAB III
PENUTUP

Salah satu tokoh sufi yang terkenal adalah Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah Ath-Tha’i al-Haitami atau biasa disebut atau dikenal dengan Ibnu Arabi. Ia selalu berkelana untuk menuntut ilmu dan banyak mengarang kitab-kitab yang terkenal, seperti Futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam.
Ajaran beliau yang terkenal adalah Wahdat al-Wujud yang artinya kesatuan wujud, dimana pada hakikatnya makhluk dan khalik adalah satu, tidak ada perbedaan antara keduanya dalam segi hakikat.
Demikian sedikit uraian yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat, Amiin.

DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Rosihan, Ilmu Tasawuf, Pustaka Setia, Bandung, 2004
Abudinata, Akhlak Tasawuf, Raja Grafindo, Jakarta, 2002
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam 2, Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2001.
Mustofa, Akhlak Tasawuf, Pustaka Setia, Bandung, 1997
Lanjuuut..

Jumat, 25 Desember 2009

Abu Yazid

Kiai Yazid dan Si Anjing Hitam
Cerpen Wawan Susetya

Syahdan, pada zaman dahulu, ada seorang kiai besar yang sangat dihormati. Orang-orang di sekitarnya memanggilnya Kiai Yazid --lengkapnya Kiai Abu Yazid al-Bustami. Santrinya banyak. Mereka belajar di bawah bimbingan Sang Guru. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia; ada yang dari Irak, Iran, Arab, Tanah Gujarat, Negeri Pasai dan sebagainya. Mereka setia dan tunduk patuh atas semua nasihat dan bimbingan Sang Mursyid.
Selain Kiai Yazid punya santri di pesantrennya, banyak pula masyarakat yang menginginkan nasihat dari beliau. Mereka pun datang dari berbagai penjuru dunia. Ada yang menanyakan tentang perjalanan spiritual yang sedang dihayatinya, ada pula yang bertanya cara menghilangkan penyakit-penyakit hati, bahkan tak jarang yang menginginkan usaha mereka lancar serta keperluan-keperluan yang Sifatnya pragmatis dan teknis lainnya. Semuanya dilayani dan diterima dengan baik oleh Sang Kiai.
Meski demikian, kadang-kadang terjadi pula tamu yang datang dengan maksud menguji dan mencoba Sang Kiai: apakah Kiai Yazid itu memang benar-benar waskita (tajam penglihatan mata batinnya)?
Para tamu yang datang, bukan hanya didominasi kalangan lelaki saja, tetapi juga ada perempuan sufi yang belajar kepadanya. Mereka ingin ber-taqarrub kepada Allah sebagaimana yang dilalui Sang Kiai. Di antara mereka ada yang berhasil, ada pula yang gagal di tengah jalan. Semua itu, kata Kiai Yazid, memang bergantung pada ketekunannya masing-masing. Beliau hanya mengarahkan dan membimbing; semuanya bergantung dari keputusan-Nya jua.
Karena ke-’alim-annya itu, akhirnya masyarakat memang benar-benar menganggap bahwa Kiai Yazid adalah sosok yang patut dijadikan tauladan atau panutan. Bukan hanya itu. Para kalangan sufi pun menghormati kedalaman rasa Sang Kiai. Para sufi pun banyak yang mengajak diskusi, konsultasi, musyawarah dan membahas soal-soal spiritual yang pelik-pelik. Nglangut. Hadir dan menghadirkan. Berpisah dan bersatu.
Kedalaman rasa Sang Kiai, misalnya, ia bisa saja merasa kesepian atau "menyendiri" ketika berkumpul dengan orang banyak. Di tempat lain, Sang Kiai sangat merasakan ramai, padahal ia sendirian. Begitulah, semua rasa itu tertutup oleh penampilan beliau yang memikat, mengayomi, melindungi, mengajar, dan gaul dengan banyak orang.

***

Pada suatu hari, Kiai Yazid sedang menyusuri sebuah jalan. Ia sendirian. Tak seorang santri pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak; tak tahu ke mana arah tujuan dengan pasti. Ia mengalir begitu saja. Maka dengan enjoy-nya ia berjalan di jalan yang lengang nan sepi.
Tiba-tiba dari arah depan ada seekor anjing hitam berlari-lari. Kiai Yazid merasa tenang-tenang saja, tak terpikirkan bahwa anjing itu akan mendekatnya. E?.ternyata tahu-tahu sudah dekat; di sampingnya. Melihat Kiai Yazid --secara reflek dan spontan-- segera mengangkat jubah kebesarannya. Tindakan tadi begitu cepatnya dan tidak jelas apakah karena -barangkali-- merasa khawatir: jangan-jangan nanti bersentuhan dengan anjing yang liurnya najis itu!
Tapi, betapa kagetnya Sang Kiai begitu ia mendengar Si Anjing Hitam yang di dekatnya tadi memprotes: "Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!"
Mendengar suara Si Anjing Hitam seperti itu, Kiai Yazid masih terbengong: benarkah ia bicara padanya?! Ataukah itu hanya perasaan dan ilusinya semata? Sang Kiai masih terdiam dengan renungan-renungannya.
Belum sempat bicara, Si Anjing Hitam meneruskan celotehnya: "Seandainya tubuhku basah, engkau cukup menyucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, maka selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi (kesombonganmu), dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!"
Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar suara Si Anjing Hitam di dekatnya, Kiai Yazid baru menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, ia bisa merasakan kekecewaan dan keluh kesah Si Anjing Hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar; ia telah menghina sesama makhluk Tuhan tanpa alasan yang jelas.
"Ya, engkau benar Anjing Hitam," kata Kiai Yazid, "Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih!"
Ungkapan Kiai Yazid tadi, tentu saja, merupakan ungkapan rayuan agar Si Anjing Hitam mau memaafkan kesalahannya. Jikalau binatang tadi mau berteman dengannya, tentu dengan suka rela ia mau memaafkan kesalahannya itu.
"Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu, tetapi Siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu sebagai raja di antara para mistik. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!" kata Si Anjing Hitam dengan tenang.
Kiai Yazid masih termenung dengan kesalahannya pada Si Anjing Hitam. Setelah dilihatnya, ternyata Si Anjing Hitam telah meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi itu. Si Anjing Hitam telah pergi dengan bekas ucapannya yang menyayat hati Sang Kiai.
"Ya Allah, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milik-Mu! Lantas, bagaimana aku dapat berjalan bersama-Mu Yang Abadi dan Kekal? Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhluk-Mu yang terhina di antara semuanya!" seru Kiai Yazid kepada Tuhannya di tempat yang sepi itu.
Kemudian, Kiai Yazid dengan langkah yang sempoyongan meneruskan perjalanannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke pesantrennya. Ia sudah rindu kepada para santri yang menunggu pengajarannya.

***

Keunikan dan ke-nyleneh-an Kiai Yazid memang sudah terlihat sejak dulu. Kepada para santrinya, beliau tidak selalu mengajarkan di pesantrennya saja, tetapi juga diajak merespon secara langsung untuk membaca ayat-ayat alam yang tergelar di alam semesta ini. Banyak pelajaran yang didapat para santri dari Sang Kiai; baik pembelajaran secara teoritis maupun praktis dalam hubungannya dengan ketuhanan.
Suatu hari, Kiai Yazid sedang mengajak berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Setelah diamati secara seksama, ternyata ia bukanlah Si Anjing Hitam yang dulu pernah memprotesnya. Ia Si Anjing Kuning yang lebih jelek dari Si Anjing Hitam. Begitu melihat Si Anjing Kuning tadi terlihat tergesa-gesa --barangkali karena ada urusan penting-- maka Kiai Yazid segera saja mengomando kepada para muridnya agar memberi jalan kepada Si Anjing Kuning itu.
"Hai murid-muridku, semuanya minggirlah, jangan ada yang mengganggu Si Anjing Kuning yang mau lewat itu! Berilah dia jalan, karena sesungguhnya ia ada suatu keperluan yang penting hingga ia berlari dengan tergesa-gesa," k ata Kiai Yazid kepada para muridnya.
Para muridnya pun tunduk-patuh kepada perintah Sang Kiai. Setelah itu, Si Anjing Kuning melewati di depan Kiai Yazid dan para santrinya dengan tenang, tidak merasa terganggu. Secara sepintas, Si Anjing Kuning memberikan hormatnya kepada Kiai Yazid dengan menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan rasa terima kasih. Maklum, jalanan yang sedang dilewati itu memang sangat sempit, sehingga harus ada yang mengalah salah satu; rombongan Kiai Yazid ataukah Si Anjing Kuning.
Si Anjing Kuning telah berlalu. Tetapi rupanya ada salah seorang murid Kiai Yazid yang memprotes tindakan gurunya dan berkata: "Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Sementara, kiai adalah raja di antara kaum sufi, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing jelek tadi. Apakah pantas perbuatan seperti itu?!"
Kiai Yazid menjawab: "Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku: "Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian dulu sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja di antara para mistik (kaum sufi)?" Begitulah yang sampai ke dalam pikiranku dan karena itulah aku memberikan jalan kepadanya."
Mendengar penjelasan Kiai Yazid seperti itu, murid-muridnya manggut-manggut. Itu merupakan pertanda bahwa mereka paham mengapa guru mereka berlaku demikian. Semuanya diam membisu. Mereka tidak ada yang membantah lagi. Mereka pun terus meneruskan perjalanannya.

***

(Inspirasi cerita: Kisah Abu Yazid al-Busthomi, tokoh besar dari kalangan kaum sufi)
Tulungagung, 9 Oktober 2003

posted by imponk | 8:11:00 AM
Lanjuuut..
 
Support : Creating Website | Fais | Tbi.Jmb
Copyright © 2011. Moh. Faishol Amir Tbi - All Rights Reserved
by Creating Website Published by Faishol AM
Proudly powered by Blogger