Headlines News :
Logo Design by FlamingText.com

SA'ATUL AN

TARIKHUL AN

ARCHIVE

Tarjim

POST

Minggu, 04 April 2010

Ibnu Arabi

BAB I
PENDAHULUAN

Sedikit sekali tokoh spiritual muslim yang begitu terkenal di Barat salah satunya Ibnu Arabi. Dalam dunia Islam sendiri tampaknya tak ada seorang tokoh-pun yang memiliki pengaruh luas dan begitu dalam terhadap kehidupan intelektual masyarakatnya selama lebih dari tujuh ratus tahun, dia dikenal oleh para muridnya dengan sebutan Al-Syaikh al-Akbar (maha guru). Sebagian mereka yang menemukan kesulitan dalam mempelajari karya-karyanya ada yang menolak gelar itu, namun bagaimanapun juga mereka tetap mengakui kebesarannya.
Salah satu sisi yang paling menakjubkan dari perjalanan beliau adalah hasil karyanya. Usman Yahya dalam dua volumenya tentang sejarah dan karya Ibnu Arabi menyatakan, bahwa Ibnu Arabi menulis 700 buku risalah dan kumpulan puisi yang berjumlah lebih dari 400 buah.
Karya-karya beliau yang terkenal banyak dipakai oleh umat Islam sebagai pijakan dan referensi, diantaranya adalah Futuhat al-Makkiyah. Dan ajarannya yang terkenal adalah Wahdatul al-Wujud, untuk keterangan lebih lanjut akan dibahas dalam bab berikutnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Ibnu Arabi
Nama lengkap beliau adalah Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah Ath-Tha’i al-Haitami. Ia lahir di Murcia, Andalusia, Spanyol, pada 17 Ramadhan 560 H / 28 Juli 1165 dan wafat pada 28 Rabiul Awal 638 H / 16 Nopember 1240. Beliau berasal dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuwan. Namanya disebut tanpa “Al” untuk membedakan dengan Abu Bakar Al-Arabi seorang qodhi dari Sevilla yang wafat 543.
Pada masa kecilnya ia diajar oleh dua wanita suci yaitu Yasmin dari Marcena dan Fatima dari Cordova. Ketika ia berumur 8 tahun keluarganya pindah ke Sevilla, tempat Ibnu Arabi kecil mulai belajar Al-Qur'an dan Fiqh. Karena kecerdasannya yang luar biasa, pada usia belasan tahun ia pernah menjadi sekretaris (katib) beberapa gubernur di Sevilla. Di kota ini pula ia berkenalan dengan Ibnu Rusyd, yang menjadi qodhi di Sevilla dan berguru kepadanya.
Setelah usianya menginjak 30 tahun, Ibnu Arabi mulai berkelana untuk menuntut ilmu. Mula-mula ia mendatangi pusat-pusat ilmu pengetahuan Islam di semenanjung Andalusia kemudian ia pergi ke Tunis untuk menemani Abdul Aziz al-Mahdawi (seorang ahli tasawuf). Pada tahun 594 H / 1198 M ia pergi ke Fez, Maroko. Di tahun berikutnya ia kembali ke Cordova dan sempat menghadiri pemakaman gurunya Ibnu Rusyd, kemudian ia pergi ke Almeira.

Tahun 598 H / 1202 M, Ibnu Arabi pergi lagi ke Tunis, Kairo, Yerussalem dan Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika berada di Tunis, Ibnu Arabi sempat mempelajari kitab Khal’u an-Nailami karya Abdul Qasim bin Qisyi yang kemudian disyarah (diberi uraian penjelasan tertulis) olehnya.
Menurut pengakuan Ibnu Arabi, keberangkatannya ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji berdasarkan ilham yang diterimanya dari Allah SWT. Ia tinggal di Makkah selama 2 tahun. Hari-hari kehidupannya di Makkah diisi dengan kegiatan tasawuf, membaca Al-Qur'an dan iktikaf (menciptakan suasana kerohanian yang syahdu, membuat adanya kontak antara dia dan yang ghaib).
Pada 612 H / 1215 M, Ibnu Arabi pergi lagi ke Malatya dan bermukim sampai 618 H / 1221 M. Di sini ia sempat menikah dengan janda bernama Majiduddin Ishaq dan mempunyai anak yang bernama Sa’addin Muhammad (618 H ./ 1221 M). Ibnu Arabi pernah disebut beberapa kali menikah dan mempunyai beberapa anak, tetapi anaknya yang dikenal dalam sejarah hanya Sa’addin Muhammad dan Imaddin Abu Abdullah (wafat di Damaskus, 667H/ 1269 M).

B. Ajaran Ibnu Arabi
Adalah Wahdat al-Wujud, yaitu ungkapan yang terdiri dari dua kata yaitu wahdat dan wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan, sedangkan wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan atau dalam bahasa Inggris unity existence. Di kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdat sebagai sesuatu yang dzatnya tidak dapat dibagi-bagi pada bagian yang lebih kecil. Selain itu wahdat digunakan pula oleh para ahli filsafat dan sufistik sebagai suatu kesatuan antara materi dan ruh, substansi (hakikat) dan format (bentuk) antara yang nampak (dzahir) dan yang batin, antara alam dengan Allah karena alam pada hakikatnya qadim dan berasal dari Tuhan.
Pengertian wahdat al-wujud yang terakhir itulah yang digunakan para sufi, yaitu paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah kesatuan wujud. Menurut paham ini tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek yaitu aspek luar yang disebut al-Khalq (makhluk), al-‘Arad (acciden-kenyataan luar), zahir (luar, nampak), dan aspek dalam yang disebut al-Khaq (Tuhan) al-Jauhar (subtance-hakikat) dan al-Batin (dalam).
Menurut Ibnu Arabi, wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan wujud makhluk adalah wujud khalik juga. Tidak ada perbedaan antara keduanya (khalik dan makhluk) dari segi hakikat. Adapun kalau ada yang mengira adanya perbedaan antara keduanya, hal itu dilihat dari sudut pandang panca indera lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat semua yang ada pada dzat-Nya dari kesatuan dzatiah yang segala sesuatu terhimpun padanya. Hal itu tersimpul dalam ucapan Ibnu Arabi berikut :

Artinya : Maha suci Tuhan yang telah menjadikan segala sesuatu dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu.

Atau ucapan Ibnu Arabi yang lain yaitu :

Artinya : Wahai yang menjadikan segala sesuatu pada dirinya. Engkau bagi apa yang Engkau jadikan, mengumpulkan apa yang Engkau jadikan, barang yang tak henti adanya pada Engkau, maka Engkaulah yang sempit dan yang lapang.

Menurut Ibnu Arabi, wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah, dan Allah adalah hakikat alam, tidak ada perbedaan antara wujud yang qodim yang disebut khalik dengan wujud yang hadits yang disebut makhluk. Tidak ada perbedaan antara ‘abid (yang menyembah) dengan ma’bud (yang disembah) adalah satu. Untuk itu Ibnu Arabi mengemukakan lewat syairnya :

Artinya :
Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Demi syu’ur (perasaanku) siapa yang mukallaf ?
Jika engkau katakan hamba, padahal (pada hakikatnya) Tuhan juga
Atau engkau katakan Tuhan, lalu siapa yang dibebani taklif ?

Dalam bentuk lain dijelaskan bahwa makhluk diciptakan oleh khalik (Tuhan) dan wujudnya tergantung pada wujud Tuhan sebagai sebab dari segala yang berwujud selain Tuhan, yang berwujud selain Tuhan tidak akan mempunyai wujud, seandainya Tuhan tidak ada. Oleh karena itu Tuhan yang sebenarnya yang mempunyai wujud hakiki, sedangkan yang diciptakan hanya mempunyai wujud yang bergantung pada wujud di luar dirinya, yaitu wujud Tuhan. Dengan demikian wujud hanya satu yaitu wujud Tuhan.
Selanjutnya Ibnu Arabi menjelaskan, hubungan antara Tuhan dengan alam menurutnya alam adalah bayangan Tuhan atau bayangan wujud yang hakiki. Alam tidak mempunyai wujud yang sebenarnya. Oleh karena itu alam merupakan alam ajali (penampakan) Tuhan.
Menurut Ibnu Arabi, ketika Allah menciptakan alam ini Ia juga memberikan sifat-sifat Tuhan pada segala sesuatu. Alam ini seperti cermin yang buram dan juga seperti badan yang tidak bernyawa, Allah menciptakan manusia untuk memperjelas cermin itu. Dengan kata lain, alam ini merupakan mazhar (penampakan) dan asma dan sifat Allah yang terus-menerus. Tanpa alam sifat dan asmanya kehilangan maknanya dan senantiasa berbentuk dzat yang tinggal dalam ke-mujarradan (kesendirian)-Nya yang mutlak yang tidak dikenal oleh siapapun.
Dalam Fushush al-Hikam, Ibnu Arabi menjelaskan hal tersebut dengan ungkapan syairnya :


Artinya : Wajah itu sebenarnya hanya satu, tetapi anda memperbanyak cermin, Ia pun menjadi banyak.

Untuk memperkuat pendiriannya itu Ibnu Arabi merujuk sebuah hadits qudsi yang berbunyi :

Artinya : Aku pada mulanya adalah perbendaharaan yang tersembunyi, kemudian aku ingin dikenal maka Kuciptakan makhluk, lalu dengan itulah mereka mengenal Aku.


C. Karya-karya Ibnu Arabi
Diantara karya-karya Ibnu Arabi adalah :
1. Fushush al-Hikam
2. Futuhat al-Makkiyah
3. Al-Isra’
4. Mawaqi’ an-Nujum
5. Risalah al-Anwar
Diantara karya-karya itu masih banyak lagi karangan Ibnu Arabi yang lain.

BAB III
PENUTUP

Salah satu tokoh sufi yang terkenal adalah Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah Ath-Tha’i al-Haitami atau biasa disebut atau dikenal dengan Ibnu Arabi. Ia selalu berkelana untuk menuntut ilmu dan banyak mengarang kitab-kitab yang terkenal, seperti Futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam.
Ajaran beliau yang terkenal adalah Wahdat al-Wujud yang artinya kesatuan wujud, dimana pada hakikatnya makhluk dan khalik adalah satu, tidak ada perbedaan antara keduanya dalam segi hakikat.
Demikian sedikit uraian yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat, Amiin.

DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Rosihan, Ilmu Tasawuf, Pustaka Setia, Bandung, 2004
Abudinata, Akhlak Tasawuf, Raja Grafindo, Jakarta, 2002
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam 2, Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2001.
Mustofa, Akhlak Tasawuf, Pustaka Setia, Bandung, 1997
Lanjuuut..

Qiyas 22

BAB I
PENDAHULUAN

lmu ushul fikih menurut istilah syara’ adalah pengetahuan tantang kaidah dan pembahasannya yang digunakan untuk menetapkan hokum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan manusia dari dalil-dalilnya yang terperinci. Atau, kumpulan kaidah dan pembahasannya yang digunakan untuk menetapkan hokum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan manusia dari dalil-dalilnya yang terperinci.
Berdasarkan penelitian, para ulama telah menetapkan dalil yang dapat diambil sebagai hokum syariat yang sebangsa perbuatan itu ada empat, Al-Qur’an, Al-Sunnah, Al-Ijma,’, dan Al-qiyas. Dan bahwa sumber pokok dalil-dalil tersebut serta sumber huum syariat adalah Al-Qr’an kemudian Al-Snnnah sebagai penjelas atas keglobalan Al-Qur’an, pembatas keumumannya, pengikat kebebasannya dan sebagai penerang serta penyempurna.




BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN QIYAS
Menurut bahasa, qiyas artinya ukuran atau mengukur, mengetahui ukuran sesuatu, atau menyamakan sesuatu dengan yang lain.
Dengan demikian,qiyas diartikan mengukurkan sesuatu atas yamg lain, agar diketahui persamaan antara keduanya.
Sedangkan secara terminologi adalah, menyamakan suatu hukum dari peristiwa yang tidak memiliki nash hukum dengan peristiwa yang sudah memiliki nash hukum, sebab sama dalam illat hukumnya.

B. MACAM-MACAM QIYAS
1. Qiyas Aulia, yaitu suatu qiyas yang illat-nya mewajibkan adanya hukum dan yang disamakan (mulhaq) dan mempunyai hukum yang lebih utama dari pada tempat menyamakannya (mulhaq bih).
Misalnya, mengqiyaskan memukul kedua orang tua dengan mengatakan “ ah “ kepadanya, yang tersebut dalam firman Allah SWT.

        •  •                 

23. Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.


Mengatakan “ ah “ kepada ibu bapak dilarang karena illat-nya ialah menyakitkan hati. Oleh karena itu, memukul kedua ibu bapak tentu lebih dilarang, sebab di samping menyakitkan hati juga menyakitkan jasmaninya. Illat larangan yang terdapat pada mulhaq ( yang disamakan) lebih berat dari pada yang terdapat pada mulhaq bih. Dengan demikian, larangan memukul kedua orang tua lebih keras dari pada larangan mengatakan “ ah “ kepadanya.

2. Qiyas MuSAW.i, yaitu suatu qiyas yang illat-nya mewajibkan adanya hukum dan illat hukum yang terdapat pada mulhaq-nya sama dengan illat hukum terdapat pada mulhaq bih. Misalnya, merusak harta benda anak yatim mempunyai illat hukum yang sama dengan memakan harta anak yatim, yakni sama-sama merusak harta. Sedang makan harta anak yatim diharamkan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT.

              

10. Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).

Maka merusak harta anak yatim adalah haram. Keharamannya karena diqiyaskan pada memakan harta anak yatim.

3. Qiyas Dalalah, yaitu suatu qiyas dimana illat yang ada pada mulhaq menunjukkan hukum, tetapi tidak mewajibkan hukum padanya, seperti mengqiyaskan harta milik anak kecil pada harta seorang dewasa dalam kewajibannya mengeluarkan zakat, dengan illat bahwa seluruhnya adalah harta benda yang mempunyai sifat dapat bertambah. Dalam masalah ini, Abu Hanifah berpendapat lain. Bahwa harta benda anak yang belum dewasa tidak wajib di zakati lantaran diqiyaskan dengan haji. Sebab, menunaikan ibadah haji itu tidak wajib bagi anak yang belum dewasa (mukallaf).


C. ILLAT DAN BENTUK-BENTUKNYA

1. Pengertian Illat
Illat adalah salah satu rukun atau unsur qiyas, bahkan merupakan unsur yang terpenting, karena adanya illat itulah yang menentukan adanya qiyas atau yang menentukan suatu hukum untuk dapat diterangkan kepada yang lain.

Pada dasarnya, hukum-hukum yang ditetapkan oleh suatu nash mengandung maksud tertentu. Sehinnga bila seseorang melaksanakan hukum tersebut, maka apa yang dituju dengan ketetapan hukum itu akan tercapai. Tujuan hukum itu dapat dicari dan diketahui dari teks atau nash yang menetapkannya, yakni melalui sifat atau hal yang menyertai hukum itu. Dari sifat yang menyertai hukum itu diketahui illat hukumnya.

2. Bentuk-Bentuk Illat
Illat adalah sifat yang menjadi kaitan bagi adanya suatu hukum. Ada beberapa bentuk sifat yang mungkin menjadi illat bagi hukum bila telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Di antara bentuk sifat itu adalah :

a. Sifat hakiki, yaitu yang dapat dicapai oleh akal dengan sendirinya, tanpa tergantung kepada ‘urf (kebiasaan) atau lainnya. Contohnya : sifat memabukkan pada minuman keras.

b. Sifat hissi, yaitu sifat atau sesuatu yang dapat diamati dengan alat indera. Contohnya : pembunuhan yang menjadi penyebab terhindarnya seseorang dari hak warisan, pencurian yang menyebabakan hukum potong tangan, atau sesuatu yang dapat dirasakan, seperti senang atau benci.

c. Sifat ‘urf, yaitu sifat yang tidak dapat diukur, namun dapat dirasakan bersama. Contohnya : buruk dan baik, mulia dan hina.

d. Sifat lughawi, yaitu sifat yang dapat diketahui dari penamaannya dalam artian bahasa. contohnya : diharamkannya nabiz karena ia bernama khamar.

e. Sifat syar’i, yaitu sifat yang keadaannya sebagai hukum syar’i dijadikan alasan untuk menetapkan sesuatu hukum. Contohnya : menetapkan bolehnya mengagungkan barang milik bersama dengan alasan bolehnya barang itu dijual.

f. Sifat murakkah, yaitu bergabungnya beberapa sifat yang menjadi alasan adanya suatu hukum. Contohnya : sifat pembunuhan secara sengaja, dan dalam bentuk permusuhan, semuanya dijadikan alasan berlakunya hukum qishash.
Lanjuuut..

Ulumul Qur'an

BAB I
PENDAHULUAN

Yang dimksud dengan pengumpulan al qur’an oleh para ulama’ adalah salah satu dari dua pengertian yaitu. Pertama, pengumpulan dalam arti hifzuhu (menghafalnya dalam hati). Dan yang kedua, pengumpulan dalam arti kitabatuhu kullihi (penulisan qur’an semua), baik dengan memisah-misahkan ayat-ayat dan surah-surahnya.



Download Makalah Pendidikan : "Ulumul Qur'an" Lengkap





Lanjuuut..

Sabtu, 03 April 2010

Nikah Mut'ah

NIKAH MUT’AH
A. Abstraksi dan Fokus Pembahasan
Sesungguhnya problem sosial yang paling memprihatinkan dan menghancurkan masyarakat manusia adalah penyimpangan seks. Akan tetapi seks merupakan unsur mendasar untuk kesinambungan hidup manusia, sebagaimana dikehendaki Allah Swt. yang telah menjadikan segala sesuatu berpasangan, laki-laki dan perempuan, baik dari jenis manusia, hewan, tumbuhan, dan sebagainya. Allah Swt. berfirman :
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”. (QS. Adz-Dzariyat:49)1
Lanjuuut..

الحديث المدرج

الباب الأول
الحديث المدرج

التعريف
لغة : اسم مفعول من "أدرج الشيء في الشيء" إذا أدخلته فيه وضمنته إياه.
اصطلاحا : ما غير سياق إسناده أو أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل أي بلا فصل أى بلا فاصل بين المرفوع والمدرج لأن الحديث كان مرفوعاا قبل الإدرارج وسمي بذلك لأنه أدرج في المتن شيء فهو مدرج فيه، كما أنشده صاحب منظومة البيقونية.
المدرجات في الحديث ما أتت من بعض ألفاظ الرواة اتصلت
وفي اصطلاح المحدثين: هو الحديث الذي زيد فيه ما ليس منه في السند أو في المتن ويعرف المدرج بوروده منفصلا في روايته أخرى أو بالنص على ذلك من الراوي أو من بعض الأئمة المطلعين أو باستحالة كونه سلى اللع عليه وسلم يقول ذلك.

أقسامه
ينقسم إلى قسمين (1) مدرج المتن (2) و مدرج السند
1. مدرج المتن
تعريفه: ما أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل اى أن يدخل في حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم شيء من كلام بعض الرواة فيتوهم من يسمع الحديث أن هذا الكلام منه، وقد يكون في أول الحديث، وقد يكون في وسطه وقد يكون في أخره وهو أكثر.
1. أن يكون الإدراج في أول الحديث وهو قليل:
مثاله: ما رواه الخطيب البغدادي من رواية أبي قطن عمرو بن الهشيم وشبابة بن سوار عن شعبة عن محمد بن زياد عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اسبغوا الوضوء ويل للأعقاب من النار، فقوله "أسبغوا الوضوء" مدرج من كلام أبي هريرة وقد بينت ذلك رواية البخاري في صحيحه عن أدم عن شعبة عن محمد بن زياد عن أبي هريرة قال: أسبغوا الوضء: فأن أبا القاسم صلى الله عليه وسلم قال: "ويل للاعقاب من النار" فقد وهم في الأولى أبو قطن، وشبابة عن شعبة وقد رواه الجم الغفير عنه كرواية أدم.
2. أن يكون الإدراج في وسط الحديث، وهو أقل من الأول.
مثاله: ما رواه الدار قطني في السنن من طريق عبد الحميد بن جعفر عن هشام بن عروة عن أبيه عن بسرة بنت صفوان قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: "من مس ذكره أبو أنشيية أو رفيغه فليتوضأ" قال الدار قطني: هكذا رواه عبد الحميد عن هشام ووهم في ذكر الأنيثيين والرفغ وأدرجه كذلك في حديث بسرة، والمحفوظ أن ذلك قول عروة، وكذا رواه الثقات عن هشام منهم: أيوب وحماد بن زيد وغيرهما، ثم رواه من طريق أيوب بلفظ "من مس ذكره فليتوضأ" قال: وكان عروة يقول: إذا مس رفيغه أو أنشبة أو ذكره فليتوضأ وكذا قال الخطيب، فعروة لما فهم من لفظ الخبر أن سبب نقض الوضوء مظنة الشهوة جعل حكم ما قرب من الذكر كذلك، فقال ذلك، فظن بعض الرواة أنه من صلب الخبر فنقله مدرجا فيه، وفهم الأخرون حقيقة الحال ففصلوا.

3. أن يكون الإدراج في أخر الحديث وهو الغالب.
مثاله: مارواه في الصحيح عن أبي هريرة مرفوعا للعبد المملوك أجران، والذي نفسي بيده لولا الجهاد في سبيل الله والحج وبر أمي لأحببت أن أموت وأنا مملوكز
فهذا مما يتبين بادئ الرأي أن قوله: والذي نفسي بيده.....الخ. مدرج من قول أبي هريرة لاستحالة أن يقوله النبي صلى الله عليه وسلم لأن أمه ماتت وهو صغير، لأنه يمتنع منه أن يتمنى الرق وهو أفضل الخلق على الإطلاق.

2. مدرج السند
تعرفه: ما غير سياق اسناده، ومرجعه في الحقيقة إلى المتن.
من صوره : أن يسوق الراوي الإسناد- فيعرض له عارض، فيقول كلاما من قبل نفسه. فيظن بعض من سمعه أن ذلك الكلام هو متن ذلك الاسناد فيرويه عنه كذلك.
مثاله : قصد ثابت بن موسى الذاهب في روايته: "من كثر صلاته باللين حسن وجهه بالنهار" وأصل القصة أن ثابت بن مسى دخل على شريك بن عبد الله القاضي وهو يملي ويقول "حدثنا الأعمش عن ابن سفيان عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وسكت يكتب المستملي فلما نظر إلى ثابت قال: من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار" وقصر بذلك ثابتا لهذه وورعه. فظن ثابت أنه متن ذلك الأسناد فكان يحدث به".

حكم الإدراج
وكل الإدراج بجميع أقسامه محرم بإجماع أهل الحديث والفقه، كذا في التدريب. قال بعضهم لما فيه من التلبيس، وإن كان بعضه أخف من بعض وهو قادح على فاعله. قال ابن السمعاني: من تعمد الإدراج فهو ساقط العدالة ممن بحرف الكل عن مواضعه وهو ملحق بالكاذبين. قال المصنف لشيخ الإسلام وغيره : "وعندي (بفتح الياء) التفسير" اى أن ما أدرج لتفسير غريب قد يسامح ولا يمنع منه، ولذلك فعله الزهري وغيره من الأئمة. قال بعض المحققين: لا يظهر التحريم في مثله لا سيما في المتفق عليه، وقول ابن السمعاني المذكور يحمل على ما عداه، هذا وقد صنف الخطيب في نوع الإدراج كتابا سماه (الفصل للوصول المدرج في النقل) ولخصه الحافظ ابن حجر وزاد عليه نحوه مرتين وأكثر في كتاب سماه (تقريب المنهج بترتيب المدرج).
حكم الإدراج ما كان من الراوي عن عمد فإنه حرام كله على اختلاف أنواعه باتفاق أهل أهل الحديث والفقه والاصول لما يتضمن من التدليس والتبليس وعزوا القول إلى القول إلى غير قائله ونسبة ما ليس من كلام رسول الله إليه.
وأما ما وقع من الراوي خطأ من غير عمد فإن كان قليلا فلا حرج عليه إلا إن كثر خطؤه فيكون جرحا وطعنا في ضبطه واتقانه أم الإدراج لبفسير شيء من معنى الحديث ففيه تسامح ولذلك فعله الزهري وغيروا واحد من الأئمة والأولى أن ينص الراوي على بيانه.

أشهر المصنفات
1. الفصل للوصول المدرج في النقل "للخطيب البغدادي"
2. تقريب المنهج بترتيب المدرج "لابن حجر، وهو تلخيص للكتاب الخطيب وزيادة عليه".


الباب الثاني
الحديث المقلوب
تعريف المقلوب
لغة: هو اسم مفعول من "القلب" وهو تحويل الشيء عن وجهه" والمصووف عن وجهه الصحيح قال في المصباح "قلبته قلبا من باب ضرب حولته عن وجهه وكلم مقلوب مصروف عن وجهه، وقلبت الرداء حولته وجعلته أعلاه أسفله"
اصطلاحا إبدال لفظ بأخر في سند الحديث أو متنه بتقديم أو تاخير ونحوه، وفي اصطلاح المحدثين: هو الحديث الذي وقع تغييره في متنه أو في سنده بإبدال أو تقديم وتأخير ونحو ذلك.

أقسامه
ينقسم المقلوب إلى قسمين رئيسين هما:
مقلوب السند، ومقلوب المتن
أ‌. مقلوب السند: هو ما وقع الإبدال في سنده، وله صورتان:
1. أن يقدم الراوي ويؤخر في اسم أحد الرواة واسم أبيه كحديث مروى عن "كعب بن مرة" فيرويه الراوي عن "مرة بن كعب".
2. أن يبدل الراوي شخصا بأخذ بقصد الإغراب، كحديث مشهور عن "سالم" فجعله الراوي عن "نافع" وممن كان يفعل ذلك من الرواة "حماد بن عمرو النصيبي" وهذا مثاله: حديث رواه حماد النصيبي عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة مرفوعا: إذا لقيتم المشركين في طريق فلا تبدأ وهم بالسلام" فهذا حديث مقلوب قلبه حماد، فجعله عن الأعمش، وإنما هو معروفه عن سهل بن أبي صالح عن أبيه عن أبي هريرة، هكذا أخرجه مسلم في صحيحه.
وهذا النوع من القلب هو الذي يطلق على راويه أنه يسرق الحديث.
ب‌. مقلوب المتن: وهو ما وقع الإبدال في متنه وله صورتان أيضا:
1. أن يقدم الراوي ويؤخر في بعض متن الحديث، ومثاله، حديث أبي هريرة عن سالم في السبعة الذين يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله. ففيه: "ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم يمينه ما تنفق شماله".
فهذا مما انقلب على بعض الرواة وإنما هو:
"حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه"


2. أن يجعله الراوي متن هذا الحديث على إسناد أخذ ويجعل إسناده لمتن أخر، وذلك يقصد الامتحان وغيره مثاله: ما فعل أهل بغداد مع الإمام البخاري، إذا قلبوا له مائة حديث وسألوه عنه امتحانا لفظه، فردها على ما كانت عليه قبل القلب ويم يخطئ في واحد منها.

الأسباب الحاملة على القلب
تختلف الأسباب التي تحمل بعض الرواة على القلب، وهذه الأسباب هي.
أ‌. قصد الأغراب ليرغب الناس في رواية حديثه والأخذ عنه
ب‌. قصد الامتحان و التأكيد من حفظ المحدث وتمام ضبطه
د‌. الوقوع في الخطأ والغلط من غير قصد.

حكم القلب
أ‌. إن كان القلب بقصد الإغراب فلا شك في أنه ر يجوز لأن فيه تغييرا للحديث، وهذا من عمل الوضاعين
ب‌. وإن كان يقصد الامتحان، فهو جائز للتثبيت من حفظ المحدث.
ج. وإن كان عن خطأ عن وسهو فلا شك أن فاعله معذور في خطئه لكن إذا كثر ذلك منه فإنه يخل يضبطه، ويجعله ضعيفا
أما الحديث المقلوب فهو من أنواع الضعيف المردود كما هو معلوم.

أشهر المصنفات فيه
1. كتاب "رافع الارتياب في المقلوب من الأسماء والألقاب" للخطيب البغدادي والظاهر من اسم الكتاب أنه خاص بقسم المقلوب الواقع في السند فقط.

الخلاصة والاختصار

• ومن الأخبار المردودة المدرج والمقلوب. وهما منها التي سبب ردها الطعن في الراوي.
• المدرج ما غير سياق اسناده أو أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل
• المدرج قسمان: مدرج الاسناد وهما ما غير إسناده ومدرج المتن وهو ما أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل.
• والإدراج في المتن (ما في أول الحديث وهو قليل وأما في الوسط وهو وهو أقل من الأول وأما في الأخر وهو الغالب.
• ومن أسباب الإدراج المشهورة بيان حكم شرعي واستباط الراوي حكما شرعيا من الحديث قبل أن يتم الحديث وشرح بعض الألفاظ الغرابية فيه
• و يدرك الإدراج بأمور منها وروده منفصلا في رواية أخرى والتنصص عليه من بعض الأئمة المطلعني وإقرار الراوي نفسه أنه أدراج هذا الكلام واستحالة كونه صلى الله عليه وسلم يقول ذلك.
• واتفقوا الجمهور على تحريم الإدراج وغير الاحتجاج به إلا ما كان لتفسير غريب فلا يمنع
• و من الكتب المشهورة في المدرج الفصل للوصل المدرج في النقل وتقريب المنهج بترتيب المدرج.
• والمقلوب ما روى على أجه عن وجهه الصحيح
• شروك تحقيق الحديث المقلوب أثنان من جهة المتن أو من جهة السنة
• وينقسم إلى المقلوب المثنى والمقلوب السنة
• قد قلب المقلوب من قلب الشيء اى تمويل الشيء من جهة
• أن يبدل الراوي شخصا باخر يقصد الإغراب.


والله أعلم بالصواب







الإختتام

وقد تمت هذه المقالة الشاملة بعون الله تعالى ذي الرحمة مع الجهد والتعب، لأننا ليست ممن يتجر في علم الحاسوب. والله لقد صدق القال: "وما اللذات الأبعد التعب" والأن نشعر بثمرة التعب التي هي اللذات، وصلى الله علي حبيبه محمد المصطفى والحمد لله رب العالمين.

ثم قلنا كما قال اخونا العزيز في مقالته
المقالة الشاملة قد كتبنا # مع الشرح والبيان المبينا
اللهم انعفنا بما كتبنا # في ديننا ودنيانا وأخرينا
وان تجد عيبا صوب يا إخوان # فلله الصواب والخطأ لنا
اللهم اجعلنا من حامل القرأن # لفظ ومنعى عملا كل زمان
وقل اللهم يا رب العالمين # افتح قلوبنا فتوح العارفين
فالحمد لله على إيماننا # صلاته على النبي حبيبنا

المراجع والمصادر

1. التعريف بالقران والحديث لمحمد الذ فذق (حقوق الطبع محفوظة للمؤلف. 1955 مــ) ط: 1
2. الوسيط في علوم مصطلح الحديث (الدكتور الشيخ محمد بن محمد أبو شهبة، قاهرة: دار الفكر العربي).
3. الباقونية لأبي
4. منهج ذوي النظر في شرح منظومة الفية علم الأخر للشيخ محمد محفوظ بن عبد الله التمسي (بيروت، دار الفكر. 1421هــ، 2000 مــ)
5. تقريرات منظومة البقيونية للبيهقي (ليربيا-كديري: هداية المبتدئين)
6. القاموس المحيط للإمام مجد الدين محمد بن يعقوب الفيروز ابا دي (بيروت: دار الفكر، 1415هــ - 1990مــ) ط، 1
7. سنن الترمذي لمحمد عيسى الترمذي (بيروت: دار الفكر: 1425-1426 هــ، 2005 مــ)ج: 1
8. تدريب الراوي في شرح تقريب النووي للإمام جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي (بيروت: دار الفكر، 2006مــ)، ط
9. تيسير مصطلح الحديث للدكتور محمد بن أحمد الطحان، (اندونسيا: الحرمين 1985مــ)ط: 7
10. المستدرك على الصحيحين في مقدمته لمحمد مطرجي (بيروت: دار الفكر 2002)ط: 10

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم

خطبة المقالة
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق لقيظهره على الدين كله أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
أما بعد، فإن علم الحديث النبوي الشريف لم يزل من قديم الزمان أشرف العلوم وأجهلها وأنفعها وأبقاها ذكرا وأعظمها أثلاا بعد علم القرأن الكريم الذي هو أصل الدين ومنبع الصراط المستقيم. فإن الاشتغال بالعلم من أفضل الطاعات وأولى ما أنفقت فيه نفائس الأوقات.
فهذه مقالت في الفن علوم مصطلاح الحديث تحت الموضوع الحديث المدرج ومقلوب نقلته من الكتب الكثيرة المعتمدة في هذا الفن. منها منهج ذوي النظر على شرح اليوطي وتيسير مصطلاح الحديث للدكوتور محم الطحان وغيرها لينتفع بها المحتاج من المتعلمين وليكون وسيلة لنجاتي يوم الدين ونفعنا للمسلمين.
فقد سألنا الأستاذ الفاضل العالم مدير المعهد هاشم أشعري العال بروفسور الدكتور جمال الدين ميري ل،س. أن أعمال المقالة هذه لاستفاء بعض شروط الاختبار في المستوى الأول فأجبنه إمراما وتعظيما له سمعا وطاعة ورجاء بركات علومه وطمعا رضا ربه تعالى.
وجعلنا المقالة من مقدمة وفهرس وأبواب وفصول ومباحث وخلاصة وخاتمة وزدت فيها أقوال من تلقاء نفسنا بحسب فهمنا. وإننا نعترف بوحدنا وتقصيرنا في إعطاء هذه المقالة حقها ولا أبرئ نفسنا من الزلل والخطأ. وإن كنا في ذلك قد أصينا فذلك من فضل الله تعالى وإن كنا قد أحطئنا فمن تلقائنا نفسنا والشيطان. فالرجاء ممن يطله فيها على زلة أو خطأ أن ينبهنا عليه مشكورا لعلى متداركه ونستغفر الله ونرجوه أن ينفعنا به الطلبة والمشتغلين وأن يجعله خالصا لوجهه كما قيل:
وإن تجد عيبا صوب يا إخواننا فلله الصواب والخطأ لنا
وقد رجونا أن تكونا المقالة منفعة باركة للطلبة

ربي عليك توكلنا وإليك أنسبنا وإليك المصير. والله نسأل أن يجعل هذه المقالة مقبولة ونفعها دائما وأجرها موصولا وإنه سميع قريب مجيب. وما توفيقنا إلا الله والحمد لله حمدا يوافي نعمه ويكافيء مزيده وصلى الله تبارك وتعالى على سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم ةعلى أله وصحبه وسلم.

تبوئرنج، 01 أبريل 2001مــ.
كتبها ونقلها الفقير إلى رحمة ربه الغنى


أحمد غفران و فريونو السموطران

الفهرس

خطبة المقالة ii
الفهرس iv

الباب الأول : الحديث الدرج
الفصل الأول : في تعريف الإدراج 1
الفصل الثاني : في إقسام الإدراج 2
1. المدرج في المتن 2
2. المدرج في السند 3
الفصل الثالث : حكم الإدراج 4
الفصل الرابع : أشهر المصنفات 5

الباب الثاني : الحديث المقلوب
الفصل الأول : في تعريف المقلوب 6
الفصل الثاني : في إقسام المقلوب 7
الفصل الثالث : الأسباب الحاملة على القلب 8
الفصل الرابع : حكم القلب 9
الفصل الخامس : أشهر المصنفات فيه 10
الخلاصة 11
الإختتام 12

المراجع


الحديث المقلوب والمدرج
كتبها الفقيران إلى رحمة الله :
أحمد غفران وفريونو









(( لاستيفاء شروط الإختبار النهائي في الفصل الأول ))



 
تحت إشراف فضيلة الأستاذ الكريم:
بروفسور الدكتور الحاج جمال الدين ميري, م أ
رقم دفـتر القيد: 825231150
[ حفظه الله تعالى ونفعنا به وبعلومه آمين ]
Lanjuuut..

الحديث المدرج

الباب الأول
الحديث المدرج

التعريف
لغة : اسم مفعول من "أدرج الشيء في الشيء" إذا أدخلته فيه وضمنته إياه.
اصطلاحا : ما غير سياق إسناده أو أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل أي بلا فصل أى بلا فاصل بين المرفوع والمدرج لأن الحديث كان مرفوعاا قبل الإدرارج وسمي بذلك لأنه أدرج في المتن شيء فهو مدرج فيه، كما أنشده صاحب منظومة البيقونية.
المدرجات في الحديث ما أتت من بعض ألفاظ الرواة اتصلت
وفي اصطلاح المحدثين: هو الحديث الذي زيد فيه ما ليس منه في السند أو في المتن ويعرف المدرج بوروده منفصلا في روايته أخرى أو بالنص على ذلك من الراوي أو من بعض الأئمة المطلعين أو باستحالة كونه سلى اللع عليه وسلم يقول ذلك.

أقسامه
ينقسم إلى قسمين (1) مدرج المتن (2) و مدرج السند
1. مدرج المتن
تعريفه: ما أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل اى أن يدخل في حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم شيء من كلام بعض الرواة فيتوهم من يسمع الحديث أن هذا الكلام منه، وقد يكون في أول الحديث، وقد يكون في وسطه وقد يكون في أخره وهو أكثر.
1. أن يكون الإدراج في أول الحديث وهو قليل:
مثاله: ما رواه الخطيب البغدادي من رواية أبي قطن عمرو بن الهشيم وشبابة بن سوار عن شعبة عن محمد بن زياد عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اسبغوا الوضوء ويل للأعقاب من النار، فقوله "أسبغوا الوضوء" مدرج من كلام أبي هريرة وقد بينت ذلك رواية البخاري في صحيحه عن أدم عن شعبة عن محمد بن زياد عن أبي هريرة قال: أسبغوا الوضء: فأن أبا القاسم صلى الله عليه وسلم قال: "ويل للاعقاب من النار" فقد وهم في الأولى أبو قطن، وشبابة عن شعبة وقد رواه الجم الغفير عنه كرواية أدم.
2. أن يكون الإدراج في وسط الحديث، وهو أقل من الأول.
مثاله: ما رواه الدار قطني في السنن من طريق عبد الحميد بن جعفر عن هشام بن عروة عن أبيه عن بسرة بنت صفوان قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: "من مس ذكره أبو أنشيية أو رفيغه فليتوضأ" قال الدار قطني: هكذا رواه عبد الحميد عن هشام ووهم في ذكر الأنيثيين والرفغ وأدرجه كذلك في حديث بسرة، والمحفوظ أن ذلك قول عروة، وكذا رواه الثقات عن هشام منهم: أيوب وحماد بن زيد وغيرهما، ثم رواه من طريق أيوب بلفظ "من مس ذكره فليتوضأ" قال: وكان عروة يقول: إذا مس رفيغه أو أنشبة أو ذكره فليتوضأ وكذا قال الخطيب، فعروة لما فهم من لفظ الخبر أن سبب نقض الوضوء مظنة الشهوة جعل حكم ما قرب من الذكر كذلك، فقال ذلك، فظن بعض الرواة أنه من صلب الخبر فنقله مدرجا فيه، وفهم الأخرون حقيقة الحال ففصلوا.

3. أن يكون الإدراج في أخر الحديث وهو الغالب.
مثاله: مارواه في الصحيح عن أبي هريرة مرفوعا للعبد المملوك أجران، والذي نفسي بيده لولا الجهاد في سبيل الله والحج وبر أمي لأحببت أن أموت وأنا مملوكز
فهذا مما يتبين بادئ الرأي أن قوله: والذي نفسي بيده.....الخ. مدرج من قول أبي هريرة لاستحالة أن يقوله النبي صلى الله عليه وسلم لأن أمه ماتت وهو صغير، لأنه يمتنع منه أن يتمنى الرق وهو أفضل الخلق على الإطلاق.

2. مدرج السند
تعرفه: ما غير سياق اسناده، ومرجعه في الحقيقة إلى المتن.
من صوره : أن يسوق الراوي الإسناد- فيعرض له عارض، فيقول كلاما من قبل نفسه. فيظن بعض من سمعه أن ذلك الكلام هو متن ذلك الاسناد فيرويه عنه كذلك.
مثاله : قصد ثابت بن موسى الذاهب في روايته: "من كثر صلاته باللين حسن وجهه بالنهار" وأصل القصة أن ثابت بن مسى دخل على شريك بن عبد الله القاضي وهو يملي ويقول "حدثنا الأعمش عن ابن سفيان عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وسكت يكتب المستملي فلما نظر إلى ثابت قال: من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار" وقصر بذلك ثابتا لهذه وورعه. فظن ثابت أنه متن ذلك الأسناد فكان يحدث به".

حكم الإدراج
وكل الإدراج بجميع أقسامه محرم بإجماع أهل الحديث والفقه، كذا في التدريب. قال بعضهم لما فيه من التلبيس، وإن كان بعضه أخف من بعض وهو قادح على فاعله. قال ابن السمعاني: من تعمد الإدراج فهو ساقط العدالة ممن بحرف الكل عن مواضعه وهو ملحق بالكاذبين. قال المصنف لشيخ الإسلام وغيره : "وعندي (بفتح الياء) التفسير" اى أن ما أدرج لتفسير غريب قد يسامح ولا يمنع منه، ولذلك فعله الزهري وغيره من الأئمة. قال بعض المحققين: لا يظهر التحريم في مثله لا سيما في المتفق عليه، وقول ابن السمعاني المذكور يحمل على ما عداه، هذا وقد صنف الخطيب في نوع الإدراج كتابا سماه (الفصل للوصول المدرج في النقل) ولخصه الحافظ ابن حجر وزاد عليه نحوه مرتين وأكثر في كتاب سماه (تقريب المنهج بترتيب المدرج).
حكم الإدراج ما كان من الراوي عن عمد فإنه حرام كله على اختلاف أنواعه باتفاق أهل أهل الحديث والفقه والاصول لما يتضمن من التدليس والتبليس وعزوا القول إلى القول إلى غير قائله ونسبة ما ليس من كلام رسول الله إليه.
وأما ما وقع من الراوي خطأ من غير عمد فإن كان قليلا فلا حرج عليه إلا إن كثر خطؤه فيكون جرحا وطعنا في ضبطه واتقانه أم الإدراج لبفسير شيء من معنى الحديث ففيه تسامح ولذلك فعله الزهري وغيروا واحد من الأئمة والأولى أن ينص الراوي على بيانه.

أشهر المصنفات
1. الفصل للوصول المدرج في النقل "للخطيب البغدادي"
2. تقريب المنهج بترتيب المدرج "لابن حجر، وهو تلخيص للكتاب الخطيب وزيادة عليه".


الباب الثاني
الحديث المقلوب
تعريف المقلوب
لغة: هو اسم مفعول من "القلب" وهو تحويل الشيء عن وجهه" والمصووف عن وجهه الصحيح قال في المصباح "قلبته قلبا من باب ضرب حولته عن وجهه وكلم مقلوب مصروف عن وجهه، وقلبت الرداء حولته وجعلته أعلاه أسفله"
اصطلاحا إبدال لفظ بأخر في سند الحديث أو متنه بتقديم أو تاخير ونحوه، وفي اصطلاح المحدثين: هو الحديث الذي وقع تغييره في متنه أو في سنده بإبدال أو تقديم وتأخير ونحو ذلك.

أقسامه
ينقسم المقلوب إلى قسمين رئيسين هما:
مقلوب السند، ومقلوب المتن
أ‌. مقلوب السند: هو ما وقع الإبدال في سنده، وله صورتان:
1. أن يقدم الراوي ويؤخر في اسم أحد الرواة واسم أبيه كحديث مروى عن "كعب بن مرة" فيرويه الراوي عن "مرة بن كعب".
2. أن يبدل الراوي شخصا بأخذ بقصد الإغراب، كحديث مشهور عن "سالم" فجعله الراوي عن "نافع" وممن كان يفعل ذلك من الرواة "حماد بن عمرو النصيبي" وهذا مثاله: حديث رواه حماد النصيبي عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة مرفوعا: إذا لقيتم المشركين في طريق فلا تبدأ وهم بالسلام" فهذا حديث مقلوب قلبه حماد، فجعله عن الأعمش، وإنما هو معروفه عن سهل بن أبي صالح عن أبيه عن أبي هريرة، هكذا أخرجه مسلم في صحيحه.
وهذا النوع من القلب هو الذي يطلق على راويه أنه يسرق الحديث.
ب‌. مقلوب المتن: وهو ما وقع الإبدال في متنه وله صورتان أيضا:
1. أن يقدم الراوي ويؤخر في بعض متن الحديث، ومثاله، حديث أبي هريرة عن سالم في السبعة الذين يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله. ففيه: "ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم يمينه ما تنفق شماله".
فهذا مما انقلب على بعض الرواة وإنما هو:
"حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه"


2. أن يجعله الراوي متن هذا الحديث على إسناد أخذ ويجعل إسناده لمتن أخر، وذلك يقصد الامتحان وغيره مثاله: ما فعل أهل بغداد مع الإمام البخاري، إذا قلبوا له مائة حديث وسألوه عنه امتحانا لفظه، فردها على ما كانت عليه قبل القلب ويم يخطئ في واحد منها.

الأسباب الحاملة على القلب
تختلف الأسباب التي تحمل بعض الرواة على القلب، وهذه الأسباب هي.
أ‌. قصد الأغراب ليرغب الناس في رواية حديثه والأخذ عنه
ب‌. قصد الامتحان و التأكيد من حفظ المحدث وتمام ضبطه
د‌. الوقوع في الخطأ والغلط من غير قصد.

حكم القلب
أ‌. إن كان القلب بقصد الإغراب فلا شك في أنه ر يجوز لأن فيه تغييرا للحديث، وهذا من عمل الوضاعين
ب‌. وإن كان يقصد الامتحان، فهو جائز للتثبيت من حفظ المحدث.
ج. وإن كان عن خطأ عن وسهو فلا شك أن فاعله معذور في خطئه لكن إذا كثر ذلك منه فإنه يخل يضبطه، ويجعله ضعيفا
أما الحديث المقلوب فهو من أنواع الضعيف المردود كما هو معلوم.

أشهر المصنفات فيه
1. كتاب "رافع الارتياب في المقلوب من الأسماء والألقاب" للخطيب البغدادي والظاهر من اسم الكتاب أنه خاص بقسم المقلوب الواقع في السند فقط.

الخلاصة والاختصار

• ومن الأخبار المردودة المدرج والمقلوب. وهما منها التي سبب ردها الطعن في الراوي.
• المدرج ما غير سياق اسناده أو أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل
• المدرج قسمان: مدرج الاسناد وهما ما غير إسناده ومدرج المتن وهو ما أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل.
• والإدراج في المتن (ما في أول الحديث وهو قليل وأما في الوسط وهو وهو أقل من الأول وأما في الأخر وهو الغالب.
• ومن أسباب الإدراج المشهورة بيان حكم شرعي واستباط الراوي حكما شرعيا من الحديث قبل أن يتم الحديث وشرح بعض الألفاظ الغرابية فيه
• و يدرك الإدراج بأمور منها وروده منفصلا في رواية أخرى والتنصص عليه من بعض الأئمة المطلعني وإقرار الراوي نفسه أنه أدراج هذا الكلام واستحالة كونه صلى الله عليه وسلم يقول ذلك.
• واتفقوا الجمهور على تحريم الإدراج وغير الاحتجاج به إلا ما كان لتفسير غريب فلا يمنع
• و من الكتب المشهورة في المدرج الفصل للوصل المدرج في النقل وتقريب المنهج بترتيب المدرج.
• والمقلوب ما روى على أجه عن وجهه الصحيح
• شروك تحقيق الحديث المقلوب أثنان من جهة المتن أو من جهة السنة
• وينقسم إلى المقلوب المثنى والمقلوب السنة
• قد قلب المقلوب من قلب الشيء اى تمويل الشيء من جهة
• أن يبدل الراوي شخصا باخر يقصد الإغراب.


والله أعلم بالصواب







الإختتام

وقد تمت هذه المقالة الشاملة بعون الله تعالى ذي الرحمة مع الجهد والتعب، لأننا ليست ممن يتجر في علم الحاسوب. والله لقد صدق القال: "وما اللذات الأبعد التعب" والأن نشعر بثمرة التعب التي هي اللذات، وصلى الله علي حبيبه محمد المصطفى والحمد لله رب العالمين.

ثم قلنا كما قال اخونا العزيز في مقالته
المقالة الشاملة قد كتبنا # مع الشرح والبيان المبينا
اللهم انعفنا بما كتبنا # في ديننا ودنيانا وأخرينا
وان تجد عيبا صوب يا إخوان # فلله الصواب والخطأ لنا
اللهم اجعلنا من حامل القرأن # لفظ ومنعى عملا كل زمان
وقل اللهم يا رب العالمين # افتح قلوبنا فتوح العارفين
فالحمد لله على إيماننا # صلاته على النبي حبيبنا

المراجع والمصادر

1. التعريف بالقران والحديث لمحمد الذ فذق (حقوق الطبع محفوظة للمؤلف. 1955 مــ) ط: 1
2. الوسيط في علوم مصطلح الحديث (الدكتور الشيخ محمد بن محمد أبو شهبة، قاهرة: دار الفكر العربي).
3. الباقونية لأبي
4. منهج ذوي النظر في شرح منظومة الفية علم الأخر للشيخ محمد محفوظ بن عبد الله التمسي (بيروت، دار الفكر. 1421هــ، 2000 مــ)
5. تقريرات منظومة البقيونية للبيهقي (ليربيا-كديري: هداية المبتدئين)
6. القاموس المحيط للإمام مجد الدين محمد بن يعقوب الفيروز ابا دي (بيروت: دار الفكر، 1415هــ - 1990مــ) ط، 1
7. سنن الترمذي لمحمد عيسى الترمذي (بيروت: دار الفكر: 1425-1426 هــ، 2005 مــ)ج: 1
8. تدريب الراوي في شرح تقريب النووي للإمام جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي (بيروت: دار الفكر، 2006مــ)، ط
9. تيسير مصطلح الحديث للدكتور محمد بن أحمد الطحان، (اندونسيا: الحرمين 1985مــ)ط: 7
10. المستدرك على الصحيحين في مقدمته لمحمد مطرجي (بيروت: دار الفكر 2002)ط: 10

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم

خطبة المقالة
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق لقيظهره على الدين كله أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
أما بعد، فإن علم الحديث النبوي الشريف لم يزل من قديم الزمان أشرف العلوم وأجهلها وأنفعها وأبقاها ذكرا وأعظمها أثلاا بعد علم القرأن الكريم الذي هو أصل الدين ومنبع الصراط المستقيم. فإن الاشتغال بالعلم من أفضل الطاعات وأولى ما أنفقت فيه نفائس الأوقات.
فهذه مقالت في الفن علوم مصطلاح الحديث تحت الموضوع الحديث المدرج ومقلوب نقلته من الكتب الكثيرة المعتمدة في هذا الفن. منها منهج ذوي النظر على شرح اليوطي وتيسير مصطلاح الحديث للدكوتور محم الطحان وغيرها لينتفع بها المحتاج من المتعلمين وليكون وسيلة لنجاتي يوم الدين ونفعنا للمسلمين.
فقد سألنا الأستاذ الفاضل العالم مدير المعهد هاشم أشعري العال بروفسور الدكتور جمال الدين ميري ل،س. أن أعمال المقالة هذه لاستفاء بعض شروط الاختبار في المستوى الأول فأجبنه إمراما وتعظيما له سمعا وطاعة ورجاء بركات علومه وطمعا رضا ربه تعالى.
وجعلنا المقالة من مقدمة وفهرس وأبواب وفصول ومباحث وخلاصة وخاتمة وزدت فيها أقوال من تلقاء نفسنا بحسب فهمنا. وإننا نعترف بوحدنا وتقصيرنا في إعطاء هذه المقالة حقها ولا أبرئ نفسنا من الزلل والخطأ. وإن كنا في ذلك قد أصينا فذلك من فضل الله تعالى وإن كنا قد أحطئنا فمن تلقائنا نفسنا والشيطان. فالرجاء ممن يطله فيها على زلة أو خطأ أن ينبهنا عليه مشكورا لعلى متداركه ونستغفر الله ونرجوه أن ينفعنا به الطلبة والمشتغلين وأن يجعله خالصا لوجهه كما قيل:
وإن تجد عيبا صوب يا إخواننا فلله الصواب والخطأ لنا
وقد رجونا أن تكونا المقالة منفعة باركة للطلبة

ربي عليك توكلنا وإليك أنسبنا وإليك المصير. والله نسأل أن يجعل هذه المقالة مقبولة ونفعها دائما وأجرها موصولا وإنه سميع قريب مجيب. وما توفيقنا إلا الله والحمد لله حمدا يوافي نعمه ويكافيء مزيده وصلى الله تبارك وتعالى على سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم ةعلى أله وصحبه وسلم.

تبوئرنج، 01 أبريل 2001مــ.
كتبها ونقلها الفقير إلى رحمة ربه الغنى


أحمد غفران و فريونو السموطران

الفهرس

خطبة المقالة ii
الفهرس iv

الباب الأول : الحديث الدرج
الفصل الأول : في تعريف الإدراج 1
الفصل الثاني : في إقسام الإدراج 2
1. المدرج في المتن 2
2. المدرج في السند 3
الفصل الثالث : حكم الإدراج 4
الفصل الرابع : أشهر المصنفات 5

الباب الثاني : الحديث المقلوب
الفصل الأول : في تعريف المقلوب 6
الفصل الثاني : في إقسام المقلوب 7
الفصل الثالث : الأسباب الحاملة على القلب 8
الفصل الرابع : حكم القلب 9
الفصل الخامس : أشهر المصنفات فيه 10
الخلاصة 11
الإختتام 12

المراجع


الحديث المقلوب والمدرج
كتبها الفقيران إلى رحمة الله :
أحمد غفران وفريونو









(( لاستيفاء شروط الإختبار النهائي في الفصل الأول ))



 
تحت إشراف فضيلة الأستاذ الكريم:
بروفسور الدكتور الحاج جمال الدين ميري, م أ
رقم دفـتر القيد: 825231150
[ حفظه الله تعالى ونفعنا به وبعلومه آمين ]
Lanjuuut..

الحديث المدرج

الباب الأول
الحديث المدرج

التعريف
لغة : اسم مفعول من "أدرج الشيء في الشيء" إذا أدخلته فيه وضمنته إياه.
اصطلاحا : ما غير سياق إسناده أو أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل أي بلا فصل أى بلا فاصل بين المرفوع والمدرج لأن الحديث كان مرفوعاا قبل الإدرارج وسمي بذلك لأنه أدرج في المتن شيء فهو مدرج فيه، كما أنشده صاحب منظومة البيقونية.
المدرجات في الحديث ما أتت من بعض ألفاظ الرواة اتصلت
وفي اصطلاح المحدثين: هو الحديث الذي زيد فيه ما ليس منه في السند أو في المتن ويعرف المدرج بوروده منفصلا في روايته أخرى أو بالنص على ذلك من الراوي أو من بعض الأئمة المطلعين أو باستحالة كونه سلى اللع عليه وسلم يقول ذلك.

أقسامه
ينقسم إلى قسمين (1) مدرج المتن (2) و مدرج السند
1. مدرج المتن
تعريفه: ما أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل اى أن يدخل في حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم شيء من كلام بعض الرواة فيتوهم من يسمع الحديث أن هذا الكلام منه، وقد يكون في أول الحديث، وقد يكون في وسطه وقد يكون في أخره وهو أكثر.
1. أن يكون الإدراج في أول الحديث وهو قليل:
مثاله: ما رواه الخطيب البغدادي من رواية أبي قطن عمرو بن الهشيم وشبابة بن سوار عن شعبة عن محمد بن زياد عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اسبغوا الوضوء ويل للأعقاب من النار، فقوله "أسبغوا الوضوء" مدرج من كلام أبي هريرة وقد بينت ذلك رواية البخاري في صحيحه عن أدم عن شعبة عن محمد بن زياد عن أبي هريرة قال: أسبغوا الوضء: فأن أبا القاسم صلى الله عليه وسلم قال: "ويل للاعقاب من النار" فقد وهم في الأولى أبو قطن، وشبابة عن شعبة وقد رواه الجم الغفير عنه كرواية أدم.
2. أن يكون الإدراج في وسط الحديث، وهو أقل من الأول.
مثاله: ما رواه الدار قطني في السنن من طريق عبد الحميد بن جعفر عن هشام بن عروة عن أبيه عن بسرة بنت صفوان قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: "من مس ذكره أبو أنشيية أو رفيغه فليتوضأ" قال الدار قطني: هكذا رواه عبد الحميد عن هشام ووهم في ذكر الأنيثيين والرفغ وأدرجه كذلك في حديث بسرة، والمحفوظ أن ذلك قول عروة، وكذا رواه الثقات عن هشام منهم: أيوب وحماد بن زيد وغيرهما، ثم رواه من طريق أيوب بلفظ "من مس ذكره فليتوضأ" قال: وكان عروة يقول: إذا مس رفيغه أو أنشبة أو ذكره فليتوضأ وكذا قال الخطيب، فعروة لما فهم من لفظ الخبر أن سبب نقض الوضوء مظنة الشهوة جعل حكم ما قرب من الذكر كذلك، فقال ذلك، فظن بعض الرواة أنه من صلب الخبر فنقله مدرجا فيه، وفهم الأخرون حقيقة الحال ففصلوا.

3. أن يكون الإدراج في أخر الحديث وهو الغالب.
مثاله: مارواه في الصحيح عن أبي هريرة مرفوعا للعبد المملوك أجران، والذي نفسي بيده لولا الجهاد في سبيل الله والحج وبر أمي لأحببت أن أموت وأنا مملوكز
فهذا مما يتبين بادئ الرأي أن قوله: والذي نفسي بيده.....الخ. مدرج من قول أبي هريرة لاستحالة أن يقوله النبي صلى الله عليه وسلم لأن أمه ماتت وهو صغير، لأنه يمتنع منه أن يتمنى الرق وهو أفضل الخلق على الإطلاق.

2. مدرج السند
تعرفه: ما غير سياق اسناده، ومرجعه في الحقيقة إلى المتن.
من صوره : أن يسوق الراوي الإسناد- فيعرض له عارض، فيقول كلاما من قبل نفسه. فيظن بعض من سمعه أن ذلك الكلام هو متن ذلك الاسناد فيرويه عنه كذلك.
مثاله : قصد ثابت بن موسى الذاهب في روايته: "من كثر صلاته باللين حسن وجهه بالنهار" وأصل القصة أن ثابت بن مسى دخل على شريك بن عبد الله القاضي وهو يملي ويقول "حدثنا الأعمش عن ابن سفيان عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وسكت يكتب المستملي فلما نظر إلى ثابت قال: من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار" وقصر بذلك ثابتا لهذه وورعه. فظن ثابت أنه متن ذلك الأسناد فكان يحدث به".

حكم الإدراج
وكل الإدراج بجميع أقسامه محرم بإجماع أهل الحديث والفقه، كذا في التدريب. قال بعضهم لما فيه من التلبيس، وإن كان بعضه أخف من بعض وهو قادح على فاعله. قال ابن السمعاني: من تعمد الإدراج فهو ساقط العدالة ممن بحرف الكل عن مواضعه وهو ملحق بالكاذبين. قال المصنف لشيخ الإسلام وغيره : "وعندي (بفتح الياء) التفسير" اى أن ما أدرج لتفسير غريب قد يسامح ولا يمنع منه، ولذلك فعله الزهري وغيره من الأئمة. قال بعض المحققين: لا يظهر التحريم في مثله لا سيما في المتفق عليه، وقول ابن السمعاني المذكور يحمل على ما عداه، هذا وقد صنف الخطيب في نوع الإدراج كتابا سماه (الفصل للوصول المدرج في النقل) ولخصه الحافظ ابن حجر وزاد عليه نحوه مرتين وأكثر في كتاب سماه (تقريب المنهج بترتيب المدرج).
حكم الإدراج ما كان من الراوي عن عمد فإنه حرام كله على اختلاف أنواعه باتفاق أهل أهل الحديث والفقه والاصول لما يتضمن من التدليس والتبليس وعزوا القول إلى القول إلى غير قائله ونسبة ما ليس من كلام رسول الله إليه.
وأما ما وقع من الراوي خطأ من غير عمد فإن كان قليلا فلا حرج عليه إلا إن كثر خطؤه فيكون جرحا وطعنا في ضبطه واتقانه أم الإدراج لبفسير شيء من معنى الحديث ففيه تسامح ولذلك فعله الزهري وغيروا واحد من الأئمة والأولى أن ينص الراوي على بيانه.

أشهر المصنفات
1. الفصل للوصول المدرج في النقل "للخطيب البغدادي"
2. تقريب المنهج بترتيب المدرج "لابن حجر، وهو تلخيص للكتاب الخطيب وزيادة عليه".


الباب الثاني
الحديث المقلوب
تعريف المقلوب
لغة: هو اسم مفعول من "القلب" وهو تحويل الشيء عن وجهه" والمصووف عن وجهه الصحيح قال في المصباح "قلبته قلبا من باب ضرب حولته عن وجهه وكلم مقلوب مصروف عن وجهه، وقلبت الرداء حولته وجعلته أعلاه أسفله"
اصطلاحا إبدال لفظ بأخر في سند الحديث أو متنه بتقديم أو تاخير ونحوه، وفي اصطلاح المحدثين: هو الحديث الذي وقع تغييره في متنه أو في سنده بإبدال أو تقديم وتأخير ونحو ذلك.

أقسامه
ينقسم المقلوب إلى قسمين رئيسين هما:
مقلوب السند، ومقلوب المتن
أ‌. مقلوب السند: هو ما وقع الإبدال في سنده، وله صورتان:
1. أن يقدم الراوي ويؤخر في اسم أحد الرواة واسم أبيه كحديث مروى عن "كعب بن مرة" فيرويه الراوي عن "مرة بن كعب".
2. أن يبدل الراوي شخصا بأخذ بقصد الإغراب، كحديث مشهور عن "سالم" فجعله الراوي عن "نافع" وممن كان يفعل ذلك من الرواة "حماد بن عمرو النصيبي" وهذا مثاله: حديث رواه حماد النصيبي عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة مرفوعا: إذا لقيتم المشركين في طريق فلا تبدأ وهم بالسلام" فهذا حديث مقلوب قلبه حماد، فجعله عن الأعمش، وإنما هو معروفه عن سهل بن أبي صالح عن أبيه عن أبي هريرة، هكذا أخرجه مسلم في صحيحه.
وهذا النوع من القلب هو الذي يطلق على راويه أنه يسرق الحديث.
ب‌. مقلوب المتن: وهو ما وقع الإبدال في متنه وله صورتان أيضا:
1. أن يقدم الراوي ويؤخر في بعض متن الحديث، ومثاله، حديث أبي هريرة عن سالم في السبعة الذين يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله. ففيه: "ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم يمينه ما تنفق شماله".
فهذا مما انقلب على بعض الرواة وإنما هو:
"حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه"


2. أن يجعله الراوي متن هذا الحديث على إسناد أخذ ويجعل إسناده لمتن أخر، وذلك يقصد الامتحان وغيره مثاله: ما فعل أهل بغداد مع الإمام البخاري، إذا قلبوا له مائة حديث وسألوه عنه امتحانا لفظه، فردها على ما كانت عليه قبل القلب ويم يخطئ في واحد منها.

الأسباب الحاملة على القلب
تختلف الأسباب التي تحمل بعض الرواة على القلب، وهذه الأسباب هي.
أ‌. قصد الأغراب ليرغب الناس في رواية حديثه والأخذ عنه
ب‌. قصد الامتحان و التأكيد من حفظ المحدث وتمام ضبطه
د‌. الوقوع في الخطأ والغلط من غير قصد.

حكم القلب
أ‌. إن كان القلب بقصد الإغراب فلا شك في أنه ر يجوز لأن فيه تغييرا للحديث، وهذا من عمل الوضاعين
ب‌. وإن كان يقصد الامتحان، فهو جائز للتثبيت من حفظ المحدث.
ج. وإن كان عن خطأ عن وسهو فلا شك أن فاعله معذور في خطئه لكن إذا كثر ذلك منه فإنه يخل يضبطه، ويجعله ضعيفا
أما الحديث المقلوب فهو من أنواع الضعيف المردود كما هو معلوم.

أشهر المصنفات فيه
1. كتاب "رافع الارتياب في المقلوب من الأسماء والألقاب" للخطيب البغدادي والظاهر من اسم الكتاب أنه خاص بقسم المقلوب الواقع في السند فقط.

الخلاصة والاختصار

• ومن الأخبار المردودة المدرج والمقلوب. وهما منها التي سبب ردها الطعن في الراوي.
• المدرج ما غير سياق اسناده أو أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل
• المدرج قسمان: مدرج الاسناد وهما ما غير إسناده ومدرج المتن وهو ما أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل.
• والإدراج في المتن (ما في أول الحديث وهو قليل وأما في الوسط وهو وهو أقل من الأول وأما في الأخر وهو الغالب.
• ومن أسباب الإدراج المشهورة بيان حكم شرعي واستباط الراوي حكما شرعيا من الحديث قبل أن يتم الحديث وشرح بعض الألفاظ الغرابية فيه
• و يدرك الإدراج بأمور منها وروده منفصلا في رواية أخرى والتنصص عليه من بعض الأئمة المطلعني وإقرار الراوي نفسه أنه أدراج هذا الكلام واستحالة كونه صلى الله عليه وسلم يقول ذلك.
• واتفقوا الجمهور على تحريم الإدراج وغير الاحتجاج به إلا ما كان لتفسير غريب فلا يمنع
• و من الكتب المشهورة في المدرج الفصل للوصل المدرج في النقل وتقريب المنهج بترتيب المدرج.
• والمقلوب ما روى على أجه عن وجهه الصحيح
• شروك تحقيق الحديث المقلوب أثنان من جهة المتن أو من جهة السنة
• وينقسم إلى المقلوب المثنى والمقلوب السنة
• قد قلب المقلوب من قلب الشيء اى تمويل الشيء من جهة
• أن يبدل الراوي شخصا باخر يقصد الإغراب.


والله أعلم بالصواب







الإختتام

وقد تمت هذه المقالة الشاملة بعون الله تعالى ذي الرحمة مع الجهد والتعب، لأننا ليست ممن يتجر في علم الحاسوب. والله لقد صدق القال: "وما اللذات الأبعد التعب" والأن نشعر بثمرة التعب التي هي اللذات، وصلى الله علي حبيبه محمد المصطفى والحمد لله رب العالمين.

ثم قلنا كما قال اخونا العزيز في مقالته
المقالة الشاملة قد كتبنا # مع الشرح والبيان المبينا
اللهم انعفنا بما كتبنا # في ديننا ودنيانا وأخرينا
وان تجد عيبا صوب يا إخوان # فلله الصواب والخطأ لنا
اللهم اجعلنا من حامل القرأن # لفظ ومنعى عملا كل زمان
وقل اللهم يا رب العالمين # افتح قلوبنا فتوح العارفين
فالحمد لله على إيماننا # صلاته على النبي حبيبنا

المراجع والمصادر

1. التعريف بالقران والحديث لمحمد الذ فذق (حقوق الطبع محفوظة للمؤلف. 1955 مــ) ط: 1
2. الوسيط في علوم مصطلح الحديث (الدكتور الشيخ محمد بن محمد أبو شهبة، قاهرة: دار الفكر العربي).
3. الباقونية لأبي
4. منهج ذوي النظر في شرح منظومة الفية علم الأخر للشيخ محمد محفوظ بن عبد الله التمسي (بيروت، دار الفكر. 1421هــ، 2000 مــ)
5. تقريرات منظومة البقيونية للبيهقي (ليربيا-كديري: هداية المبتدئين)
6. القاموس المحيط للإمام مجد الدين محمد بن يعقوب الفيروز ابا دي (بيروت: دار الفكر، 1415هــ - 1990مــ) ط، 1
7. سنن الترمذي لمحمد عيسى الترمذي (بيروت: دار الفكر: 1425-1426 هــ، 2005 مــ)ج: 1
8. تدريب الراوي في شرح تقريب النووي للإمام جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي (بيروت: دار الفكر، 2006مــ)، ط
9. تيسير مصطلح الحديث للدكتور محمد بن أحمد الطحان، (اندونسيا: الحرمين 1985مــ)ط: 7
10. المستدرك على الصحيحين في مقدمته لمحمد مطرجي (بيروت: دار الفكر 2002)ط: 10

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم

خطبة المقالة
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق لقيظهره على الدين كله أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
أما بعد، فإن علم الحديث النبوي الشريف لم يزل من قديم الزمان أشرف العلوم وأجهلها وأنفعها وأبقاها ذكرا وأعظمها أثلاا بعد علم القرأن الكريم الذي هو أصل الدين ومنبع الصراط المستقيم. فإن الاشتغال بالعلم من أفضل الطاعات وأولى ما أنفقت فيه نفائس الأوقات.
فهذه مقالت في الفن علوم مصطلاح الحديث تحت الموضوع الحديث المدرج ومقلوب نقلته من الكتب الكثيرة المعتمدة في هذا الفن. منها منهج ذوي النظر على شرح اليوطي وتيسير مصطلاح الحديث للدكوتور محم الطحان وغيرها لينتفع بها المحتاج من المتعلمين وليكون وسيلة لنجاتي يوم الدين ونفعنا للمسلمين.
فقد سألنا الأستاذ الفاضل العالم مدير المعهد هاشم أشعري العال بروفسور الدكتور جمال الدين ميري ل،س. أن أعمال المقالة هذه لاستفاء بعض شروط الاختبار في المستوى الأول فأجبنه إمراما وتعظيما له سمعا وطاعة ورجاء بركات علومه وطمعا رضا ربه تعالى.
وجعلنا المقالة من مقدمة وفهرس وأبواب وفصول ومباحث وخلاصة وخاتمة وزدت فيها أقوال من تلقاء نفسنا بحسب فهمنا. وإننا نعترف بوحدنا وتقصيرنا في إعطاء هذه المقالة حقها ولا أبرئ نفسنا من الزلل والخطأ. وإن كنا في ذلك قد أصينا فذلك من فضل الله تعالى وإن كنا قد أحطئنا فمن تلقائنا نفسنا والشيطان. فالرجاء ممن يطله فيها على زلة أو خطأ أن ينبهنا عليه مشكورا لعلى متداركه ونستغفر الله ونرجوه أن ينفعنا به الطلبة والمشتغلين وأن يجعله خالصا لوجهه كما قيل:
وإن تجد عيبا صوب يا إخواننا فلله الصواب والخطأ لنا
وقد رجونا أن تكونا المقالة منفعة باركة للطلبة

ربي عليك توكلنا وإليك أنسبنا وإليك المصير. والله نسأل أن يجعل هذه المقالة مقبولة ونفعها دائما وأجرها موصولا وإنه سميع قريب مجيب. وما توفيقنا إلا الله والحمد لله حمدا يوافي نعمه ويكافيء مزيده وصلى الله تبارك وتعالى على سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم ةعلى أله وصحبه وسلم.

تبوئرنج، 01 أبريل 2001مــ.
كتبها ونقلها الفقير إلى رحمة ربه الغنى


أحمد غفران و فريونو السموطران

الفهرس

خطبة المقالة ii
الفهرس iv

الباب الأول : الحديث الدرج
الفصل الأول : في تعريف الإدراج 1
الفصل الثاني : في إقسام الإدراج 2
1. المدرج في المتن 2
2. المدرج في السند 3
الفصل الثالث : حكم الإدراج 4
الفصل الرابع : أشهر المصنفات 5

الباب الثاني : الحديث المقلوب
الفصل الأول : في تعريف المقلوب 6
الفصل الثاني : في إقسام المقلوب 7
الفصل الثالث : الأسباب الحاملة على القلب 8
الفصل الرابع : حكم القلب 9
الفصل الخامس : أشهر المصنفات فيه 10
الخلاصة 11
الإختتام 12

المراجع


الحديث المقلوب والمدرج
كتبها الفقيران إلى رحمة الله :
أحمد غفران وفريونو









(( لاستيفاء شروط الإختبار النهائي في الفصل الأول ))



 
تحت إشراف فضيلة الأستاذ الكريم:
بروفسور الدكتور الحاج جمال الدين ميري, م أ
رقم دفـتر القيد: 825231150
[ حفظه الله تعالى ونفعنا به وبعلومه آمين ]
Lanjuuut..

POSISI KITAB AL-UMM DALAM KUTUB AL-TIS’AH

POSISI KITAB AL-UMM DALAM KUTUB AL-TIS’AH


Al-Syafi’i tidak hanya berperan dalam bidang fiqh dan ushul fiqh saja, tetapi ia juga berperan dalam bidang hadits dan ilmu hadits. Salah satu kitab hadits yang masyhur pada abad ke-dua hijriyah adalah kitab Musnad al-Syafi’i. Kitab ini tidak disusun oleh al-Syafi’i sendiri, melainkan oleh pengikutnya yaitu al-A’sam yang menerima riwayat dari Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, dari al-Syafi’i. Hadits-hadits yang terdapat dalam Musnad al-Syafi’i merupakan kumpulan dari hadits-hadits yang terdapat dalam kitabnya yang lain yaitu al-Umm. Dalam bab jual beli misalnya, terdapat 48 buah hadits.
Dengan kegigihannya dalam membela hadits Nabi sebagai hujjah, al-Syafi’i berhasil menegakkan otoritas hadits dan menjelaskan kedudukan serta fungsi hadits Nabi secara jelas dengan alasan-alasan yang mapan. Dengan pembelaannya itu, ia memperoleh pengakuan darimas sebagai Nasir al-Sunnah. Bahkan ia dipandang sebagai ahli hukum Islam pertama yang berhasil merumuskan konsep ilmu hadits.
Hadits Nabi menurut al-Syafi’i bersifat mengikat dan harus ditaati sebagai-mana Al-Qur'an. Walaupun hadits itu adalah hadits ahad. Bagi ulama sebelumnya, konsep hadits tidak harus disandarkan kepada Nabi. Pendapat sahabat, fatwa tabi’in serta ijma’ ahli Madinah dapat dimasukkan sebagai hadits. Bagi al-Syafi’i, pendapat sahabat dan fatwa tabi’in hanya bisa diterima sebagai dasar hukum sekunder, dan bukan sebagai sumber primer. Adapun hadits yang bisa diterima sebagai dasar hukum primer adalah yang datang dari Nabi.
Dari sisi lain al-Syafi’i juga dipandang sebagai perintis dalam perumusan kaidah-kaidah ilmu hadits. Dalam kitab al-Risalah terdapat banyak rumusan-rumusan yang berkaitan dengan ilmu hadits tersebut. Terutama persyaratan para periwayat dan hal-hal yang berkaitan dengan hadits-hadits yang pada lahirnya tampak bertentangan. Bahasan-bahasan al-Syafi’i iin masih relevan dan dapat dijadikan rujukan.
Meskipun demikian, kitab Musnad al-Syafi’i tidaklah termasuk dalam sembilan kitab sumber hadits standar. Para ulama menyepakati lima buah kitab sebagai kitab sumber pokok yang dikenal dengan Kutub al-khamsah, yaitu : Sahih al-Bukhari, Sahih al-Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Nasa-i, dan Sunan al-Tirmidzi. Ada sebuah kitab lagi yang oleh ulama dimasukkan sebagai kitab standar dalam urutan yang keenam, namun para ulama tidak sependapat tentang nama kitab standar yang menempati urutan keenam ini. Menurut Ibn Tahir al-Maqdisi, kitab tersebut adalah Sunan Ibn Majah, menurut Ibn Asir, kitab keenamnya adalah al-Muwatta’, sedangkan menurut pendapat Ibn Hajar al-‘Asqalani kitab keenamnya adalah Sunan al-Darimi.
Di antara ulama ada yang menambah lagi sebuah kitab hadits sebagai kitab pokok, kitab hadits tersebut adalah kitab Musnad Ahmad bin Hanbal. Sehingga dengan demikian secara kumulatif dari berbagai pendapat ulama terdapat sembilan kitab sumber hadits, yaitu : Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibn Majah, al-Muwatta’, Sunan al-Darimi dan Musnad Ibn Hanbal.
Dalam kitab al-Umm, al-Syafi’i banyak menggunakan hadits-hadits Nabi sebagai landasan baginya dalam mengambil istinbat hukum. Sebagai seorang ulama yang diberi gelar Nasir al-Sunnah, sudah barang tntu al-Syafi’i telah melakukan penyaringan terhadap hadits-hadits yang ia pakai. Oleh karenanya merupakan suatu yang menarik untuk diteliti tentang kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh al-Syafi’i. Terlebih lagi kaidah-kaidah dan dasar-dasar pensahihan dan pendlaifan hadits itu sifatnya relatif. Nilai kebenarannya lebih banyak ditentukan oleh hasil ijtihad ulama yang bersangkutan. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bila hasil ijtihad ulam hhadits dalam rangka menilai suatu hadits berbeda dengan hasil ijtihad ulama yang lain. Pengkajian ulang terhadap hadits-hadits yang terdapat dalam kitab al-Umm dapat dinilai positif atau mungkin negatif. Dengan pengkajian itu mungkin saja akan ditemukan hadits-hadits yang tidak mencapai standar hadits sahih.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa al-Syafi’i yang selama ini terkenal dengan ahli fiqh ternyata juga mempunyai perhatian yang serius terhadap hadits/sunnah. Oleh karena itu, sosok imam al-Syafi’i dalam hal ini dikenal dengan Nasir al-Sunnah. Di dalam kitabnya al-Risalah ditemukan tentang syarat-syarat periwayatan hadits apa yang dilakukan al-Syafi’i hanya sebatas sebagai rintisan awal dan dikembangkan oleh ulama sesudahnya. Di samping itu, juga ditemukan kitab hadits yang dinisbatkan pada al-Syafi’i adalah Musnad al-Syafi’i yang ditulis oleh muridnya. Walaupun tidak masuk dalam kitab standar yang dibakukan oleh ulama hadits, hadits-hadits yang termuat dala kitab tersebut paling tidak berstandar sahih menurut kacamata al-Syafi’i. Sedangkan dalam kitab al-Umm terdapat sejumlah hadits yang dijadikan rujukan istinbatnya yang merujuk pada pemikirannya tentang hadits. Penelitian tentang hadits-hadits dalam kitab tersebut perlu dilakukan.


DAFTAR PUSTAKA


Ismail, Syuhudi. Pengantar Ilmu Hadits, Bandung : Angkasa, 1994.
Al-Kattani. Al-Risalah al-Mustatrafah. Karachi : Nur Muhammad, 1960.
Muchtar, Abdul Chaliq, Indal Abror, Agung Danarta, dan Muhammad Yusuf, Hadits-Hadits dalam Kitab al-Umm al-Syafi’i. Penelitian Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, 1999.
As-Shiddieqy, Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta : Bulan Bintang, 1989.
al-Syafi’i, Muhammad ibn Idris. Al-Umm, ttp. tt. VII.
Al-Tahanawi. Qawa’id fi Ulum al-Hadits. Beirut : Maktab al-Nahdah, 1972
Lanjuuut..
 
Support : Creating Website | Fais | Tbi.Jmb
Copyright © 2011. Moh. Faishol Amir Tbi - All Rights Reserved
by Creating Website Published by Faishol AM
Proudly powered by Blogger